Saturday, September 02, 2006

Sahur & Buka Puasa Bersama Rasulullah Shalallahu 'alaihi wa Salam

Penulis : Ust. Muhammad Afifuddin As Sidawy

I. WAKTU PUASA

Kapan dimulai puasa ? Dan kapan berakhir? Hal ini telah diterangkan secara global oleh Allah I dalam firman-Nya :

وَكُلُوا وَاشْرَبُوا حَتَّى يَتَبَيَّنَ لَكُمُ الْخَيْطُ الْأَبْيَضُ مِنَ الْخَيْطِ الْأَسْوَدِ مِنَ الْفَجْرِ ثُمَّ أَتِمُّوا الصِّيَامَ إِلَى اللَّيْلِ

“ dan makan minumlah hingga terang bagimu benang putih dari benang hitam, yaitu fajar. Kemudian sempurnakanlah puasa itu sampai (datang) malam” (Al Baqoroh : 187)

Dalam Shohih Al-Bukhory (1917) dan Muslim (1091/35) dari jalan Abu Hazim Salamah bin Dinar dari Sahl bin Sa’d t beliau menjelaskan : “ Tatkala ayat ini turun, bila ada seseorang yang hendak puasa, dia mengikat di kedua kakinya tali hitam dan tali putih, lalu dia terus saja makan dan minum hingga jelas nampak baginya pemandangan (dua tali tadi).

Maka Allah I turunkan setelah itu (مِنَ الْفَجْرِ ) merekapun tahu bahwa yang dimaksud adalah malam dan siang.”

Juga disebutkan dalam Shohih Al-Bukhory (1916) dan Muslim (1090) dari jalan ‘Amir bin Syurohbil As-Sya’by dari Ady bin Hatim t, beliau menguraikan : “ Tatkala turun ayat ini, saya mengambil ikatan hitam dan ikatan putih lalu saya letakkan di bawah bantalku, saya lihat di malam hari namun tidak nampak bagiku, saya pun pergi di pagi hari menuju Rosulullah r , lalu saya ceritakan hal tersebut kepada Beliau r , maka Beliau r bersabda

"إِنَّمَا ذَالِكَ سَوَادُ اللَّيْلِ وَ بَيَاضُ النَّهَارِ "

“ yang dimaksud adalah kegelapan malam dan putihnya( terangnya ) siang”

Al-Imam Al-Hafizh Ahmad bin Ali bin Hajar Al-‘Asqolany رحمه الله , salah seorang Imam besar dari Madzhab Syafi’iy, wafat tahun 852 H. Dalam Kitabnya Fathul Bari Syarh Shohih Al-Bukhory 4/633 cet. Daarul Fikr, Bairut-Libanon tahun 1416H/1996 M. Menjelaskan : “ Makna ayat ini adalah : Hingga nampak jelas putihnya siang dari hitamnya malam, kejelasan ini dicapai dengan terbitnya fajar shodiq.”

Silahkan periksa keterangan senada dari Al-Imam Asy-Syaukany Muhammad bin Ali bin Muhammad. Wafat tahun 1250 H. Seorang Imam besar dari Yaman, dalam tafsir beliau Fathul Qodir (1/339 cet. Daarul Wafa’-AL-manshurih-Mesir th 1418 H/1997 M).

II. FAJAR KADZIB DAN FAJAR SHODIQ

Ayat dan hadits di atas menjelaskan kepada kita secara gamblang batas akhir waktu shahur dan dimulainya waktu puasa. Yaitu dengan terbitnya fajar shodiq sebagaimana yang dijelaskan oleh Al-Hafizh Ibnu Hajar dan Al-Imam Asy-Syaukany.

Dengan terbitnya fajar shodiq, masuknya waktu sholat shubuh, dimulainya waktu puasa dan berakhirnya waktu sahur.

Lalu bagaimana dan apa fajar kadzib dan fajar shodiq itu? Masalah ini telah dibahas oleh kakanda tercinta Al-Akh Agus Su’aidi dalam tulisannya “PEDOMAN WAKTU SHOLAT ABADI SESUAI PETUNJUK NABI r ”. Silakan merujuk ke sana.

Sementara itu, penjelasan Al-Hafizh Ibnu Hajar di atas ditopang oleh banyak hadits dari Rosulullah r . Diantaranya :

1. Dari ‘Aisyah dia berkata : Bahwasanya Bilal biasa adzan pada waktu malam, maka Rosulullah r bersabda :

كُلُوْا وَاشْرَبُوْا حَتَى يُؤَذِّنُ إِبْنُ أُمِّ مَكْتُمٍ فَإِنَّهُ لاَيُؤْذَنُ حَتَى يَطْلَعَ الفَجْرُ

“ Makan dan minumlah kalian hingga Ibnu Ummi Maktum adzan, sebab dia tidak adzan hingga terbit fajar.” ( HR. Al-Bukhory [1918-1919] dan Muslim [1092/387] )

Hadits ini juga datang dari shohabat Ibnu Umar رضي الله عنهما pada refrensi yang sama.

Yang dimaksud dengan tebit fajar di sini adalah fajar shodiq bukan fajar kadzib, sebagaimana yang diterangkan dalam hadits Ibnu Mas’ud . Lihat Shohih Muslim no: 1093.

Al Imam Yahya bin Syaraf An-Nawawy رحمه الله , wafat tahun 677 H, seorang alim besar Madzhab Syafi’iy, dalam kitabnya Syarh Shohih Muslim (7/176 cet. Daarul Kutub Al-Ilmiyah-Libanon tahun 1415 H/1995 M). Menjelaskan : “Hadits ini menunjukkan kebolehan makan, minum, jima’(hubungan suami-istri) dan segala sesuatu, hingga terbit fajar.”

2. Dari Samuroh bin Jundub : Bahwa Rosulullah r bersabda :

لاَ يَغُرَّنَّ أَحَدَكُمْ نِدَاءُ بِلَالٍ مِنَ السَّحُورِ وَلاَ هَذَا الْبَيَاضُ حَتَّى يَسْتَطِيرَ

“Janganlah menipu kalian untuk sahur adzan Bilal ataupun cahaya putih ini (fajar kadzib) hingga dia menyebar (fajar shodiq) “ (HR. Muslim no. 1094).

Bila keterangan di atas dapat difahami bersama, maka berikut ini saya bawakan beberapa permasalahan seputar sahur :

III. KEUTAMAAN MAKAN SAHUR

Makan Sahur memiliki banyak keutamaan diantaranya :

1.Makan Sahur adalah barokah.

Dalam Shohih Al-Bukhory (1923) dan Muslim (1095) dari jalan Abdul Aziz bin Shuhaib dari Anas bin Malik t , Rosulullah r bersabda :

تَسَحَّرُوْا فَإِنَّ فِي السَّحُوْرِ بَرَكَةً

“ Makan sahurlah kalian, karena Makan Sahur di dalamnya ada barokah”

Para ‘Ulama memperbincangkan makna barokah pada Makan Sahur.

Al-Hafizh Ibnu Hajar menegaskan : “Pendapat yang tepat adalah bahwa barokah pada Makan Sahur dapat dicapai dari banyak sisi yaitu Mengikuti Sunnah, Menyelisihi Ahli Kitab, Memperkuat Diri dengan sahur untuk ibadah, Menambah Semangat, Mencegah Akhlak Jelek yang ditimbulkan oleh kelaparan, Menyebabkan adanya Amalan Shodaqoh kepada orang yang meminta pada waktu itu atau makan bersamanya, Menyebabkan adanya Amalan Dzikir dan Do’a di waktu maqbulnya do’a, Mengoreksi Niat Puasa bagi yang lupa sebelum tidur.” (Fathul Bari, 4/693)

2. Menyelisihi Ahli Kitab

Dalam Shohih Muslim (1096) dari hadits ‘Amr bin Al-‘Ash t bahwa Rosulullah r bersabda :

فَصَلُ مَا بَيْنَ صِيَامِنَا وَ صِيَامِ أَهْلِ الكِتَابِ أَكْلَةُ السَحْرِ

“Perbedaan antara puasa kita dan puasa Ahli Kitab adalah Makan Sahur“

IV. HUKUM MAKAN SAHUR

Telah lewat hadits Anas t di atas yang menunjukkan perintah Makan Sahur, sementara hukum asal perintah adalah wajib namun telah dinukil kesepakatan para ‘Ulama tentang Sunnahnya Makan Sahur. Dinukil oleh Ibnu Mundzir sebagaimana dalam Fathul Bari (4/639) dan Al-Imam An-Nawawy dalam Syarah Shohih Muslim (7/179).

Yang merubah hukum wajib menjadi Sunnah adalah riwayat yang menjelaskan bahwa Nabi r penah berpuasa Wishol, lihat Shohih Bukhory (1922).

Makan Sahur dikatakan sah dengan memakan sesuatu apapun walau hanya meminum seteguk air.

V. WAKTU SAHUR

Ayat Surah Al-Baqoroh yang telah lewat di atas menunjukkan bahwa sahur bisa dilakukan kapan saja pada waktu malam, yang penting tidak melebihi fajar shodiq, namun telah datang banyak riwayat yang menganjurkan makan sahur hingga mendekati fajar shodiq diantaranya adalah:

1. Dari Sahl bin Sa’ad dia berkata : “saya makan sahur dengan keluargaku, lalu saya bersegera untuk mendapat sujud (sholat fajar) bersama Rasulullah r “. (HR Bukhory no. 1920)

“Yang dimaksud oleh Sahl bin Sa’ad adalah karena sahurnya sangat dekat dangan tebitnya fajar(shodiq), maka dia bersegera dalam sahur dan hampir tidak mendapatkan sholat subuh bersama Rasulullah r karena Beliau r memulai sholat subuh pada waktu gholas (diawal waktu).”

Demikian diterangkan Al Qodhi ‘Iyad Al Maliky sebagaimana yang dinukil oleh Al Hafizh Ibnu Hajar dalam Fathul Bari 4/67

2. Dari Zaid bin Tsabit t beliau berkata : “kami pernah sahur bersama Nabi r kemudian Beliau bangkit untuk sholat” saya (Anas bin Malik ) bertanya : berapa jarak antara adzan dan waktu sahur? Dia jawab : “seukuran lima puluh ayat” (HR Bukhory no. 1921)

Hadits-hadits di atas dijadikan dalil oleh para ‘Ulama untuk menunjukkan Sunnahnya mengakhirkan sahur hingga mendekati terbit fajar.

Berikut ini akan kami bawakan perkataan ‘Ulama dahulu maupun sekarang tentang hal ini sebagai gambaran jelas bagi kaum muslimin bahwa masalah ini telah diterangkan dan dipraktekkan oleh mereka :

Ø Al Imam As-Syafi’iy

“saya menganjurkan sahur diakhirkan selama tidak mendekati waktu yang ditakutkan telah terbit fajar, sebab (bila terbit fajar) saya menyukai sahur di stop pada saat itu…” (Al-Umm, 2/106 cet.1 Daarul Fikr tahun 1422 H/2002 M)

Ø Al Imam Ahmad bin Hambal ta’ala

“menakjubkan diriku mengakhirkan sahur karena hadits yang diriwayatkan oleh Zaid bin Tsabit …” , lalu beliau membawakan hadits Zaid di atas.

(lihat Asy-Syarhul Kabir 4/220 cet. 1 Daarul Hadits Cairo tahun 1416 H/1996 M dan Al Mughni karya Ibnu Qudamah 4/251 cet. sama )

Ø Al Imam Ibnu Hazm Al Andalusy wafat Th 456 H

“Termasuk Sunnah menyegerakan buka puasa dan mengakhirkan sahur…” (lihat : Al Muhalla 6/240. cet. Daarul Afaq – Al Jadidah, Beirut tanpa tahun)

Ø Al Imam Nawawy

“di dalam hadits ini (hadits Zaid) ada anjuran mengakhirkan waktu sahur sampai waktu fajar. ” (Syarah Shohih Muslim, 7/180)

Bahkan beliau menukilkan kesepakatan Madzhab Syafi’iy dan para ‘Ulama lain tentang hal ini : “madzhab kami dan yang lainnya dari kalangan para ‘Ulama telah sepakat bahwa sahur adalah Sunnah dan mengakhirkannya adalah lebih utama. ” (lihat : Al Majmu’ Syarhul Muhadzab 6/621 cet : 1 Daarul ihya’ ut turots al ‘araby Beirut th 1422 H/2001 M)

Ø Al Imam Ibnu Qudamah Al Maqdisy wafat th 630 H.

“Yang terpilih adalah mengakhirkan sahur dan menyegerakan buka puasa” (Al-Mughni, 4/251)

Ø Al Imam Ibnu Qudamah wafat th 682 H

“dianjurkan menyegerakan buka puasa dan mengakhirkan sahur” (As-Syarhul Kabir, 4/219)

Ø Imam Ibnu Katsir wafat 774 H

“Dianjurkan mengakhirkan sahur hingga waktu terbitnya fajar”(lihat Tafsir Ibnu Katsir, 1/228 cet.10, Daarul Ma’rifah-Bairut tahun 1418 H/1997 M)

Ø Al-Hafizh Ibnu Hajar wafat tahun 852 H.

“Hadits ini(hadits Zaid) ada penjelasan tentang mengakhirkan sahur, sebab hal ini tersebut lebih mencapai maksud (puasa)” (Fathul Bari, 4/638)

Ø Al Imam Syaukani wafat th 1255 H

“Di sini ada dalil yang menunjukkan di syari’atkan mengakhirkan sahur dan telah lewat penjelasan Ibnu Abdil Barr, bahwa hadits yang mengakhirkan sahur adalah shohih lagi mutawatir. ” (lihat Nailul Author 4/303 cet. 4 Daarul Fikr, tanpa tahun).

Dan beliau berpendapat bahwa hal ini adalah Sunnah, sebagaimana dalam kitab beliau (Ad-Darory Al-Mudliyah 1/379 Cet. 4, Maktabah Al-Irsyad-Shon’a-Yaman tahun 1421 H/2001M).

Ø Al Imam Al ‘Allamah Muhammad bin Sholih Al Utsaimin wafat 1421 H/2001 M

“Yang Sunnah adalah mengakhirkan sahur selama tidak khawatir terbit fajar, karena hal ini adalah perbuatan Nabi r

(Lihat Majalis Syahri Romadlon hal 124 cet.1, Maktabah Al-Irsyad-Shon’a-Yaman tahun 1421 H/1996 M”).

Periksa juga penjelasan beliau lebih panjang dalam karya besar beliau (As-Syarhul Mumti’ 3/80-81 cet. Daarul Atsar, Mesir, tanpa tahun)

Ø Al Imam Al Alamah Muqbil bin Hadi wafat 1421 H/2001 M

“Sahur lebih afdhol di akhirkan sampai menjelang fajar kira-kira 60 ayat ...” (Ijabatus Sail hal 165 cet. 1 Daarul Hadits-Dammaj tahun 1416 H/1995 M)

Ø Al Imam Syaikh Abdullah Aalu Bassam (murid Imam As Sa’dy, sezaman dengan Syaikh Al Utsaimin)

“Hadits-hadits yang memerintahkan dan menganjurkan sahur, mengakhirkan waktunya, menyegerakan berbuka adalah mutawatir, sebagaimana yang dihikayatkan oleh At-Thohawy dan yang lainnya” (Taudlihul Ahkam 3/156 cet. Daarul Qiblah tanpa tahun).

Dalam karya beliau yang lain Taisirul Allam ( 2/38 cet. 7 Daarul Fikr tahun 1407 H/1987 M). Tatkala menyebutkan hadits Zaid bin Tsabit di atas beliau menyebutkan faedahnya di antaranya : “Keutamaan mengakhirkan sahur hingga menjelang fajar”.

Ø Al Imam ibnu Daqiq Al-Ied wafat 702 H

“Dalam hadits ini (hadits Zaid) ada dalil yang menunjukkan anjuran mengakhirkan sahur dan mendekatkannya pada fajar”. (Ihkamul Ahkam 2/163 cet. 1 Daarul Kutub Al-Ilmiyah-Bairut tahun 1420 M/2000 M).

Ø Syaikh Ali Hasan dan Syaikh Salim Al Hilaly wafaqohumullah (murid ahli hadits zaman ini Al Imam Nasiruddin Al Albany )

“Dianjurkan mengakhirkan sahur hingga menjelang fajar ...” (Sifat Shoum An-Nabi hal : 46 cet. 5 Maktabah Islamiyah, tahun 1412 H).

Demikian sedikit nukilan dari para ‘Ulama dahulu maupun sekarang, cukuplah bagi kaum muslimin mengambil hadits Zaid bin Tsabit sebagai pedoman dalam masalah dengan nukilan Ijma’ dari imam terkenal madzab Syafi’iy, yaitu Imam An-Nawawy رحمه الله .

VI. BATAS AKHIR SAHUR

Untuk lebih menjelaskan tentang masalah ini, akan saya nukilkan -bi Idznillah- khilaf para ‘Ulama tentang akhir batas sahur, sebagai gambaran bagi kaum muslimin bahwa mereka mengakhirkan sahur tanpa mengenal istilah IMSAK yang ada di zaman sekarang.

Perbedaan pendapat para ‘Ulama dalam masalah batas akhir sahur, adalah sebagai berikut :

1. Jumhur ‘Ulama berpendapat, bahwa batas akhir sahur adalah terbitnya fajar shodiq. Dalil mereka adalah ayat dan hadits yang telah disebutkan di atas.

2. Sebagian Salaf membolehkan sahur hingga cahaya putih telah tersebar di atap-atap rumah dan gang-gang desa.

Pendapat ini diriwayatkan dari Abu Bakr, Umar, Ali, Ibnu Mas’ud, Hudzaifah, Abu Hurairah, Ibnu Umar, Ibnu Abbas, Zaid bin Tsabit y .

Juga diriwayatkan dari sebagian tabi’in rohimahumullah jami’an, diantaranya : Muhammad bin Ali bin Al-Husain, Abu Mijlaz, Ibrohim An-Nakho’iy, Abu Dluha, Abu Wa’il, dan yang lainnya dari murid-murid Ibnu Mas’ud, Atho’, Al-Hasan Al-Basry, Al-Hakam bin ‘Uyainah, Mujahid, ‘Urwah bin Zubair, Abu Sya’tsa Jabir bin Zaid dan ini adalah pendapat Al-A’masy dan Jabir bin Rosyid.

3. Al-Imam Ibnul ‘Aroby Abu Bakr Al-Maliky , berpendapat, tentang keharusan menahan diri dari larangan-larangan puasa bila telah mendekati fajar shodiq. Sebagaimana dalam tafsirnya Ahkamul Qur’an, 1/105 cet. 1 Daarul ihyaut turots al-aroby-Bairut tahun 1421 H/2001 M

Pendapat beliau ini disitir oleh ibnu Rusyd dalam Bidayatul Mujtahid, 1/211 cet. Daarul Ihyaul Kutub Al-Arobiyah tanpa tahun. Dengan shighot tamridl ( قيل ) untuk menunjukkan kelemahannya dan beliau memberikan alasan bahwa pendapat ini hanya berdasarkan kehati-hatian.

4. Ibnu Jarir At-Thobary , menukilkan dari sebagian orang yang berpendapat bahwa akhir waktu sahur adalah terbitnya matahari.

Pendapat ini disanggah oleh Ibnu Katsir dalam tafsirnya 1/228-229 karena menyelisihi ayat di atas.

Pendapat yang shohih tanpa syak lagi adalah pendapat Jumhur ‘Ulama dahulu maupun sekarang karena kuatnya argumentasi mereka yang berdasarkan ayat dan hadits-hadits diatas.

Adapun yang diriwayatkan sebagian sahabat dan tabi’in di atas. Maka yang dimaksud adalah mereka bersahur hingga merasa yakin fajar telah terbit, demikianlah dijelaskan oleh Imam An-Nasa’i, Ibnu Katsir, dan para ‘Ulama lainnya, sehingga pendapat ini tidak bertentangan dengan pendapat pertama. Lihat Tafsir Ibnu Katsir, 1/228.

Adapun pendapat yang selain ini. Maka tidak perlu ditoleh karena tidak berdasar pada dalil yang jelas dari Al-Qur’an dan As-Sunnah.

VII. BILA MERAGUKAN TERBITNYA FAJAR

Untuk lebih menjelaskan lagi, bahwa sahur lebih afdlol diakhirkan dan batas waktu akhir adalah terbit fajar, adanya sebagian ‘Ulama yang membolehkan makan dan minum bila dia masih meragukan terbitnya fajar shodiq.

Ini adalah pendapat Ibnu Abbas, Atho’, Al-Auza’y, Imam As-Syafi’iy , dan Imam Ahmad bin Hambal rohimahumullah . Mereka berpegangan dengan ayat :

حَتَّى يَتَبَيَّنَ لَكُمُ الْخَيْطُ الْأَبْيَضُ مِنَ الْخَيْطِ الْأَسْوَدِ مِنَ الْفَجْرِ

“hingga terang bagimu benang putih dari benang hitam, yaitu fajar” (Al Baqoroh : 187 )

VIII. BID’AHNYA IMSAK MASA KINI

Bila penjelasan di atas telah dipahami, maka dengan mudah dan ilmiyah kita dapat menghukumi bid’ahnya IMSAK di zaman sekarang ini, dimana ada sebagian faham sempalan yang menentukan waktu IMSAK jauh sebelum fajar shodiq muncul.

Untuk lebih membuktikan lebih akurat lagi tentang hal ini, maka saya jelaskan hal-hal penting yang merupakan prinsip Islam sebagai berikut :

1. Berpuasa adalah ibadah, bahkan termasuk rukun Islam. Untuk itulah Allah mewajibkannya dan memberi pahala orang yang melaksanakannya serta mengancam orang-orang yang meninggalkannya.

Hal ini adalah perkara yang telah di maklumi oleh segenap kaum Muslimin. Allah I berfirman :

يَاأَيُّهَا الَّذِينَ ءَامَنُوا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِينَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ

“Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan

atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa, ” (Al Baqoroh : 183)

2. Sementara ibadah itu tidak akan diterima oleh Allah I melainkan bila terpenuhi dua syarat :

a. Ikhlas

Yaitu mempersembahkan Ibadah tadi hanya untuk Allah I semata dan tidak boleh untuk yang selain-Nya. Allah I berfirman :

وَمَا أُمِرُوا إِلَّا لِيَعْبُدُوا اللَّهَ مُخْلِصِينَ لَهُ الدِّينَ حُنَفَاءَ

“Padahal mereka tidak disuruh kecuali supaya menyembah Allah dengan memurnikan keta`atan kepada-Nya dalam (menjalankan) agama dengan lurus” (Al Bayyinah : 5)

Bila syarat ini hilang, maka orang itu terjatuh pada perbuatan syirik yang menghapus amalannya, firman Allah I :

لَئِنْ أَشْرَكْتَ لَيَحْبَطَنَّ عَمَلُكَ وَلَتَكُونَنَّ مِنَ الْخَاسِرِينَ

“Jika kamu mempersekutukan (Tuhan), niscaya akan hapuslah amalmu dan tentulah kamu termasuk orang-orang yang merugi” (Az Zumar : 65)

b. Mengikuti dan sesuai dengan Sunnah Rosulullah r baik dalam hal kaifiyah (tata cara), waktu, tempat, dan yang lainnya. Allah I berfirman :

وَمَا ءَاتَاكُمُ الرَّسُولُ فَخُذُوهُ وَمَا نَهَاكُمْ عَنْهُ فَانْتَهُوا

“Apa yang diberikan Rasul kepadamu maka terimalah dia. Dan apa yang dilarangnya bagimu maka tinggalkanlah “ (Al Hasyr : 7)

Bila syarat ini hilang, maka diapun terjatuh pada Perbuatan Bid’ah. Sabda Rosul r :

مَنْ عَمِلَ عَمَلاً لَيْسَ عَلَيْهِ أَمْرُنَا فَهُوَ رَدًّ [رواه مسلم عن عائشة]

“ Siapa saja yang melakukan suatu amalan yang bukan dari kami maka dia tertolak”

Dari sinilah, para ‘Ulama menetapkan suatu kaidah yaitu “hukum asal ibadah adalah haram hingga ada dalil (Al-Kitab dan Sunnah) yang mensyari’atkannya”

Dengan demikian jelaslah, bahwa Imsak adalah bid’ah mungkaroh yang harus dilenyapkan oleh kaum muslimin dari bumi pertiwi ini, sebab imsak tidak dilandasi oleh dalil dan banyak menimbulkan kesalahan-kesalahn fatal dalam agama seseorang.

Berikut ini saya bawakan penjelasan para ‘Ulama tentang masalah ini agar kaum muslimin merasa mantap dan yakin akan kebid’ahan Imsak.

· Al-Imam Al-Muhaddits Muhammad Nashiruddin Al-Albany .

“Faidah : Ketahuilah! Bahwa tidak ada pertentangan antara pensifatan Beliau r terhadap fajar shodiq dengan “Warna Merah” dan pensifatan Allah I terhadapnya dengan firman-Nya I “Tali Putih” sebab yang dimaksud adalah –wallahu a’lam- : Cahaya putih bercampur merah atau terkadang bercahaya putih dan terkadang bercahaya merah, sesuai dengan perbedaan Mathla’.

Hal ini saya lihat sendiri bekali-kali dari rumah saya di Jabal Hamlan sebelah timur Omman. Sehingga hal ini mempekuat keyakinan saya akan kebenaran berita yang disampaikan oleh sebagian orang yang sangat berkeinginan membetulkan ibadah kaum muslimin bahwa adzan fajar disebagian negara-negara arab diawalkan sebelum fajar shodiq antara 20 –30 Menit yaitu sebelum fajar kadzib juga!?

Saya seringkali mendengar Iqomat sholat fajar dari sebagian mesjid bersamaan dengan terbitnya fajar shodiq, mereka adzan setengah jam sebelumnya. Akibatnya, mereka sholat sunnah fajar sebelum waktunya, mereka terkadang pada bulan Romadhon menyegerakan pelaksanaan sholat fardu sebelum waktunya, sebagaimana yang saya dengar di radio DAMASKUS saat saya sedang makan sahur Romodhon tahun lalu ( 1406 H).

Ini semua berakibat mempersempit waktu orang dengan segera Imsak dari makan dan mengakibatkan batalnya sholat subuh. Hal-hal diatas disebabkan mereka berpatokan dengan jadwal waktu falak dan berpaling dari jadwal waktu syar’i.

وَكُلُوا وَاشْرَبُوا حَتَّى يَتَبَيَّنَ لَكُمُ الْخَيْطُ الْأَبْيَضُ مِنَ الْخَيْطِ الْأَسْوَدِ مِنَ الْفَجْرِ

“dan makan minumlah hingga terang bagimu benang putih dari benang hitam, yaitu fajar.” (Al Baqoroh : 187)

Ini adalah peringatan, dan peringatan itu bermanfaat bagi kaum mukminin..” ( Silsilah As-Shohihah No: 2031, lihat Nudhumulfaroid karya Abdul latif 1/512-513 cet. 1 Maktabatul Ma’arif-Riyadl-tahun 1420 H/1999 M)

· Al-Imam Abdullah Aalu Bassam

“ Sesugguhnya waktu imsak adalah terbitnya fajar, sebagimana firman Allah I :

وَكُلُوا وَاشْرَبُوا حَتَّى يَتَبَيَّنَ لَكُمُ الْخَيْطُ الْأَبْيَضُ مِنَ الْخَيْطِ الْأَسْوَدِ مِنَ الْفَجْرِ

Dengan demikian kita mengetahui, bahwa dua waktu yang dibuat oleh orang , satu waktu Imsak dan yang lain untuk terbit fajar adalah Bid’ah yang tidak diturunkan dalilnya oleh Allah I . Itu hanyalah was-was syaithon untuk mengkaburkan agama mereka, padahal menurut Sunnah Muhammad r Imsak itu pada awal fajar .“

(Taisur Allam, 2/58)

· Al-‘Allamah As-Syaikh Sholih bin Fauzan Al-Fauzan Hafidzohullah, salah seorang ‘Ulama besar Saudy Arabiyah.

“Sebagaian orang terlalu dini dalam makan sahur, sebab mereka bergadang malam lalu makan sahur dan tidur beberapa jam sebelum fajar. Orang-orang seperti ini telah melakukan beberapa kesalahan :

1. Mereka telah mulai puasa sebelum waktu puasa.

2. Mereka meninggalkan sholat fajar secara berjama’ah, merekapun bermaksiat kepada Allah I dengan meninggalkan kewajiban sholat berjama’ah.

3. Terkadang mereka mengakhirkan sholat fajar dari waktunya, mereka tak mengerjakannya melainkan setelah terbitnya matahari, ini lebih besar lagi dosanya. Allah I berfirman :

فَوَيْلٌ لِلْمُصَلِّينَ * الَّذِينَ هُمْ عَنْ صَلَاتِهِمْ سَاهُونَ

“Maka kecelakaanlah bagi orang-orang yang shalat, (yaitu) orang-orang yang lalai dari shalatnya, ” (Al Maa’uun : 4-5)

( lihat : Al-Mulakhosul Fiqh hal. 229-230 cet. Daarul Haitsam-Cairo, tanpa tahun )

· Syaikh Saya, Abdurrahman Mar’ie Al-‘adny Al-Yamany.

Beliau tegas menyatakan, bahwa IMSAK adalah Haram dan Bid’ah, sebagaimana dalam Tanya jawab saya dengan beliau Via Telphon pada hari Rabu tanggal 28 Desember 2004 M.

Sebagai penutup pembahasan masalah seputar sahur, berikut ini saya bawakan faedah mengakhirkan sahur agar kaum muslimin melihat betapa mudah dan ringan agama Islam ini dan betapa bid’ah Imsak telah memberatkan kaum muslimin.

Faedah-faedah mengakhirkan sahur ini saya rangkumkan dari penjelasan para ‘Ulama dahulu maupun sekarang .

IX. FAEDAH-FAEDAH MENGAKHIRKAN SAHUR

Diantaranya adalah :

1. Mencontoh Rosulullah r dan mencocoki Sunnahnya.

Ini adalah faedah terbesar dan terpenting. Kalaulah tidak ada faedah pada mengakhirkan sahur melainkan ini, niscaya sangat cukup sebagai bukti keutamaannya.

Sebab, mencocoki Sunnah Rosulullah r dalam satu amalan ibadah adalah salah satu syarat diterimanya suatu amalan dan hal inilah yang didambakan oleh setiap muslim yang masih bersih fithronya. Apalagi kalau amalan ini dikerjakan ditengah-tangah sebuah masyarakat yang terkukung dalam cengkraman bid’ah Imsak. Maka pahalanya lebih berlipat lagi. Rosulullah r pernah bersabda :

مَنْ سَنَّ فِي الْإِسْلاَمِ سُنَّةً حَسَنَةً فَلَهُ أَجْرُهَا وَأَجْرُ مَنْ عَمِلَ بِهَا إلي يَوْمِ القِيَامَةِ لاَ يَنْقُصَ مِنْ أُجُورِهِمْ شَيْءاً

“Barang siapa yang menghidupkan kembali dalam islam ini Sunnah yang baik, maka dia akan mendapatkan pahalanya dan pahala orang yang mengamalkannya hingga hari kiamat, tanpa mengurangi dari pahala mereka sedikitpun.”

Mudah-mudahan Allah I menjadikan kami termasuk orang yang mendapatkan keutamaan dalam hadits ini. Amin.

2. Meringankan kaum muslim dalam bersahur .

Sebab, bila bersahur di tangah malam dan imsak jauh sebelum fajar, niscaya hal ini akan memberatkan dia atau dia perlu memaksakan diri untuk bangun tengah malam hanya untuk bersahur.

3. Lebih menguatkan orang yang berpuasa sebab dia sangat membutuhkan makanan.

Bila dia bersahur tengah malam, niscaya akan cepat melemahkan dia, apalagi kalau dia punya penyakit tertentu, bisa jadi menyebabkan dia buka puasa di siang hari.

4. Memudahkan dia sholat fajar secara berjama’ah tepat pada waktu yang disyar’ikan, dimana hal ini lebih wajib dari pada sahur itu sendiri.

Adapun bila dia sahur jauh sebelum fajar, maka dikhawatirkan dia akan tertidur dari sholat fajar secara berjama’ah, lebih parah lagi dia sholat fajar setelah matahari menyingsing. Wallahu a’lam.

X. WAKTU BERBUKA PUASA

Setelah selesai pembahasan masalah seputar sahur yang merupakan awal waktu dimulainya ibadah puasa yaitu bila fajar shodiq telah terbit, berikut ini saya bawakan masalah-masalah seputar buka puasa yang merupakan akhir waktu ibadah puasa dan saya bawakan pembahasan masalah waktu berbuka agar sejalan dengan pembahasan sebelumnya.

Masalah waktu buka puasa ini telah Allah I jelaskan secara gelobal dalm firman-Nya I :

ثُمَّ أَتِمُّوا الصِّيَامَ إِلَى اللَّيْلِ

“Kemudian sempurnakanlah puasa itu sampai (datang) malam” (Al Baqoroh : 183)

Maka puasa itu dimulai dari terbitnya fajar shodiq hingga masuk waktu malam sebagaimana konteks lafadz ayat ini, lalu kapan masuknya waktu malam yang itu adalah waktu berbuka puasa dan dikumandangkannya adzan maghrib ?

Berikut ini saya bawakan hadits-hadits Rosulullah r yang menjelaskan ayat di atas :

1. Dalam Shohih Al-Bukhory no. 1954 ( lafadz hadits ini adalah lafadz Imam Al-Bukhory) dan Muslim no. 1100/51 dari jalan Hisyam bin ‘Urwah t dari Bapaknya dari Ashim bin Umar bin Al-Khoththob dari bapaknya berkata : Rosulullah r bersabda :

إِذَا أَقْبَلَ اللَّيْلُ مِنْ هَاهُنَا وَأَدْبَرَ النَّهَارُ مِنْ هَاهُنَا وَغَرَبَتِ الشَّمْسُ فَقَدْ أَفْطَرَ الصَّائِمُ

“Bila Malam telah datang dari arah sini (timur) dan Siang telah pergi dari arah sini (barat) dan telah tenggelam matahari, maka sungguh orang puasa telah berbuka .”

Al-Imam An-Nawawy As-Syafi’iy رحمه الله dalam Syarah Shohih Muslim (7/181 ) menjelaskan :

“Maknanya adalah telah selesai dan sempurna puasanya dan dia sekarang telah disifati sebagai orang yang buka puasa, sebab dengan tenggelamnya matahari, hilanglah siang dan datanglah malam, sementara malam itu bukan tempat untuk puasa.”

Al-Hafizh Ibnu Hajar Al-Asqolany As-Syafi’iy رحمه الله menjelaskan lebih lanjut :

“Dalam hadits ini Beliau r menyebutkan tiga perkara, walaupun ketiganya pada asalnya saling berkaitan namun tekadang secara zhohir tidak demikian, bisa jadi disangka telah datang waktu malam dari arah timur namun datangnya tidak secara hakiki disebabkan adanya sesuatu yang menutupi cahaya matahari, demikian pula perginya waktu siang, dari sinilah Beliau r mengkaitkannya dengan sabdanya “dan matahari telah tenggelam” sebagai isyarat adanya persyaratan terwujudnya datang (malam) dan pergi (siang), yang keduanya diketahui dengan perantara tenggelamnya matahari bukan dengan sebab lainnya. “ ( Fathul Bari 4/710)

2. Dalam Shohih Al-Bukhory no. 1955 dan Muslim no. 1101/52-53 dari jalan Abu Ishak As-Syaibany رحمه الله dari Abdullah bin Aufa t beliau berkata : “ Kami pernah bersama Rosulullah r dalam suatu safar sedangkan Beliau r berpuasa, tatkala matahari telah hilang Beliau berkata kepada sebagian kaum : “ Wahai fulan! Bangunlah buatkan untuk kita Al-Jadh (tepung sawik dicampur dengan air diaduk hingga rata, pent). ” dia berkata : “ Wahai Rosulullah! Seandainya engkau tunda hingga lebih sore?” kata Beliau : ”Bangunlah buatkan kami Al-Jadh !” dia berkata : ”wahai Rosulullah! Kalau engkau tunda hingga lebih sore .” , kata Beliau : “Turunlah buatkan kami Al-Jadh !!” dia berkata :” sesungguhnya ini masih terang!!”, kata Beliau :” Turunlah! Buatkan kami Al-Jadh!!!” diapun turun lalu membuatkan mereka Al-Jadh, Rosulullah r pun meminumnya lalu bersabda :

إِذَا رَأَيْتُمُ اللَّيْلَ قَدْ أَقْبَلَ مِنْ هَاهُنَا فَقَدْ أَفْطَرَ الصَّائِمُ

“ Bila kalian telah melihat malam telah datang dari arah sini (timur), maka telah berbuka orang yang puasa itu.”

Al-Hafizh Ibnu Hajar Al-Asqolany رحمه الله juga menerangkan : “Dalam hadits ini juga ada anjuran menyegerakan berbuka puasa, dan tidak ada keharusan menahan sebagian malam secara mutlak, bahkan kapan saja diyakini tenggelamnya matahari. Maka telah halal berbuka puasa.” (Fathul Bari 4/711)

Dari penjelasan dua hadits di atas berikut uraian dua Imam dari Madzhab Syafi’iy di atas, jelaskan bagi kita bahwa berakhirnya waktu puasa adalah semata-mata tenggelamnya matahari. Hal ini telah dipraktekkan oleh Rosulullah r dan para shohabatnya sebagaimana dalam hadits Abdullah bin Abi Aufa t di atas.

Juga secara khusus telah dilakukan oleh seorang shohabat yang mulia Abu Said Al-Khudry , sebagaiman yang diriwayatkan oleh Sa’id bin Manshur dan Ibnu Abi Syaibah dari jalan Abdul Wahid bin Aiman dari bapaknya dia berkata : “Kami pernah masuk kepada Abu Sa’id lalu dia berbuka puasa semetara kami melihat bahwa matahari belum tenggelam.”

Atsar ini sanadnya Hasan. Abdul Wahid bin Aiman LA BA’SA BIHI ( tidak mengapa dalam hadits) ya’ni dihasankan haditsnya, sementara bapaknya, AL-IMAN AL-HABASY AL-MAKKY dia TSIQOH (terpercaya haditsnya)

Al-Hafizh Ibnu Hajar رحمه الله menjelaskan tentang atsar di atas “Sisi pendalilan dari atsar ini adalah bahwasanya Abu Sa’id tatkala merasa yakin matahari telah tenggelam, beliau tidak mencari keterangan tambahan lain dan tidak pula menoleh kepada persetujuan orang-orang yang disekitarnya…” ( Fathul Bari 4/710)

Untuk memperjelas lagi makna ayat di atas. Berikut ini saya bawakan penjelasan sebagian ahli tafsir tentang ayat di atas, diantaranya :

· Al-Imam Al-Qodli Abu Bakar Ibnul Aroby Al-Maliky dalam Ahkamul Qur’an, 1/105. Menjelaskan :

“ Masalah ke sepuluh : firman-Nya I : ثُمَّ أَتِمُّوا الصِّيَامَ إِلَى اللَّيْلِ

Robb kita yang Maha Tinggi mensyaratkan kesempurnaan puasa hingga jelasnya waktu malam, sebagaimana Allah I membolehkan makan hingga jelasnya waktu siang, namun bila telah jelas waktu malam, maka Sunnahnya adalah menyegerakan buka puasa.” Lalu beliau membawakan hadits Abdullah bin Abi Aufa diatas.

· Al-Imam Ibnu Katsir As-Syafi’iy dalam tafsirnya 1/230 menguraikan:

“Firman-Nya I (ثُمَّ أَتِمُّوا الصِّيَامَ إِلَى اللَّيْلِ ) mengharuskan berbuka puasa ketika tenggelamnya matahari sebagai hukum syar’iy.”

· Al-Imam Asy-Syaukany Al-Yamany dalam Fathul Qodir, 1/339 menjelaskan pula :

“Firman-Nya I (ثُمَّ أَتِمُّوا الصِّيَامَ إِلَى اللَّيْلِ ), di dalamnya ada ketegasan bahwa puasa memiliki batas akhir yaitu malam. Maka ketika malam datang dari arah timur dan siang pergi dari arah barat, orang puasa berbuka puasa dan halal baginya makan, minum, dan yang lainnya.”

XI. ANJURAN MENYEGERAKAN BERBUKA PUASA

Dua hadits yang saya bawakan di atas menunjukkan praktek Rosulullah r dan para sahabatnya y dalam hal menyegerakan berbuka puasa.

Berikut ini saya bawakan beberapa hadits yang menjelaskan keutamaan menyegerakan berbuka puasa :

1) Menyegerakan berbuka puasa membawa kebaikan bagi segenap umat manusia

Dalam Shohih Al-Bukhory no. 1957 dan Muslim no. 1098 dari jalan Abu Hazim Salamah bin Dinar dari Sahl bin Sa’d t , bahwasanya Rosulullah r bersabda :

لاَيَزَالُ النَّاسُ بِخَيْرٍ مَا عَجَّلُوْا الفِطْرَ

”Umat manusia ini akan senantiasa baik selama mereka menyegerakan buka puasa “

Al-Imam An-Nawawy As-Syafi’iy رحمه الله menjelaskan :

“Dalam hadits ini ada anjuran untuk menyegerakan buka puasa setelah dipastikan tenggelamnya matahari, makna hadits ini adalah urusan umat ini akan senantiasa teratur rapi dalam kebaikan selama mereka menjaga Sunnah ini, bila mereka mengakhirkannya maka itu adalah tanda kerusakan yang bakal menimpa mereka.” ( Syarah Sohih Muslim 7/181)

2) Menyegerakan berbuka puasa adalah Sunnah Rosulullah r .

Dalam Shohih Ibnu Hibban no.891 dengan sanad yang dishohihkan oleh syekh Ali Hasan dan Syekh Salim Al-Hilaly dalam ‘ Sifat Shoum An-Nabi ‘ hal. 63. Dari hadits Sahl bin Sa’d bahwa Rosulullah r bersabda :

لاَتَزَالُ أُمَّتِي عَلَى سُنَّتِي مَالَمْ تَنْتَظِرْ بِفِطْرِهَا النَّجُوْمَ

“uamatku akan senantiasa diatas Sunnahku selama mereka tidak menanti munculnya bintang balam buka puasa.”

3) Menyegerakan berbuka puasa adalah tanda nampaknya syi’ar agama ini sekaligus menyelisihi sunnahnya Ahli kitab: Yahudi dan Nashroni .

Dalam Sunan Abu Dawud 2/305 dan Shohih Ibnu Hibban no.224 dengan sanad yang dihasankan oleh Syaikh Ali Hasan dan Syaikh Salim Al-Hilaly dalam ‘Sifat Shoum An-Nabi ’ hal 64 dari hadits Abu huroiroh t bahwa Rosulullah I bersabda :

لاَيَزَالُ الدِّيْنُ ظَاهِرًا مَاعَجَّلَ النَّاسُ الفِطْرَ لأَِنَّ اليَهُوْدَ وَالنَّصَارَى يُؤَخِّرُوْنَ

“Agama ini akan senantiasa nampak selama umat manusia itu menyegerakan buka puasa, sebab orang yahudi dan nashoro mengakhirkannya.”

Menyegerakan buka puasa adalah pendapat seluruh kaum muslimin semenjak zaman shahabat sampai sekarang dan hari Qiamat nanti, tidak ada yang menyelisihinya kecuali dua golongan aliran sesat :

1. Orang – orang Ahli Kitab dari kalangan Yahudi dan Nashroni .

Mereka inilah nenek moyang setiap orang yang mengakhirkan buka puasa.

2. Aliran Syi’ah Rofidloh kaum Munafiqin dari umat ini, bahkan banyak para ‘Ulama’ yang mengkafirkan aliran ini.

Mereka inilah perpanjangan tangan kaum Zionis–Salibis yang berupaya menghancurkan dan menjajah Islam dan kaum muslimin dalam program Imprialisme Internasional mereka .

Al–Imam Ibnu Daqiq Al‘Ied رحمه الله menjelaskan hadits Sahl bin Sa’d t dalam Shohih Al-Bukhory dan Muslim di atas dengan ucapannya:

“Menyegerakan buka puasa setelah di yakini tenggelamnya Matahari adalah perkara yang dianjurkan dengan kesepakatan para ‘Ulama’, dalilnya adalah hadits ini. Dalam hadits ini ada dalil yang membantah aliran syi’ah yang mengakhirkan (buka puasa) hingga munculnya bintang. Mungkin inilah sebab keadaan umat ini senantiasa baik selama mereka menyegerakan berbuka puasa, karena bila mereka mengakhirkannya mereka akan terjatuh dalam pebuatan menyelisihi Sunnah dan mereka akan senantiasa dalam kebaikan sepanjang mereka menjalankan Sunnah ( Ihkamul Ahkam, 2/179)

Dengan adanya kesepakatan yang dinukil oleh beliau ini maka atsar yang disandarkan kepada shohabat Abu Musa Al-Asy’ary dimana beliau mengakhirkan buka puasa hingga muncul bintang, sebagaimana : yang termaktub tanpa sanad dlm kitab Al-Muhalla(6/241) karya Ibnu Hazm. Perlu ditanyakan dan diperiksa kembali keshohihannya, kalaulah shohih, maka ini adalah semata-mata ijtihad beliau yang salah dan beliau mandapatkan satu pahala, pendapat ini tidak boleh di toleh sedikitpun karena sangat bertentangan dengan dalil-dalil di atas, bahkan Ibnu Hazm sendiri menolak pendapat ini wallahu a’lam.

Berikut ini saya bawakan penjelasan para ‘Ulama dahulu maupun sekarang ttg anjuran menyegerakan berbuka puasa dan cara mengetahui masuknya waktu berbuka :;

· Al-Imam As-Syafi’iy .

Saya menganjurkan menyegerakan buka puasa dan tidak mengakhirkannya, saya tidak suka mengakhirkannya bila seseorang sengaja melakukannya setelah dia melihat ada keutamaan di dalamnya.” Kemudian beliau membawakan hadits Sahl bin Sa’d t di atas. ( Al-Umm 2/106)

· Al Imam Ibnu Abdil Barr Al-Andalusy Al-Maliky . Wafat tahun 463 H. Seorang ‘Ulama besar yang paling faham tentang Madzhab Maliky dalam kitabnya At-Tamhid, 7/181 cet. II Al-Faruq Al-Haditsah-Cairo tahun 1422 H/2001 M. Beliau menjelaskan :

Termasuk Sunnah adalah menyegerakan buka puasa dan mengakhirkan sahur. Menyegerakan berbuka puasa dapat terealisasikan setelah diyakini tenggelamnya matahari, tidak boleh bagi siapapun untuk berbuka puasa dalam keadaan dia ragu matahari telah tenggelam atau tidak ? Sebab kewajiban itu bila ditentukan dengan keyakinan, maka tidak boleh keluar daripadanya melainkan dengan keyakinan .

Allah U berfirman : ثُمَّ أَتِمُّوا الصِّيَامَ إِلَى اللَّيْلِ

sementara awal malam adalah tenggelamnya matahari seluruhnya dari pandangan orang-orang yang melihatnya.”

· Al-Imam Ibnu Hazm Al-Andalusy , tokoh utama Madzhab Zhohiri.

“Termasuk Sunnah adalah menyegerakan buka puasa dan mengakhirkan sahur, dan itu diketahui hanya dengan hilangnya matahari dari ufuqnya orang yang puasa tidak lebih daripada itu.” ( Al-Muhalla 6/240 ).

· Al-Imam Al-Muhallab As-Syafi’iy :

Para ‘Ulama sepakat bahwa waktu buka puasa adalah bila telah diyakini tenggelamnya matahari dengan pandangan kasat mata atau khobar dua orang yang adil, demikian pula khobar satu orang adil menurut pendapat yang kuat.” ( lihat Fathul Bari 4/713)

· Al-Imam An-Nawawy dalam kitab besarnya Al-Majmu’ Syarhul Muhadzab 6/262. Menukilkan kesepakatan ‘Ulama Madzhab Syafi’iy dan ‘Ulama lainya tentang anjuran menyegerakan buka puasa dengan dalil hadits-hadits shohih yang tersebut diatas, dan beliau menyebutkan dua hikmah :

1. Membantu meringankan orang yang berpuasa.

2. Menyelisihi Ahlul Kitab.

· Syaikhul Islam Ahmad bin Abdul Halim Ibnu Taimiyah , wafat tahun 728 H.

Beliau pernah ditanya tentang ‘Tenggelamnya Matahari’ : “Apakah boleh bagi orang yang berpuasa berbuka dengan semata-mata tenggelamnya matahari? “

Jawab beliau : “Bila telah hilang seluruh bundaran matahari maka orang berpuasa boleh berbuka dan tidak dianggap adanya warna merah yang tersisa di ufuq. Bila telah hilang bundaran matahari, maka akan tampak hitamnya malam dari arah timur…” (Majmu’ Al-Fatawa, 25/215-216)

· Al-Imam Muhammad bin Ismail Al-Amir As-Shon’any , wafat 1182 H.

“Hadits ini ( hadits Sahl ) adalah dalil yang menunjukkan anjuran menyegerakan buka puasa bila telah diyakini tenggelamnya matahari dengan pandangan kasat mata atau dengan kabar seseorang yang boleh diamalkan ucapannya…” ( Subulus Salam, 2/313 cet. I , Daarul Fikr tahun 1411 H/1991 M)

· Al-Imam Muhammad bin Sholih Al-Utsaimin .

“Ucapan beliau : “dan menyegerakan buka puasa” yakni menyegerakannya bila matahari telah tenggelam. Yang dianggap adalah tenggelamnya matahari bukan adzan apa lagi sekarang ini orang banyak bersandar dengan jadwal lalu mereka cocokkan jadwal tadi dengan jam-jam mereka. Padahal jam-jam mereka itu mengalami perubahan, kadang maju kadang mundur.

Bila matahari telah tenggelam dan engkau menyaksikannya sementara orang–orang belum adzan, maka engkau boleh berbuka puasa karena Rosulullah r bersabda :

إِذَا أَقْبَلَ اللَّيْلُ مِنْ هَاهُنَا-وَإِشَارَ إِلَىالمَشْرِقِ- وَأَدْبَرَ النَّهَارُ مِنْ هَاهُنَا-وَإِشَارَ إِلَىالمَغْرِبِ- وَغَرَبَتِ الشَّمْسُ فَقَدْ أَفْطَرَ الصَّائِمُ

“Bila Malam telah datang dari arah sini (timur) dan siang telah pergi dari arah sini (barat) dan telah tenggelam matahari, maka sungguh orang yang puasa telah berbuka .”

Tidak dianggap adanya sinar yang kuat, sebagian orang menyatakan : “Kita tidak berbuka puasa hingga hilang bundaran matahari dan hari mulai gelap.” Ini semua tidak dianggap, tapi lihatlah mataharinya! Bila telah hilang bagian atas maka matahari telah tenggelam dan dianjurkan berbuka puasa…” ( As-Syarhul Mumti’ 3/81)

Beliau juga menjelaskan hal ini dalam kitab yang lain Majalis Syahri Romadlon hal. 125 : “Termasuk adab puasa yang dianjurkan adalah menyegerakan buka puasa bila telah dipastikan tenggelamnya matahari dengan menyaksikannya atau kemungkinan besar telah tenggelam dengan khobar yang tepercaya baik itu adzan ataupun yang lainnya…”

· Al-‘Allamah Sholih bin Fauzan Al-Fauzan .

“Dianjurkan menyegerakan buka puasa bila matahari dipastikan telah tenggelam dengan cara menyaksikannya atau kemungkinan besar telah tenggelam dengan khobar terpercaya baik adzan ataupun yang lainnya…” ( Al-Mulakhosul Fiqh hal. 230).

· Al-‘Allamah Abdullah Aalu Bassam .

“Anjuran menyegerakan buka puasa. Para ‘Ulama telah sepakat dianjurkannya menyegerakan buka puasa bila matahari telah tenggelam dengan pandangan kasat mata atau kemungkinan besar telah tenggelam.” (Taudlihul Ahkam 3/153)

Di halaman yang sama beliau menjelaskan:

Para ‘Ulama sepakat bahwa menyegerakan buka puasa dan mengakhirkan sahur adalah Sunnah yang harus diikuti, demikian dihikayatkan oleh Al-Wazir Ibnu Hubairoh dan ditegaskan oleh Syekh Taqiyuddin.”

Beliau Melanjutkan:

“ Allah I befirman : ثُمَّ أَتِمُّوا الصِّيَامَ إِلَى اللَّيْلِ

Ini menunjukkan bahwa buka puasa dilakukan ketika matahari tenggelam. Mereka telah sepakat bahwa puasa telah berakhir dengan tenggelamnya matahari secara sempurna, dan yang Sunnah adalah berbuka puasa ketika matahari dipastikan tenggelam serta diperbolehkannya buka puasa dengan perasangka yang kuat dengan kesepakatan (‘Ulama), karena prasangka yang kuat menduduki tempat keyakinan.”

Demikianlah sedikit penjelasan dari para ‘Ulama terkemuka saya nukilkan untuk semakin memperjelas masalah ini. Cukuplah bagi kita ayat dan hadits serta ijma’ para ‘Ulama untuk mengamalkan Sunnah yang terlupakan ini.

Yang perlu diingat adalah dengan tenggelamnya matahari berarti telah habis waktu puasa dan masuklah waktu maghrib disaat itulah dikumandangkan adzan sebagai pertanda waktu buka puasa dan sholat maghrib. Lebih lnjut tentang masalah waktu sholat maghrib, baca tulisan Kakanda tercinta (PEDOMAN WAKTU SHOLAT ABADI SESUAI PETUNJUK NABI r ).

Sebelum saya akhiri pembahasan ini, perlu saya bawakan beberapa permasalahan yang perlu diperhatikan oleh segenap kaum muslimin, diantaranya adalah :

1. Dianjurkan bebuka puasa terlebih dahulu walaupun dengan seteguk air sebelum melaksanakan sholat maghrib, dan ini adalah pendapat Jumhur ‘Ulama sebagaimana zhohir hadits diatas.

Dan diriwayatkan dari Umar bin Khoththob dan Utsman bin Affan رضي الله عنهما dengan sanad shohih bahwa beliauo berdua bebuka puasa setelah sholat maghrib ( lihat Al-Umm 2/106)

2. Al-‘Allamah Sholih bin Fauzan Al-fauzan memperingatkan :

“Di sini ada perkara yang harus diperhatikan yaitu sebagian orang terkadang duduk di meja buka puasanya, makan dan meninggalkan sholat maghrib secara berjama’ah di masjid, diapun terjatuh pada kesalahan fatal yaitu tidak berjama’ah di masjid, diapun luput dari pahala besar dan menyerahkan dirinya kepada adzab.

Yang dianjurkan bagi orang yang puasa adalah dia berbuka puasa terlebih dahulu lalu pergi sholat kemudian makan malam setelah itu.” ( Al-Mulakhoshul Fiqh hal.230 ).

Hal ini juga diingatkan oleh ahli hadits terkemuka zaman ini Al-‘Allamah Muhammad Nashiruddin Al-Albany رحمه الله dalam karya besar beliau Silsilah Dho’ifah No: 631, lihat : Nudhumul Faroid (1/513-514).

3. Al-Hafizh Ibnu Hajar memberi peringatan tegas : “Peringatan !!! Termasuk kebid’ahan yang di ingkari adalah apa yang terjadi di zaman sekarang ini yaitu mengumandangkan adzan subuh yang ke-dua sekitar 1/3 jam sebelum fajar di bulan Romadhon dan memadamkan lampu yang dijadikan sebagai tanda haramnya makan dan minum bagi yang hendak puasa, dengan anggapan dari orang yang mengadakannya bahwa hal tersebut untuk kehati-hatian dalam ibadah, dan tidak ada yang mengetahuinya kecuali beberapa gelintir orang.

Perbuatan ini pun membuat mereka tidak mengumandangkan adzan(maghrib) kecuali setelah matahari sudah lama tenggelam, “untuk memantapkan waktu” kata mereka. Merekapun mengakhirkan buka puasa, menyegerakan sahur dan menyelisihi Sunnah.

Oleh sebab itulah sedikit sekali kebaikan ada pada mereka dan menyebarlah kejelekan di kalangan mereka, wa allahu musta’an.”(Fathul Bari 4/713 –714)

Saya katakan : “Alangkah miripnya apa yang terjadi di zaman beliau dengan apa yang terjadi di zaman sekarang, hanya saja dulu menggunakan cara ”memadamkan lampu” dan sekarang menggunakan ”IMSAK”atau “SIRENE”!!!

Mudah-mudahan apa yang saya tulis ini bisa menjadi penjelasan bagi kaum muslimin yang menginginkan kebenaran dalam agamanya dan dapat merubah kebiasaan umum di kalangan masyarakat namun menyempal dari ajaran islam ini.

وما أريد إلاّ الإصلاح ما استطعتُ وماتوفيقى إلا بالله عليه توكلت وإليه آنيب

وآخر دعوانا أن الحمد لله رب العالمين

وصلىالله علىنبينا محمد و على آله وصحبه وسلم تسليما كثيرا


KATALOG TASJILAT AL BAYYINAH

(Bulan September)

Katalog Tasjilat Al Bayyinah

Alamat Redaksi: Ma’had Al Bayyinah Jl. RM Said No. 06 Sedagaran, Sidayu Gresik JATIM 61153 Telp : 031- 3940350, HP 081-332-173963, email : al_bayyinah@plasa.com

1. Kajian Shahih Bukhari (SB02) Al Ustadz Afifuddin

Daftar Isi

1) Keutamaan Kaum Anshar

2) Bertaqwa Semampu Kalian

3) Upaya mendapatkan manisnya Iman

4) Keimanan Itu Bertingkat – Tingkat

5) Iman Kepada Yang Ghaib

6) Kafirkah Orang Yang Meninggalkan Shalat?

7) Mimpi Rasulullah Shallallahu 'alaihi Wa Sallam

8) Malu Adalah bagian Dari Iman

9) Iman Adalah Amalan

10) Menyebarkan Salam

2. Kajian Shahih Bukhari (SB03) Al Ustadz Afifuddin

Daftar Isi

1) Mayoritas Penghuni Neraka

2) Hah – Hak Pembantu

3) Yang Membunuh dan Yang terbunuh Di Neraka

4) Makna Kedzaliman

5) Ciri – ciri orang Munafik

6) Bolehkah Menggunakan Teropong untuk Melihat Hilal

7) Lailatul Qadr Dan Tanda – Tandanya

8) Bolehkah Menikah Dengan Jin?

9) Bai’at Yang Syar’I Bagian I

10) Bai’at Yang Syar’I Bagian II

11) Hukum Transaksi Dengan Bank

12) Macam – Macam Asuransi dan Hukumnya.

3. Kajian Shahih Bukhari (SB04) Al Ustadz Afifuddin

Daftar Isi

1) Agama Itu Mudah

2) Jangan gampang Tertipu Dengan Penampilan

3) Iman Itu Bertambah dan Berkurang

4) Agama ini Sudah Sempurna

5) Jangan Beragama Semaunya Sendiri

6) Larangan Mengikuti Jenazah Orang Kafir Ke Kuburan

7) Jangan Jadi Da’i - Dai Tikus Got Yang Ompong

8) Inilah Argumen – Argumen Mereka Yang ….

9) Da’i Berdasi Dan Da’i Berjubah

10) Masalah halal Dan Haram, Makna Syubhat

11) Makna Budak Melahirkan Tuannya

12) Empat Perintah dan Empat Larangan Rasulullah

13) Apakah Ada Harta Gono – Gini Dalam Islam?

14) Dalil dapat diterimanya Hadits Ahad dalam Masalah Apapun

15) Hukum Jadi Pengacara

16) Sangat Pentingnya Niat

17) Jangan jadi Da’i- Da’i penghianat dakwah.

4. Kajian Shahih Bukhari (SB05) Al Ustadz Afifuddin

Daftar Isi

1) Berilmulah!!! Jangan Seperti Keledai

2) Ilmu itu Tidak Bisa Dibandingkan Dengan Apapun.

3) Bila Kejahilan Melanda Masyarakat.

4) Jangan Takut Menyampaikan Al Haq

5) Ilmu Sanad adalah Keistimewaan Agama Islam

6) Bertanya Kepada Murid adalah salah Satu Sistim Pengajaran Rasulullah

7) Tawakal Sunnah VS Tawakal Sufi

8) Dakwah Ahlu Sunnah Bukan untuk mencari Pengikut

9) Berilmulah sebelum berbicara dan beramal

10) Dai – Dai yang Ngiler Sampai Seember Bila melihat lambaian Dunia

11) Apabila Sekertaris – Sekertaris itu Adalah Perempuan

12) Adab – Adab Menghadiri Majelis Ilmu.

13) Tidak Sama antara orang yang Berilmu dengan Orang Yang tidak berilmu

14) Kekurang Ajaran Ikhwanul Muslimin Kepada Pemerintah

15) Menyiungkap Sindikat Terorisme

16) Tahapan – tahapan dalam menuntut Ilmu.

5. Kajian Shahih Bukhari (SB06) Al Ustadz Afifuddin

Daftar Isi

1) Jangan Mencari Ilmu untuk mencari gelar

2) Bab Man Yuridillahu Bihi Khairan Yufaqqihu fii Diin

3) Ahlus Sunnah yang Hakiki

4) Pertanyaan - Pertanyaan

5) Berusaha untuk memahami Ilmu

6) Rihlah Untuk Mencari Ilmu

7) Apakah Khidir Masih Hidup ?

8) Keutamaan ilmu Agama dibanding ilmu - ilmu lainnya

9) Bolehnya anak kecil untuk mendengarkan hadits

10) Bukan Khuruj Menurut Jama'ah Tabligh

11) keutamaan penuntut ilmu dan yang mengajarkan ilmu

12) Ada hadits-hadits dhaif dalam kitab Arbain An Nawawi

13) Merebaknya kejahilan adalah satu tanda telah dekatnya hari kiamat

14) Pentingnya ilmu agama dibanding ilmu dunia

15) Tartib pelaksanaan Ibadah Haji

16) Hukum Klub Sepak Bola

17) Akibat memakai sistem Demokrasi

6. Kajian Shahih Bukhari (SB07) Al Ustadz Muh Afifuddin

Daftar isi

1) Pembelaan kepada Syaikh Utsaimin

2) Dakwah Butuh Pengorbanan

3) Di mana Dajjal sekarang ???

4) Berdakwah Harus dengan Ilmu

5) Hukum Bekerja di Kantor Pajak dan Perakitan TV

6) Bertanya kepada Ahlul Ilmi

7) Jenis - Jenis Shadaqah

8) As'ilah

9) Kewajiban berbuat baik kepada tetangga

10) Apabila Kyai - Kyai dijadikan Tuhan

11) Sikap Marah dan lembutnya Rasulullah Sallallahu 'alaihi wa sallam

12) Hukum Menemukan barang Temuan

13) Tuduhan - Tuduhan terhadap Salafiyyuun

14) Larangan duduk selonjor ketika Taklim

15) Adab Masuk Ke Dalam Rumah

16) Bab Wajibnya Menyempurnakan Wudhu

7. Kajian Shahih Bukhary (SB08) Al ustadz Muhammad Afifuddin

Daftar isi

1) Pentingnya penguasan ilmu nahwu

2) Bab semangat dalam mendapatkan hadits

3) Jika bukti sebesar gajah tak juga kelihatan

4) Bagaimana ilmu itu dicabut

5) Bab sebab seorang itu jatuh dari kancah dakwah

6) Ketika ulama diwafatkan dan orang-orang jahil dimintai fatwa

7) Lanjutan bila orang-orang jahil dimintai fatwa

8) Apakah wanita memperoleh waktu khusus untuk thalabul ilmi

9) Barang siapa dihisab maka dia akan diadzab

10) Perintah untuk menyampaikan ilmu

11) Ancaman berdusta atas nama nabi

12) Lanjutan Ancaman berdusta atas nama nabi

13) Lanjutan Ancaman berdusta atas nama nabi

14) Dusta mimpi bertemu dengan rasul

15) Lanjutan Dusta mimpi bertemu dengan rasul

16) Anjuran untuk menulis ilmu

17) Keutamaan orang islam atas orang kafir

18) Bolehkah menikahi wanita yang sedang hamil di luar nikah

8. Kajian Shahih Muslim (SM01) Al Ustadz Agus Suaidi

Daftar Isi

1) Tak Kenal Maka tak Sayang

2) Yang Lebih Hebat Dari Tongkat Nabi Musa

3) Berkat Barakah Do’a Nabi Shallahu Alaihi Wa Sallam

4) Rasulullah Teladan Dana Bertawakkal

5) Kasih Sayang Nabi Kepada Ummatnya

6) Penutup Para Nabi

7) Telaga Nabi (1)

8) Telaga Nabi (2)

9) Telaga Nabi (3)

10) Tragedi Uhud

11) Keberanian Rasulullah Sallallhu alaihi Wa Sallam

12) Kedermawanan Nabi Sallallhu alaihi Wa Sallam

13) Bukti Kedermawanan Nabi Sallallhu alaihi Wa Sallam

14) Kasih sayang Nabi Kepada Anak – Anak

15) Rasulullah Sallallhu alaihi Wa Sallam Yang Pemalu

9. Sifat Puasa & Ied Nabi (I) I (AS01) Al Ustadz Afifuddin

Daftar Isi

1) Moqadimmah, Definisi Puasa

2) Puasa – Puasa Di Bulan Sya’ban, Bid’ahnya Nisfu Sya’ban

3) Hikmah Disyariatkannya Puasa Sya’ban

4) Ru’yatul Hilal, Hisab adalah bagian dari ajaran agama Yunani Kuno

5) Apakah Satu Hilal Untuk Seluruh Dunia Ataukah Tidak?

6) Hukum Melafadhkan Niat Puasa dengan “Nawaitu ……..?

7) Apakah Niat Puasa Cukup Sekali Aataukah Tidak?

8) Keutamaan Sahur yang Afdhal, Bid’ahnya Imsaak

9) Pembatal – Pembatal Puasa I

10) Pembatal Pembatal Puasa II

10. Sifat Puasa & Ied Nabi (II) I (AS02) Al Ustadz Afifuddin

Daftar Isi

1) Lanjutan Pembatal Pembatal Puasa

2) Orang – Orang Yang Mendapatkan Rukhsyah untuk Tidak Berpuasa

3) Hukum Puasa Bagi Wanita Hamil, Menyusi dan Manula

4) Ifthar. Bid’ah – Bid’ah Waktu Ifthar

5) Derajat Hadits Allhumma Laka Sumtu ………

6) Hukum Seputar I’tikaf

7) Lailatul Qadr dan tanda – tandanya

8) Hukum Seputar Zakat Fitrah

9) Lanjutan Zakat Fitrah, Makna Ied secara bahasa dan Istilah

10) Shalat Ied di Lapangan atau di Masjid?

11) Gugurkah kewajiban Shalat Jum’at bila Ied Bertepatan dengan hari itu?

12) Puasa – Puasa Sunnah

11. Matan Ajurumiah Al Ustadz Agus Suaidi

Daftar Isi

1) Muqoddimah

2) Anwa'ul I'rob

3) Baabul I'rob

4) Baabu Ma'rifati 'Alamatil I'rob

5) 'Alamaatun Nashbi

6) Al Mu'robat

7) Baabul Af'aal

8) Baabu Marfu'atil Asmaa' wa Baabul Faa'il

9) Baabu Naibil Faa'il wa Baabul Mubtada' wal Khobari

10) Baabul Awamilid dakhilati 'Alaal Mubtada' wal Khobari 1

11) Baabul Awamilid dakhilati 'Alaal Mubtada' wal Khobari 2

12) Baabun Na'ti wa Baabul Athfi

13) Baabut Tukiidi wa Baabul Badali

14) Baabu Manshubatil Asma' wal Maf'uli bihi wal Mashdar

15) Baabu Dhorfiz Zaman wal Makani wal Hali Wat Tamyizi

16) Baabul Istitsnaa'

17) Baabu Laa wal Munaadaa wal Maf'uuli min Ajlihi wal Maf'uul Ma'ah wal Makhfudlot Minal Asmaa'

12. Membongkar Sindikat Terorisme Al Ustadz Afifuddin

Daftar Isi

1) Bukti Kedunguan Ikhwanul Muslimin

2) Iblis itu Teroris, Teroris itu Iblis

3) Teroris – teroris Berbaju Islam

4) Tong Sampah Itu Bernama Ikhwanul Muslimin

5) Sayyid Qutub Serigala Berbulu Domba

6) Beragamalah Dengan Al-Qur’an & As Sunnah Jangan seperti Bebek – Bebek Dungu

7) Kilauan – Kilauan Mutiara Ahlu Sunnah Wal Jamaah Salafiyah.

13. Kumpulan Khutbah Jumat (KJ01) Al Ustadz Agus Suaidi

Al Ustadz Afifuddin

Daftar Isi

1) Empat Golongan Manusia Dalam Mensikapi Ramadhan

2) Amalan – malan yang Dapat memasukan Ke Surga Dan Menjauhkan Dari Neraka

3) Jangan Terlalu Cinta Dunia

4) Bid’ah Bid’ah Pada Bulan Ramadhan

5) Ciri – Ciri Orang Munafik

6) Jangan Meremehkan Dosa – Dosa Kecil

7) Ngawurnya Penetapan Tanggal Nuzulul Qur’an

8) Syarat – Syarat Untuk Mendapatkan Ampunan Allah.

9) Kemungkaran – Kemungkaran Pada Iiedul Fitri

10) Adanya Teror – Teror Bom adalah Satu Tanda dari tanda – tanda Kiamat.

14. NKRI, Kafirkah? ( Pro Kontra Dalam Menyikapi NKRI )

(Al Ustadz Afiffuddin)

Daftar Isi

1) Bantahan Terhadap NII & HT Tentang Makna KHALIFAH.

2) Syarat-syarat Menjadi PRESIDEN .

3) Kewajiban Rakyat Terhadap PRESIDEN-nya.

4) Hak-hak PRESIDEN.

5) Para Pemberontak MASS MEDIA.

6) Syubhat Anjing-anjing JAHANNAM

7) ( KAFIRKAH NKRI ??? )

15. Babak Baru Perjuangan Dakwah Ja'far Umar Tholib

(Al Ustadz Afifuddin)

Daftar Isi

1) Sejarah awal perjuangan dakwah Ja’far

2) Dan tatkala dia ngiler dengan lambaian-lambaian dunia

3) Tuduhan Ja’far terhadap murid-muridnya

4) Dakwah Ja’far yang penuh dengan warna-warni

5) Menyikapi ulama ahlud dunia

6) Pembelaan terhadap Syaikh Utsaimin

7) Mengenal Akhlaq buruk Bani Israil

16. Ciri-Ciri Masjid Kaum Munafik Al Ustadz Agus Su'aidi

Daftar Isi

1) Ciri-ciri masjid kaum munafik

2) Jenis2 nadzar dan hukum-hukumnya

3) Keutamaan mengikuti Sunnah

4) Khutbah Iedul Adha

5) 3 karunia Allah yang tidak semua hamba memilikinya

6) Apa jadinya bila mbah kyai menjadi thaghut?

7) Kisah2 nyata ketika Allah mematikan lalu menghidupkan kembali makhluk-Nya

8) Beragama harus dengan dalil

9) Hanyalah Ahlus Sunnah yang berakal cerdas

10) Islam yang murni. Bagaimanakah itu?

11) Kaidah2 yang benar dalam meneladani Rasulullah Sallallhu alaihi Wa Sallam

17. Fathul Majid (FM01) Al Ustadz Afifuddin

Daftar Isi

1) Muqaddimah Bag 1

2) Muqaddimah Bag. 2

3) Hikmah Dibalik Lafadz Bismillah Bag 1

4) Hikmah Dibalik Lafadz Bismillah Bag 2

5) Hikmah Dibalik Lafadz Bismillah Bag 3

6) Penjelasan Tentang Makna Sifat Rahmat Allah

7) Pembahasan Jenis – Jenis Tauhid

8) Komentar Ibnu Taimiyyah Tentang Tauhid Bag 1

9) Komentar Ibnu Taimiyyah Tentang Tauhid Bag 2

10) Makna Ibadah dan Tujuan diciptakannya Manusia

11) Pengertian Iradah Syariyyah dinniyyah dan Iradah Kauniah Qadariyyah Bag 1

12) Pengertian Iradah Syariyyah dinniyyah dan Iradah Kauniah Qadariyyah Bag 2

13) Definisi Thagut Bagian 1

14) Definisi Thagut Bag II

15) Iman Kepada Taqdir Allah

18. Fathul Majid (FM02) Al Ustadz Afifuddin

01. Tauhidkanlah Allah !

02. Berbakti Kepada Kedua Orang Tua

03. Lanjutan Berbakti kepada kedua orang tua

04. Kenalilah Sepuluh haq Allah dalam Al Qur’an

05. Wasiat- Wasiat yang sepuluh

06. Jangan Membunuh Anak-Anakmu Karena takut Miskin

07. Jangan Dekati Zina dan membunuh Jiwa Tanpa Hak

08. Ancaman bagi Yang Memakan Harta Anak Yatim Secara Dzalim

09. Perintah untuk Adil dalam menakar timbangan

10. Perjanjian antara Allah dan Makhluk-Nya

11. Makna Jalan Yang Lurus

12. Bantahan terhadap Keyakinan Syiah Rafidhah

13. Keutamaan Kalimat La Illaha Illallah

14. Bantahan terhadap firqah-firqah sempalan

15. Definisi dan Makna Ibadah

19. Kajian Kitabut Tauhid (KT01) Ustadz Afifuddin

Daftar Isi

1) Muqoddimah

2) Tujuan Penciptaan Manusia dan Jin, Penegertian Ibadah

3) Tujuan Diuitusnya para Rasul dan hikmah diutusnya mereka

4) Ketetapan (qadha) Allah yang Kauni dan yang Syar’i

5) Perintah untuk memurnikan Ibadah Hanya Kepada Allah Semata

6) Kenalilah sepuluh haq dan tunaikanlah dia

7) Lima Wasiat untuk Orang – Orang yang Berakal

8) Lima Wasiat untuk Orang – Orang yang Berakal Bag 2

9) Wasiat Kesepuluh

10) Kenalilah Haq Allah atas Hamba-Nya

11) Al Masail (Masalah – Masalah )

12) Al Masail ( Masalah – Masalah) 2

13) Wasiat – Wasiat dalah Surat Al Isra’ ayat 22-39

14) Wasiat – Wasiat dalah Surat Al Isra’ ayat 22-39 Bag 2

15) Wasiat – Wasiat dalah Surat Al Isra’ ayat 22-39 Bag 3

20. Ahlu Sunnah VS Ahlul Bid’ah Ustadz Afifuddin

Daftar Isi

1) Sejarah Ahlus Sunnah

2) Al- Qur’an & As Sunnah Dengan Pemahaman Siapa?

3) Awal Mula terjadinya Penyimpangan Adalah PEMBERONTAKAN

4) Ciri-Ciri Ahlu Sunnah

5) Tiga Prinsip Dasar Ahlu Sunnah

6) Ciri-Ciri Ahlul Bid’ah

7) Larangan Keras Berteman dengan Ahlul Bid’ah

8) Sikap Keras Salaf Terhadap Ahlul Bid’ah

9) Bolehnya menggibahi Ahlul Bid’ah

10) Agama Sesorang Dilihat Dengan Siapa Dia Berteman

21. - Menikah Dengan Biarawati, bolehkah? Ustadz Afifuddin

- Ukhuwah Islamiyyah, antara pengakuan & kenyataan

Daftar Isi

1) Pembagian Orang-orang Kafir

2) Bagaimana Sikap Seorang Muslim Tatkala Bertemu Dengan Orang-orang Kafir

3) Hukum-hukum yang Berkaitan Tentang Muamalahnya Seorang Muslim dg Orang2 Kafir

4) Bolehkah Menikah Dengan Biarawati?

5) Bagaimana Menjalin Ukhuwah Syar’iyyah

6) Ukhuwah Islamiyah Harus Diatas Al Qur’an Dan As Sunnah

7) Prinsip Besar Ukhuwah Islamiyyah Imaniyah

8) Adab Adab Dan Hak Ukhuwah Islamiyyah

22. Mutiara Hikmah Tuk Wanita Muslimah Ustadz Agus Su’aidi

Daftar Isi

1) Kisah Seorang Muslimah

2) Hikmah Dibalik Musibah

3) Berani Hidup Karena Iman Kepada Qodlo’ Dan Qodar

4) Dunia Ini Hanya Sementara

5) Awas,jangan Asal Bicara!!!

6) Jangan Asal Bicara (2)

7) Kehebatan Wanita Dalam Menuntut Ilmu

8) Muslimah Tak Kenal Musik

9) Busana Muslimah

10) Busana Muslimah (2)

11) Perpustakan Pribadi

12) Muslimah Tak Suka Shopping

13) Muslimah Gemar Berdoa

14) Wanita Shalihah Gemar Meningkatkan Ibadah

15) Disiplin Waktu

16) Nasehat Terakhir

23. Misteri Arwah Al Ustadz Muhammad Afifudin

Daftar Isi

1) Misteri arwah

2) Meneladani Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam

3) Islam diantara kelompok ekstrim kanan dan kiri

4) Sifat-sifat kaum yang terlaknat

5) Bentuk-bentuk pelecehan terhadap Allah, kitab-Nya dan Rasul-Nya shallallahu alaihi wa sallam

24. Demonstrasi dalam pandangan islam

Daftar isi

1) Demonstrsi dalam pandangan islam

2) Cara termudah dan tercepat dalam mengatasi masalah hidup

3) Lanjutan Cara termudah dan tercepat dalam mengatasi masalah hidup

4) Sikap para shahabat dalam mengatasi masalah hidup

5) Peringatan bagi orang yang menyelisihi perintah rasulullah

6) Hukuman bagi orang yang menyelisihi perintah rasulullah

22. Hukum Riba (Bunga Bank) Ustadz Agus Su’aidi

Daftar Isi

1) Dakwah bil hikmah bukanlah dakwah "bijaksana-bijaksini"

2) Hukum riba (Bunga Bank)

3) Hukum2 hutang piutang (1)

4) Hukum2 hutang piutang (2) dan syarat2 jual beli

5) Apa hukum pegadaian?

6) Proses penciptaan manusia

7) Da'i2 karbitan penyeleweng ayat2 mutasyabihat

8) Isti'adzah (meminta perlindungan) dan macam2nya (1)

9) Isti'adzah (meminta perlindungan) dan macam2nya (2)

10) Istighotsah' antara sunnah, bid'ah dan syirik

11) Macam2 doa dan hukum2nya

12) Kisah mu'jizat para nabi. Khasiat ayat kursi

Insya Allah, Segera Menyusul

@ Kitabut Tauhid (02) Al Ustadz Afifuddin

@ Fathul Majid (FM03) Al Ustadz Afifuddin

@ Kajian Bhs Arab. (Sharaf) Al Ustadz Agus Suaidi

@ Kajian Bhs Arab (Durusul Lughoh) Al Ustadz Agus Suaidi

@ Kajian Bhs Arab (Qatrun Nada) Al Ustadz Agus Suaidi

@ Kajian Qaulul Hasan Fi Ma’rifatil Fitan Al Ustdaz Agus Suaidi

@ Syarhus Sunnah Al Ustadz Afifuddin

@ Kumpulan Khutbah Jum’at (KJ02) Al Ustadz Agus Suaidi

Al Ustadz Afifuddin

@ Kajian Shahih Muslim (SM02) Al Ustadz Agus Su'aidi

@ Kajian Al Adabul Mufrad Al Ustadz Afifuddin

Harga Per CD Rp. 15.000.-


Ketentuan Pembayaran :

  1. Pembayaran CD diharapkan CASH mengingat Tasjilat Al-Bayyinah bukan milik pribadi akan tetapi untuk kepentingan pondok, sehingga antumpun turut membantu kelancaran belajar mengajar di pondok tersebut.
  2. Pembayaran CD bisa melalui wesel atau rekening BCA no.5610075071 a.n Agus Su'aidi.
  3. Kami memohon dengan sangat untuk segera memberitahukan kepada pihak kami bila telah mengirim uang via rekening melalui alamat redaksi.
  4. Bila anda berminat menjadi Distributor kami, segera kirimkan alamat lengkap anda dan daftar CD yang anda pesan ke alamat redaksi.

Anda Ingin Jadi Agen / Distributor Kami ?

Hubungi Tasjilat Al Bayyinah 081-332-173963

CD-CD Terbaru







Monday, August 21, 2006

17 Agustus, antara ketaatan dan kemaksiatan

PRINSIP ISLAM DALAM
BERHUBUNGAN DENGAN PEMERINTAH


إن الحمدلله نحمده ونستعينه ونستغفره ونعوذبالله من شرور أنفسنا ومن سيئات أعمالنا من يهده الله فلا مضل له ومن يضلل فلا هادي له.
وأشهد أن لاإله إلا الله وحده لاشريك له وأشهد أن محمدا عبده ورسوله.

أما بعد :
فإن خير الحديث كتاب الله وخير الهدي هدي محمد j وشر الأمورمحدثاتُها
وكل محدثة بدعة وكل بدعة ضلالة وكل ضلالة في النار
Ketahuilah semoga Allah k memberi hidayah kita semua ke jalan yang benar, bahwa prinsip mendasar lagi agung yang diajarkan oleh Rasulullah j dalam beragama adalah kembali kepada bimbingan Allah k dan bimbingan Rasulullah j serta memahaminya dengan pemahaman generasi terbaik umat ini dari kalangan para Shahabat g, para tabi'in dan atba'ut tabi'in baik itu dalam masalah aqidah, ibadah, akhlaq, mu'amalah dan semua aspek kehidupan, duniawiyah ataupun ukhrowiyah. Prinsip inilah yang menghantarkan umat manusia kepada kebahagiaan dunia dan akhirat, yang dengannya pula umat manusia akan selamat dari penyimpangan aqidah dan dekadensi (kerusakan) akhlaq.
Banyak sekali ayat-ayat Al Qur'an dan hadits-hadits Rasulullah j yang shahih serta ucapan-ucapan para ulama yang menjelaskan prinsip di atas. Berikut ini akan kami paparkan prinsip di atas agar kita semua kaum muslimin memahami dan mengamalkannya dalam kehidupan sehari-hari. Perlu diingat, bahwa prinsip ini berlaku untuk segenap kaum muslimin dari golongan manapun, kelompok manapun, baik dia sebagai pemerintah ataupun rakyat jelata, kapanpun dan dimanapun dia berada.




PASAL I

Kewajiban kembali kepada Al Qur'an dan Sunnah dalam beragama

Berikut ini ayat-ayat yang menjelaskan masalah di atas, di antaranya :
Allah k berfirman :

Ikutilah apa yang telah diwahyukan kepadamu dari Tuhanmu; tidak ada sesembahan yang berhak diibadahi selain Dia, dan berpalinglah dari orang-orang musyrik. (QS. Al An'am : 106)

Dan FirmanNya pula :

Dan bahwa (yang kami perintahkan ini) adalah jalan-Ku yang lurus, Maka ikutilah Dia, dan janganlah kamu mengikuti jalan-jalan (yang lain), Karena jalan-jalan itu mencerai beraikan kamu dari jalan-Nya. yang demikian itu diperintahkan Allah agar kamu bertakwa. (QS. Al An'am : 153)

Dan FirmanNya pula :

Dan Al-Quran itu adalah Kitab yang kami turunkan yang diberkati, Maka ikutilah dia dan bertakwalah agar kamu diberi rahmat. (QS. Al An'am : 155)

Dan FirmanNya pula :

Ikutilah apa yang diturunkan kepadamu dari Tuhanmu dan janganlah kamu mengikuti pemimpin-pemimpin selain-Nya( ). amat sedikitlah kamu mengambil pelajaran (daripadanya). (QS. Al A'raaf : 3)

Dan FirmanNya pula :

Katakanlah: "Hai manusia sesungguhnya Aku adalah utusan Allah kepadamu semua, yaitu Allah yang mempunyai kerajaan langit dan bumi; tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) selain Dia, yang menghidupkan dan mematikan, Maka berimanlah kamu kepada Allah dan Rasul-Nya, Nabi yang ummi yang beriman kepada Allah dan kepada kalimat-kalimat-Nya (kitab-kitab-Nya) dan ikutilah Dia, supaya kamu mendapat petunjuk". (QS. Al A'raaf : 158)

Dan FirmanNya pula :


Dan ikutilah apa yang diwahyukan kepadamu, dan bersabarlah hingga Allah memberi keputusan dan Dia adalah Hakim yang sebaik-baiknya. (QS. Yunus :158)

Dan FirmanNya pula :

Dan ikutilah apa yang diwahyukan Tuhan kepadamu. Sesungguhnya Allah adalah Maha mengetahui apa yang kamu kerjakan. ".(QS. Al Ahzaab 2)

Dan FirmanNya pula :

Dan ikutilah sebaik-baik apa yang telah diturunkan kepadamu dari Tuhanmu sebelum datang azab kepadamu dengan tiba-tiba, sedang kamu tidak menyadarinya, (QS.Az Zumar : 55)

Dan FirmanNya pula :

Kemudian kami jadikan kamu berada di atas suatu syariat (peraturan) dari urusan (agama itu), Maka ikutilah syariat itu dan janganlah kamu ikuti hawa nafsu orang-orang yang tidak Mengetahui. (QS.Al Jatsiyah : 18)

Dalam ayat yang lainnya Allah ta'la menjadikan sikap mengikuti Rasulullah j sebagai bukti kecintaan seseorang kepada-Nya dan sebagai sebab mendapatkan maghfiroh (ampunan) dari-Nya, Allah ta'la menyatakan :

Katakanlah: "Jika kalian (benar-benar) mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah mencintai dan mengampuni dosa-dosa kalian." Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. (QS. Ali Imran : 31)

Di ayat yang lain Allah ta'la memerintahkan segenap kaum muslimin untuk kembali kepada bimbingan Allah ta'la dan Rasulullah j di saat terjadi perselisihan dan perbedaan pemahaman di kalangan mereka dalam semua perkara kehidupan mereka, dan ini sebagai bukti keimanan kepada Allah ta'la dan hari akhir serta sebagai solusi terbaik di masa sekarang dan akan datang. Allah ta'la berfirman :

Hai orang-orang yang beriman, ta'atilah Allah dan ta'atilah Rasul (Nya), dan ulil amri di antara kamu. Kemudian jika kamu berlainan pendapat tentang sesuatu, Maka kembalikanlah ia kepada Allah (Al Quran) dan Rasul (sunnahnya), jika kamu benar-benar beriman kepada Allah dan hari kemudian. yang demikian itu lebih utama (bagimu) dan lebih baik akibatnya. (QS. An Nisaa' : 59)

Inilah sikap dan prinsip yang harus ditunjukkan oleh setiap muslim yakni mendengar dan menta'ati bimbingan Allah k dan Rasulullah j, Allah ta'la berfirman:

Sesungguhnya jawaban orang-orang mukmin, bila mereka dipanggil kepada Allah dan rasul-Nya agar Rasul menghukum (mengadili) di antara mereka ialah ucapan. "Kami mendengar, dan kami patuh". dan mereka itulah orang-orang yang beruntung. (QS. An Nuur : 51)

Allah ta'la juga berfirman :

Dan tidaklah patut bagi laki-laki yang mukmin dan tidak (pula) bagi perempuan yang mukmin, apabila Allah dan rasul-Nya telah menetapkan suatu ketetapan, akan ada bagi mereka pilihan (yang lain) tentang urusan mereka. dan barangsiapa mendurhakai Allah dan rasul-Nya Maka sungguhlah dia telah sesat dengan kesesatan yang nyata. (QS. Al Ahzab : 36)

Ayat yang paling jelas dan gamblang menjelaskan prinsip ini adalah
Firman Allah ta'la

Apa-apa yang diberikan Rasul kepada kalian, maka terimalah. dan apa yang dilarangnya bagi kalian, maka tinggalkanlah. (QS. Al Hasyr : 7)

Ayat di atas diuraikan dengan sabda Rasulullah Shalallahu 'alaihi wa salam

مَانَهَيْتُكُمْ عَنْهُ فَاجْتَنِبُوْهُ وَمَا أَمَرْتُكُمْ بِهِ فَأْتُوْا مِنْهُ مَااسْتَطَعْتُمْ
Artinya " Apa saja yang aku melarang kalian daripadanya maka jauhilah dan apa saja yang aku memerintahkan kepada kalian untuk melaksanakannya maka kerjakanlah semampu kalian." (HR. Bukhary 13/251 – Fath dan Muslim 1337 dari Abu Huroiroh radliallahu anhu)

Dan masih banyak lagi ayat-ayat Al Qur'an yang dengan jelas dan tegas memerintahkan kaum muslimin untuk mengikuti bimbingan Al Qur'an dan Sunnah (ajaran) Rasulullah Shalallahu 'alaihi wa salam, menjadikan keduanya sebagai ideologi dan barometer dalam menjalani kehidupan dunia menuju alam akhirat yang kekal abadi
.
Belum lagi ayat-ayat yang mewajibkan kaum muslimin untuk menta'ati Allah dan Rasulullah Shalallahu 'alaihi wa salam yang itu merupakan bukti kejujuran seseorang dalam berupaya kembali dan mengikuti bimbingan Allah ta'ala dan Rasulullah Shalallahu 'alaihi wa salam.Ayat yang berbicara tentang masalah ini, jumlahnya tidak hanya satu, dua ayat namun puluhan, bahkan Al Imam Abu Bakr Muhammad bin Al Husein Al Ajurry yang wafat tahun 360 H. salah satu seorang imam besar madzhab Syafi'iyah pada zamannya menyebutkan ayat tentang masalah ini mencapai lebih dari 30 ayat di dalam Al Qur'an, periksa kitab Beliau " Asy Syari'ah " halaman 395 cetakan Darul Bashiroh Iskandariyah Mesir tanpa tahun

Ini semua menunjukkan dengan gamblang bahwa masalah ini adalah prinsip mendasar yang harus diyakini dan diamalkan oleh setiap muslim, adapun Hadits-hadits Rasulullah Shalallahu 'alaihi wa salam yang menjelaskan kewajiban kembali kepada bimbingan Allah ta'ala dan Rasulullah Shalallahu 'alaihi wa salam sangatlah banyak. Berikut ini akan kita bawakan beberapa di antaranya agar kita semua semakin yakin dan mantap akan kebenaran prinsip ini.

Dari Abu Huroiroh, Rasulullah Shalallahu 'alaihi wa salam bersabda :

كُلُّ أُمَّتِيْ يَدْخُلُوْنَ الجَنَّةَ إِلاَّ مَنْ أَبَى قَالُوْا: وَمَنْ يَأْبَى؟ قَالَ: مَنْ أَطَاعَنِيْ دَخَلَ الجَنَّةَ وَمَنْ عَصَانِيْ فَقَدْ أَبَى

"Semua umatku akan masuk surga kecuali yang enggan, para Shahabat bertanya : 'Siapakah gerangan yang enggan itu ?' jawab Beliau, orang yang ta'at kepadaku dia masuk surga dan yang durhaka kepadaku maka sungguh dialah orang yang enggan itu." (HR. Bukhary 7280)

Dari Abu Huroiroh radliallahu'anhu, Rasulullah Shalallahu 'alaihi wa salam bersabda :

تَرَكْتُ فِيْكُمْ شَيْئَيْنِ لَنْ تُضلُّوْا بَعْدَهُمَا مَا تَمَسَّكْتُمْ بِهِمَا كِتَابَ اللهِ وَ سُنَّتِي
"Aku tinggalkan kepada kalian dua perkara, kalian tidak akan tersesat selama kalian berpegang dengannya. Yaitu Kitabullah dan Sunnahku." (HR. Al Hakim 1/93 dan Beliau menshahihkannya) Hadits ini memiliki banyak penguat.

 Dari Irbadl bin Sariyah, Rasulullah Shalallahu 'alaihi wa salam bersabda :

فَإِنَّهُ مَنْ يَعِشْ مِنْكُمْ فَسَيَرَى اخْتِلاَفًا كَثِيْرًا فَعَلَيْكُمْ بِسُنَّتِيْ وَسُنَّةِ الْخُلَفَاءِ الرَّاشِدِيْنَ المَهْدِيِّيْنَ مِنْ بَعْدِيْ تَمَسَّكُوْا بِهَا وَعَضُّوْا عَلَيْهَا بِالنَّوَاجِدِ

"Barangsiapa di antara kalian yang hidup nanti maka dia akan menyaksikan perselisihan yang banyak, maka wajib atas kalian berpegang teguh dengan sunnahku dan sunnah Khulafaur Rasyidin yang terbimbing sepeninggalku, pegangilah sunnahku dan gigitlah dengan geraham-geraham kalian." (HR. Abu Dawud 4607, At Tirmidzy 2676, Ibnu Majah 440 dan Ahmad 4/126 dengan sanad yang shahih)

Dan masih banyak lagi hadits yang menjelaskan prinsip mulia nan agung ini, Wallahul Muwaffiq.

Untuk melengkapi pembahasan ini dan semakin menjelaskan prinsip ini akan kita bawakan penjelasan ulama-ulama besar pada masa Shahabat dan generasi yang setelahnya yang semuanya mewajibkan kaum muslimin berpengang teguh dengan prinsip yang mulia ini, di antaranya :

Ubay bin Ka'ab a berkata, " Ikutilah oleh kalian sunnah Rasulullah dan janganlah kalian membikin kebid'ahan….."
(Riwayat Muhammad bin Nasher Al Marwazy dalam As Sunnah (28) dan Ibnu Wadldloh dalam Al Bida' (17)

Az Zuhry t berkata, "Berpegang teguh dengan sunnah adalah keselamatan" (riwayat Al Lalikaiy 15)

Abul Aliyah t berkata, "Wajib atas kalian berpegang teguh dengan sunnah nabi kalian dan apa yang dijalani oleh para Shahabat ". (riwayat Abdur Rozzaq dalam Al Mushonnaf 20758, Al Marwazy dalam Sunnah 8 dan Lalikaiy 17)

Al Auza'iy t berkata, "Kita berjalan bersama dengan Sunnah kemanapun dia berjalan." (riwayat Al Lalikaiy 47)

PASAL II

ANCAMAN KERAS
BAGI SIAPA SAJA YANG MENENTANG DAN MENYELISIHI
SUNNAH RASULULLAH Shalallahu 'alaihi wa salam


Di antara argumentasi yang tegas dan akurat untuk menunjukkan kewajiban kembali kepada bimbingan Allah dan Rasulullah Shalallahu 'alaihi wa salam adalah adanya larangan dan ancaman keras bagi siapa saja yang berani menentang dan menyelisihi prinsip yang mulia ini. Ada beberapa ayat dan hadits yang menjelaskan permasalahan ini, berikut ini penjabarannya.
Allah ta'ala berfirman ;

“Maka hendaklah orang-orang yang menyalahi perintah-Nya takut akan ditimpa cobaan atau ditimpa azab yang pedih” (QS. An Nuur 63)

Kalimat (perintahNya) dalam ayat di atas ada sebagian ahli tafsir yang mengatakan : ‘Yang dimaksud adalah perintah Nabi dan adalagi yang mengatakan perintah Allah , kedua pendapat ini tidak bertentangan sebab yang memerintah pada hakikatnya adalah Allah ta'ala sementara Rasulullah Shalallahu 'alaihi wa salam sebagai muballigh-Nya.
Dalam ayat yang mulia di atas Allah mengancam siapa saja yang menyelisihi perintahNya atau perintah RasulNya atau perintah keduaNya dengan dua jenis hukuman yang keras, yang satu hukuman dunia dan yang lainnya adalah hukuman akhirat :

1. Ditimpa fitnah didunia
- Para ulama menjelaskan maksud fitnah dalam ayat ini dengan uraian yang beragam :
Fitnah adalah pembunuhan
Fitnah adalah Gempa
Fitnah adalah berkuasanya penguasa bengis dan kejam memimpin rakyat
Fitnah adalah hati mereka akan tertutup dari kebenaran
Semua makna di atas bisa dipakai untuk menjelaskan maksud fitnah sebab lafadh fitnah pada ayat di atas bersifat umum.

- Dengan penafsiran di atas jelas menunjukkan bahwa di antara akibat menentang sunnah adalah maraknya pembunuhan dengan berbagai macam modus, seringnya terjadi bencana alam seperti gempa, banjir, longsor, tsunami dan lain sebagainya. Masyarakat menjadi buta mata hatinya tanpa melihat lagi sisi kebenarannya secara syar'i dan juga Allah akan menguasakan atas mereka para pemimpin-pemimpin yang jahat, sadis, kejam, bengis, tidak ada rasa kasih pada rakyatnya dan segala macam perangai jahat seorang penguasa.

- Sungguh sangat mengerikan hukuman duniawi ini sebagai akibat dari perbuatan menentang sunnah Rasulullah j apalagi hukuman di akhirat nanti.
2. Ditimpa adzab yang pedih di akhirat.
Ini semua menujukkan kewajiban kembali kepada sunnah Rasulullah j dan keharaman menyelisihi dan menentangnya.
- Lihat uraian tentang ayat di atas dalam tafsir Fathul Qodir karya Imam Asy Syaukany 4/79 cetakan 2 Darul Wafa' Al Manshuroh Mesir Th. 1997 M.
- Allah juga berfirman :

“Dan barangsiapa yang menentang Rasul sesudah jelas kebenaran baginya, dan mengikuti jalan yang bukan jalan orang-orang mukmin, kami biarkan ia leluasa terhadap kesesatan yang telah dikuasainya itu dan kami masukkan ia ke dalam Jahannam, dan Jahannam itu seburuk-buruk tempat kembali”. (QS. An Nisaa' : 115)

Dalam ayat yang mulia ini ada ancaman yang tegas bagi orang-orang yang menentang Rasulullah j setelah dia tahu bahwa apa yang Beliau bawa adalah al Haq, ada dua ancaman dalam ayat ini :
 Di dunia yaitu Allah akan menyimpangkan dia kemana saja yang dia inginkan oleh selera hawa nafsunya
 Di akhirat yaitu Allah akan memasukkan dia kedalam neraka Jahannam sebagai tempat kembalinya yang sangat hina dina dan mengerikan. Wallahul Musta'an

- Allah berfirman :

“Maka demi Tuhanmu, mereka (pada hakekatnya) tidak beriman hingga mereka menjadikan kamu Hakim terhadap perkara yang mereka perselisihkan, Kemudian mereka tidak merasa dalam hati mereka sesuatu keberatan terhadap putusan yang kamu berikan, dan mereka menerima dengan sepenuhnya”. (QS. An Nisaa' : 65)

Ayat yang mulia ini juga secara tegas menunjukkan bahwa Allah meniadakan keimanan dari seseorang hingga dia menjadikan Rasulullah j sebagai Hakim yang memutuskan semua permasalahannya, lalu dia patuh, tunduk dan menerima keputusan Beliau dengan lapang dada dan penuh suka cita.

Maka siapa saja yang tidak memiliki prinsip di atas maka dia akan terancam keimanannya, bisa berkurang atau bahkan bisa pupus tergantung dari tingkatan penentangan dia terhadap sunnah Rasulullah j

Wallahul Musta'an

Begitu pula dalam hadits-hadits yang shahih banyak terdapat ancaman dan hukuman bagi para penentang dan yang menyimpang dari prinsip agama yang mulia ini
.
Penjelasan para ulama di setiap generasi dari mulai masa shahabat sampai masa para imam besar semisal, Imam Malik, Asy Syafi'ie, Ahmad dan lain-lain. Juga sama dengan yang dijelaskan dalam Al Qur'an dan As Sunnah.

Ringkas kata Al Imam Al Lalikaiy Hibatullah bin Al Hasan (wafat th. 418) dalam karya besarnya Sarah Ushul I'tiqod Ahlus Sunnah Wal Jama'ah Juz I/22 cetakan Dar Thoyyibah tanpa tahun menyatakan : "…. Maka kami tidak mendapat dalam Kitabullah, Sunnah Rasulullah dan penjelasan para Shahabat melainkan ajakan (anjuran) untuk ittiba' (mengikuti sunnah) dan larangan memberat-beratkan diri dan kebid'ahan…"





PASAL III

KEHARUSAN KEMBALI KEPADA
PEMAHAMAN GENERASI TERBAIK UMAT INI


Ketahuilah! Semoga Allah memberi hidayah kepada kita semua bahwa Al Qur'an dan Sunnah tidak boleh dipahami sesuai selera hawa nafsu kita atau kepentingan, perasaan dan adat istiadat kita.
Al Qur'an dan Sunnah haruslah dipahami dengan pemahaman orang yang tahu seluk beluk keduanya, dan mereka adalah generasi terbaik umat ini dari kalangan para shahabat, para tabi'in dan atba'ut tabi'in serta para imam besar yang diakui keilmuannya oleh kaum muslimin yang sejalan dengan langkah yang ditempuh oleh para pendahulunya.

Banyak dalil yang menjelaskan tentang keharaman berbicara dalam perkara agama tanpa ilmu, di antaranya adalah Firman Allah

"Dan janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak mempunyai pengetahuan tentangnya. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan hati, semuanya itu akan dimintai pertanggung jawabannya." (QS. Al Israa' : 36)

Allah juga berfirman, menjelaskan tentang hal-hal yang diharamkannya dimulai yang paling ringan dosanya dan diakhiri dengan yang paling berat.

"Katakanlah: "Tuhanku hanya mengharamkan perbuatan yang keji, baik yang nampak ataupun yang tersembunyi, dan perbuatan dosa, melanggar hak manusia tanpa alasan yang benar, (mengharamkan) mempersekutukan Allah dengan sesuatu yang Allah tidak menurunkan hujjah untuk itu dan (mengharamkan) mengada-adakan terhadap Allah apa yang tidak kamu ketahui." (QS. Al A'raaf : 33)

Dalam ayat ini Allah k jadikan tindakan berbicara atas nama Allah tanpa dasar ilmu sebagai dosa diurutkan terakhir yang itu menunjukkan bahwa tindakan tersebut adalah dosa terberat, bahkan dalam ayat di atas tindakan tersebut disebutkan setelah dosa kesyirikan kepada Allah
.
Dengan dasar ayat ini para ulama menyatakan bahwa berbicara tentang agama tanpa ilmu dosanya lebih besar daripada kesyirikan dari sisi kalau kesyirikan pada umumnya hanya berhubungan dengan pelakunya saja, sedangkan berbicara tanpa ilmu dampaknya meluas mengenai segenap kaum muslimin yang terpengaruh dengannya.

Oleh karena itu berbicara tentang agama ini, memahami ayat dan hadits Rasulullah j haruslah diserahkan kepada ahlinya yang mengerti betul maksudnya, dan mereka itu adalah generasi terbaik umat ini! Berikut ini argument yang kuat yang mengharuskan kita meruju' kepada pemahaman mereka ;

1. Mereka adalah generasi yang disanjung dan dipuji oleh Allah k dan Rasulullah Shalallahu 'alaihi wa salam , Allah berfirman :

" Orang-orang yang terdahulu lagi yang pertama-tama (masuk Islam) dari golongan Muhajirin dan Anshar dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik, Allah ridha kepada mereka dan merekapun ridha kepada Allah dan Allah menyediakan bagi mereka Surga - Surga yang mengalir sungai-sungai di dalamnya selama-lamanya. mereka kekal di dalamnya. Itulah kemenangan yang besar." (QS. At Taubah : 100)

2. Mereka itulah generasi pertama yang dimaksud dengan "sebaik-baik umat" adapun yang setelah mereka maka akan mendapat predikat ini bila sejalan dengan mereka, Allah berfirman :

"Kalian adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang ma'ruf, dan mencegah dari yang munkar, dan beriman kepada Allah." (QS. Ali Imron 110)

3. Mereka adalah generasi terbaik umat ini dengan persaksian Rasulullah j dalam sabdanya ;

خَيْرَ النَّاسِ قَرْنِيْ ثُمَّ الَّذِيْنَ يَلُوْنَهُمْ ثُمَّ الَّذِيْنَ يَلُوْنَهُمْ


"Sebaik-baik orang adalah generasiku (shahabat) kemudian setelah mereka (tabi'in)dan kemudian setelah mereka (tabi'ut tabi'in)."

4. Al Imam Al Hafidz Al Hasan Al Basri menguraikan sifat kemuliaan mereka dengan perkataanya :
"Sesunguhnya mereka (shahabat) adalah orang-orang yang paling baik hatinya di kalangan umat ini dan yang paling dalam umurnya dan paling jarang bersifat memberat-berakan diri. Mereka adalah suatu kaum yang dipilih oleh Allah k untuk menemani Nabi"
Lalu beliau menasehatkan :
"Hendaklah kalian mencontoh akhlaq dan jalan hidup yang mereka tempuh sebab mereka itu demi Allah Rabbnya Ka'bah sungguh di atas bimbingan yang lurus" (Riwayat Ibnu Abdil Bar dalam Al Jami' 2/97 lihat Dzamnut Takwil halaman 39)

5. Mereka adalah orang-orang yang menyaksikan langsung turunnya wahyu. Mereka tahu kapan turunnya (ayat) di mana turunnya dan tentang apa diturunkannya serta bagaimana kronologinya.

6. Mereka adalah orang-orang yang mendengar langsung sabda-sabda Rasulullah Shalallahu 'alaihi wa salam dan menyaksikan langsung amaliah dan kehidupan Beliau Shalallahu 'alaihi wa salam

7. Kita semua tahu bahwa Al Qur'an dan Sunnah menggunakan bahasa Arab yang jelas sedang mereka adalah suku Arab yang pada masa itu telah mencapai puncak kefasihan sastra Arab. Al Qur'an turun dengan bahasa mereka dan Rasulullah Shalallahu 'alaihi wa salam dari kalangan mereka dan bersabda dengan bahasa mereka.

8. Mereka adalah orang-orang yang langsung dididik (digembleng) oleh Rasulullah j sehingga kalaupun ada hal-hal rumit yang tidak mereka fahami di tengah-tengah mereka maka ada seorang Rasul yang menjelaskan dan menguraikannya.

Dan masih banyak lagi argumentsi lainnya bahkan ada 46 argumentasi dalam masalah ini sebagaimana yang dijabarkan oleh Imam besar Madzhab Hambali pada masanya, yaitu Ibnul Qoyyim Al Jauziyah dalam karya besarnya " I'lammul Muwaqqi'in " Juz 4/99 – 126 cet. 3 Darul Hadits Mesir th. 1997 M. / 1417 H.





PASAL IV

PRINSIP ISLAM
DALAM BERHUBUNGAN DENGAN PEMERINTAH


Bila prinsip yang mulia di atas dapat dipahami dengan baik maka pembicaraan tentang masalah yang berhubungan dengan penguasa atau pemerintahpun harus selalu dalam koridor prinsip tadi, tidak bisa dengan semata-mata semangat kebangsaan dan jiwa patriotis apalagi dengan selera hawa nafsu untuk memuaskan ambisi kekuasaan.
Berikut ini akan kita ulas prinsip besar yang diajarkan di dalam Islam sehubungan dengan muamalah terhadap pemerintah supaya kita semua hidup berjalan di atas bimbingan ilmu dan dalam naungan sunnah Rasulullah Shalallahu 'alaihi wa salam .
Ketahuilah! Semoga Allah memberi taufik kepada kita semua bahwa Islam memerintahkan segenap kaum Muslimin untuk mendengar dan menta'ati penguasa mereka yang muslim. Hal ini termaktub dengan jelas di dalam Al Qur'an dan Sunnah serta penjelasan para ulama. Allah berfirman

"Hai orang-orang yang beriman, ta'atilah Allah dan ta'atilah Rasul (nya), dan ulil amri di antara kalian." (QS. An Nisaa' : 59)

Yang dimaksud dengan ulil amri dalam ayat di atas adalah para umaro' (para penguasa) dan ini adalah pendapat mayoritas ulama dahulu maupun sekarang, baik dari pakar hadits, ahli tafsir atau imam fiqh. Sebagaimana yang dinukil oleh Imam Nawawi dalam Syarah Shahih Muslim 12/223.
Keta'atan kepada penguasa muslim adalah kewajiban setiap Muslim di manapun dia berada dari manapun asal dan apapun statusnya. Rasulullah Shalallahu 'alaihi wa salam bersabda :

عَلَى الْمَرْءِ الْمُسْلِمِ السَّمْعُ وَالطَّاعَةُ فِيْمَا أَحَبَّ وَكَرِهَ

"Wajib atas setiap muslim untuk mendengar dan ta'at dalam perkara yang disukai atau yang dia benci…" (Muttafaqun 'Alaih dari Ibnu Umar )

Keta'atan pada penguasa, berlaku untuk semua jenis penguasa muslim bagaimanapun keadaannya, baik itu adil atau dholim, dari bangsa budak atapun merdeka, baik fisiknya bagus atau rusak.
Dari Ady bin Hatim a beliau bertanya : "Wahai Rasulullah Shalallahu 'alaihi wa salam ! kami tidak bertanya tentang keta'atatan kepada penguasa yang bertaqwa, namun penguasa yang berbuat begini dan begitu, lalu beliau menyebutkan kejelekan?" Jawab Beliau Shalallahu 'alaihi wa salam : "Bertakwalah kalian kepada Allah , dengarkan dan ta'atilah dia!!" (HR. Ibnu Abi Ashim dalam 'As Sunnah' [1069])

Rasulullah Shalallahu 'alaihi wa salam juga bersabda :
إِنْ أُمِرَعَلَيْكُمْ عَبْدٌحَبَشِيٌّ مُجَدَّعٌ فَاسْمَعُوْا وَأَطِيْعُوْا مَاقَادَكُمْ بِكِتَابِ اللهِ

"Walaupun kalian dipimpin oleh seorang budak Habasyah (Ethiopia) yang terpotong kedua telinganya, maka dengarkan dan ta'atilah dia, selama dia membimbing kalian dengan Kitabullah." (HR. Ibnu Abi Ashim dalam 'As Sunnah' [1063])

Bahkan penguasa yang bengis seperti perangai syaithon dengan sistem pemerintahannya yang tidak islami sekalipun, tetap diwajibkan mendengar dan menta'atinya selama dia masih Muslim. Hal ini terekam dalam hadits Hudzaifah bin Al Yaman riwayat Muslim (1847-52), Rasulullah Shalallahu 'alaihi wa salam bersabda :

يَكُوْنُ بَعْدِيْ أَئِمَّةُ لاَ يَهْتَدُوْنَ بِهُدَايَ وَلاَ يَسْتَنُّوْنَ بِسُنَّتِيْ أَوْ سَيَقُوْمُ فِيْهِمْ رِجَالٌ قُلُوْبُهُمْ قُلُوْبُ الشَّيَاطِيْنِ في جُسْمَانِ إِنْس قُلْتُ: كَيْفَ أَصْنَعُ يَارَسُوْلَ اللهِ ! إِنْ أَدْرَكْتُ ذلِكَ ؟ قَالَ: تَسْمَعُ وَتُطِيْعُ لِلأَمِيْرِ وَإِنْ ضُرِبَ ظَهْرُكَ وَأُخِذَ مَالُكَ فَاسْمَعْ وَأَطِعْ

"Akan ada sepeninggalku nanti para pemimpin, mereka tidak terbimbing dengan petunjukku dan tidak menjadikan sunnahku sebagai pedomannya dan akan muncul pada mereka orang-orang yang hatinya (seperti) hati syaithon dalam jasad manusia" saya bertanya " 'Wahai Rasulullah, apa yang harus aku perbuat bila aku mendapati hal itu?' jawab Beliau Shalallahu 'alaihi wa salam : "Engkau mendengar dan menta'ati sang penguasa walaupun punggungmu dicambuk dan hartamu dirampas, dengarkanlah dan ta'atilah…!"

Demikianlah dengan jelas dan gamblang, prinsip ini diuraikan oleh Rasulullah Shalallahu 'alaihi wa salam , sehingga tidak ada yang samar dalam bab ini, untuk itulah para ulama kita dahulu sampai sekarang bersepakat untuk mendengar dan ta'at kepada penguasa yang muslim.
Yang juga perlu diingat adalah bahwa keta'atan kepada penguasa itu berlaku untuk setiap penguasa muslim yang sah, baik diangkat dengan cara yang sesuai syar'i yaitu penunjukan dari penguasa sebelumnya seperti yang dilakukan oleh Abu Bakar a ketika menunjuk Umar ataupun dengan kesepakatan Ahlul Halli Wal Aqdi seperti pengangkatan Utsman maupun dengan cara yang melanggar syar'i seperti denan kudeta militer atau semisalnya, hal ini dengan kesepakatan para ahli fiqh sebagaimana yang dinukil oleh Imam besar Madzhab Safi'iyah pada masanya yaitu Al Hafidz Ibnu Hajar Al Asqolany . Beliau berkata menukil ucapan Ibnu Baththol :

" Para ahli fiqh telah sepakat tentang kewajiban menta'ati penguasa yang berkuasa dengan kudeta dan berjihad bersamanya, dan bahwasanya keta'atan kepadanya lebih baik dari pada memberontak kepadanya sebab dengan itu akan terjaga darah (kaum muslimin) dan keadaan akan kondusif." (Fathul Baary 14/496, Cet I, Daarul Fikr-Lebanon-Beirut-th. 1995 M/1415 H.)

Yang tidak kalah penting untuk diketahui adalah bahwa penguasa yang harus dita'ati adalah bukan hanya penguasa tunggal yang menguasai kaum muslimin seluruh dunia, Tapi juga penguasa Muslim yang menguasai wilayah - wilayah kaum Muslimin seperti sekarang ini, sebab kaum Muslimin belum lagi punya khalifah akbar semenjak pertengahan daulah Abbasiyah, demikian yang diuraikan oleh Ash Shon'any dalam 'Subulus Salam' (3/486-487 cet. I Darul Fikr-Beirut-th. 1991 M/1411 H.)

Keta'atan ini berlaku untuk para penguasa Muslim apapun namanya baik itu Presiden, Perdana Menteri, Raja, Sulthan atau yang lain, bahkan juga kepada jajaran pemerintah militer atau sipil dari pusat hingga tingkat desa, demikin yang dijelaskan oleh Syaikh Ibnul Utsaimin dalam 'Syarah Aqidah Safariniyah' hal 670 cet. Darul Bashiroh-Iskandariyah-Mesir tanpa tahun.

Bila hal di atas telah dipahami, maka ketauhilah! Semoga Allah merahmati kita bahwa keta'atan kepada penguasa muslim tidaklah secara mutlaq namun berkait dengan suatu ketentuan yaitu "selama tidak bermaksiat kepada Allah "

Bila ada unsur kemaksiatan, maka tidak boleh didengarkan dan dita'ati, hal ini ditegaskan oleh Rasulullah Shalallahu 'alaihi wa salam dalam sabdanya :

عَلَى الْمَرْءِ الْمُسْلِمِ السَّمْعُ وَالطَّاعَةُ فِيْمَا أَحَبَّ وَكَرِهَ إِلاَّ أَنْ يُؤْمَرَ بِمَعْصِيَّةٍ فَإِنْ أُمِرَ ِبمَعْصِيَّةٍ فَلاَ سَمْعَ وَلاَ طَاعَةَ

"Wajib atas setiap muslim untuk mendengar dan ta'at dalam perkara yang dia suka dan dia benci kecuali bila diperintah dengan kemaksiatan, bila diperintah demikian maka tidak didengarkan dan dita'ati." (Muttafaq 'Alaih dari Ibnu Umar )

Dalam hadits Ali bin Abi Tholib riwayat Al Bukhari (7145), Rasulullah Shalallahu 'alaihi wa salam menegaskan :
إِنَّمَا الطَّاعَةُ في الْمَعْرُوْفِ
"Sesungguhnya keta'atan itu hanya dalam perkara kebaikan."

Namun bukan berarti diperbolehkan untuk memberontak dan melepaskan keta'atan, banyak hadits yang melarang pemberontakan, ringkasnya apa yang diuraikan oleh Imam Harb Al Karmany dalam 'Al Aqidah' yang dia nukil dari seluruh ulama terdahulu :

"Bila sang penguasa memerintahkan sesuatu yang ada unsur kemaksiatan kepada Allah maka engkau tidak boleh menta'atinya dan juga tidak boleh memberontaknya dan menghalangi haknya." (Lihat Aqidah Ahlul Islam hal. 20 karya Abdussalam Barjis)

Dengan uraian di atas dapat kita simpulkan bahwa perintah atau himbauan pemerintah terbagi menjadi beberapa bagian :

1. Perintah tersebut sesuai dengan apa yang diperintahkan oleh Allah dan Rasulullah Shalallahu 'alaihi wa salam , maka wajib untuk dita'ati.

2. Perintah tersebut dalam perkara duniawi untuk kemaslahatan umum yang tidak ada unsur kemaksiatan padanya, maka wajib dita'ati, seperti rambu-rambu lalu lintas, memakai helm, sabuk pengaman dan sebagainya.

3. Perintah tersebut ada unsur kemaksiatan kepada Allah , maka tidak dita'ati. Demikian ringkasan penjelasan Syaikh Ibnul Utsaimin sebagaimana dalam fatawa syar'iyah hal. 83-85. Wallahul Muwaffiq

Maka dengan dasar prinsip di atas dan semata-mata ikhlas mengharap ridlo Allah k bukan karena tendensi tertentu, bukan pula karena kepentingan pribadi ataupun golongan, kami menyatakan :
1. NKRI adalah Negara berdaulat sebagai Negara tempat mayoritas kaum muslim berdomisili.
2. Bapak President Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) dan Wakil President Yusuf Kalla adalah pemimpin Negara yang sah, harus didengar dan dita'ati dalam rangka ta'at kepada Allah
3. Mendukung program / perintah / himbauan Pemerintah yang bersifat positif sesuai dengan bimbingan Allah dan Rasulullah Shalallahu 'alaihi wa salam
4. Dengan ucapan maaf beribu maaf yang sebesar-besarnya, kita tidak bisa menta'ati perintah / himbauan Pemerintah yang bertentangan dengan ketentuan syariat bukan karena kita anti pemerintah bukan pula karena hendak memberontak namun semata-mata karena prinsip islam yang harus kita pegangi dan kita dahulukan di atas segala-galanya.
Seorang Muslim yang ta'at dan baik, tentu akan mendahulukan perintah pencipta-Nya dan Rasul-Nya dari pada perintah manusia manapun.
Apalagi Allah menegaskan hal ini dalam firmanNya :

Hai orang-orang yang beriman, janganlah kalian mendahului Allah dan Rasulnya dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha mendengar lagi Maha Mengetahui]

5. Justru ketidaktaatan seorang muslim kepada pemerintahnya di saat dia diperintah untuk bermaksiat adalah bukti kecintaan dia kepada pemerintah tersebut, dia tidak mau penguasanya menanggung dosa sekian banyak rakyatnya akibat kemaksiatan tadi. Semua orang yang berakal akan memahami masalah ini, sama halnya dengan seorang bapak yang memukul atau menasehati anaknya ketika dia nakal, bukan berarti bapak tersebut tidak cinta kepada anaknya, namun justru tindakannya tadi sebagai bukti kecintaannya kepada sang anak, kalau sang bapak tersebut tidak cinta lagi sama sang anak, maka dia tidak akan menggubrisnya dan membiarkannya sesuai keinginannya. Wallahul Muwafiq
Dalam kesempatan ini ada beberapa perkara yang perlu kita angkat ke permukaan untuk diketahui dengan jelas, bahwa seorang muslim tidak bisa mentaati penguasanya. Dalam hal tersebut, semoga dapat dimaklumi oleh pemerintah NKRI

I. Perayaan Ulang Tahun hari besar terkhusus HUT RI

Sesuatu acara yang berulang-berulang tiap bulan atau tahun disertai serangkaian amalan dan perkumpulan orang yang dalam Islam disebut dengan 'Ied (hari raya).
Dalam prespektif islam, 'ied adalah suatu amalan yang bernilai ibadah, padanya disyaria'atkan serangkaian amalan ibadah untuk bertaqarrub kepada Allah k sekaligus ada serangkaian untuk melakukan hal-hal yang mubah (boleh).
Dalam realita ajaran islam, 'ied ditetapkan setelah melakukan ibadah-ibadah besar, 'Iedul Fitri ditetapkan setelah ibadah puasa Ramadhan, 'Iedul Adha adalah setelah dan ditengah-tengah ibadah haji.
Bukti bahwa 'ied adalah kegiatan ibadah yang tidak dapat keluar dari koridor syar'i.adalah bahwa kita semua tahu, dalam islam hanya ada 2 'ied dalam setahun yaitu 'Iedul Fitri dan 'Iedul Adha, hal ini dijelaskan dengan gamblang dalam hadits Anas bin Malik a Beliau berkata :
"Rasulullah j datang dalam keadaan penduduk Madinah memiliki 2 hari yang mereka biasa bermain-main padanya di masa Jahiliyah (yaitu hari Nairuz dan Mahrojan, pent.), Beliau bersabda :

قَدِمْتُ عَلَيْكُمْ وَلَكُمْ يَوْمَانِ تَلْعَبُوْنَ فِيْهِمَا في الجَاهلِيِّةِ وَقَدْ أَبْدَلَكُمْ الله ُبِهِمَا خَيْرًا مِنْهُمَا يَوْمَ النًّحْرِوَيَوْمَ الفِتْرِ

"Saya datang kepada kalian, sedang kalian punya 2 hari yang kalian biasa bermain-main padanya di masa jahiliyah, sungguh Allah k telah mengganti kedua hari itu dengan 2 hari yang lebih baik bagi kalian, yaitu hari Nahr (Adha) dan hari Fitri." (HR. Ahmad 3/103,178,253, Abu Dawud 1134 dan An Nasaa'I 3/179 dengan sanad Shahih)
Perhatikanlah hadits di atas, Rasulullah Shalallahu 'alaihi wa salam mengganti perayaan penduduk madinah dengan 2 hari raya besar Islam, karena :
1. Perayaan mereka itu menyerupai 'iednya bangsa Romawi dan Persia, sebab hari Nairuz dan Mahrojan adalah hari besar mereka.
2. Dua hari raya Islam lebih baik dan itu adalah ketentuan dari Allah k yang tidak bisa ditambah.
Kalau seandainya melakukan kegiatan ulang tahun itu tidak masalah dalam Islam, niscaya Rasulullah Shalallahu 'alaihi wa salam tidak akan melarang mereka, ini menunjukkan bahwa urusan ultah harus ada bimbingannya dalam sunnah.
Karena itulah As Syaikh Ali Hasan Al Lahaby dalam kitabnya ' Ahkamul Iedain ' halaman 14 menegaskan :
“Adapun di masa sekarang, maka hari-hari raya ini hampir tidak dapat dihitung di setiap negeri-negeri Islam apalagi negeri selain islam, engkau melihat adalah perayaan ultah untuk kubah-kubah, kuburan-kuburan, seseorang, Negara, dan lain sebagainya dari acara perayaan yang tidak diizinkan oleh Allah k, bahkan hal tersebut dalam sebagian konsensus bahwa Muslimin India mempunyai 144 perayaan dalam setahun”.


II. Sumbangan acara Agustusan

Biasanya dalam bulan Agustus para pamong desa meminta dana Agustusan di masyarakat untuk mensukseskan beragam agenda acara yang mereka buat, seringnya disebutkan minimalnya.
Bila kita memahami apa yang telah diuraikan di atas, maka kita akan tahu bahwa penarikan dana ini tidak sesuai syar'i dengan alasan sebagai berikut :
1. Termasuk membantu acara yang tidak ada bimibinganya dalam agama Islam. Allah berfirman :

“Dan tolong-menolonglah kamu dalam (mengerjakan) kebajikan dan takwa, dan jangan tolong-menolong dalam berbuat dosa dan pelanggaran." (QS. Al Maidah 2).

2. Penarikan dana tersebut tidak berdasar pada sebuah Perda sedikitpun bahkan terkesan memaksa, terbukti mereka marah bila ada yang tidak menyumbang.
Ketahuilah! Semoga Allah k menambahkan umur kepada kita, bahwa harta seorang muslim adalah haram untuk diambil kecuali dengan izin dan kerelaannya, maka menarik pungutan tanpa dasar syar'i termasuk memakan harta orang lain dengan kebatilan. Allah k menyatakan :

"Dan janganlah sebahagian kalian memakan harta sebahagian yang lain di antara kalian dengan jalan yang bathil dan (janganlah) kalian membawa (urusan) harta itu kepada Hakim, supaya kalian dapat memakan sebahagian daripada harta benda orang lain itu dengan (jalan berbuat) dosa, padahal kalian Mengetahui." (QS. Al Baqarah 188)
3. Uang tersebut dipergunakan untuk acara yang sia-sia, hanya bersenang-senang dan berfoya-foya. Walaupun ada sedikit unsur olah raga namun kemadlorotannya lebih banyak, di antaranya : Menghambur-hamburkan uang untuk perkara yang sia-sia, bercampurnya lelaki dan wanita, alunan musik yang bertalu-talu, keluarnya wanita dengan bersolek dan dandanan yang sengaja dipertunjukkan, adanya sikap fanatisme terhadap desanya masing-masing karena diperlombakan, tidak jarang terjadi tindakan anarkis antar anak desa, melalaikan sholat jama'ah pada waktunya, seringkali kita melihat mereka tidak mengubris panggilan adzan untuk menghadap Allah dan masih banyak lagi kerusakan yang lainnya.

Allah telah mengecam tindakan tabdzir (sia-sia) dan pelakunya tergolong saudara syaithon, FirmanNya :

"Dan janganlah kamu menghambur-hamburkan (hartamu) secara boros.. Sesungguhnya pemboros-pemboros itu adalah saudara-saudara syaihon dan syaithon itu adalah sangat ingkar kepada Robbnya." (QS. Al Israa' 26-27)

Dan ini adalah tindakan yang sangat dibenci oleh Allah , Rasulullah Shalallahu 'alaihi wa salam bersabda :

إِنَّ الله َكَرِهَ لَكُمْ ثَلاَثًا ... وَإِضَاعَةِ الْمَالِ
"Sesungguhnya Allah k membenci tiag perkara dari kalian …. dan menyia-nyiakan harta." (HR. Muslim 1715)

Bagaimana mungkin kita bisa bergembira bila tindakan tadi dibenci dan dikecam oleh Allah k? siapa yang mau digolongkan dengan saudara-saudara syaithon? Orang yang berakal sehat tentu akan menghindar dari hal-hal demikian.
Seharusnya kita berpikir jernih, bukankah dahulu para pejuang kita membebaskan bumi pertiwi ini dari kungkungan penjajah dengan tetesan darah dan air mata? Mengorbankan jiwa raga, harta benda, sabar dalam berjuang dan menanggung penderitaan demi penderitaan? Akankah kita generasi masa kini membalas budi bakti mereka dengan tindakan sia-sia, foya-foya, senang-senang yang dibenci oleh Allah k bergembira di atas penderitaan orang lain? Apakah kita tidak melihat bahwa bangsa ini sedang terjajah justru oleh anak-anak bangsa sendiri? Dapatkah hati kita lapang ketika di saat yang sama kita menyaksikan anak-anak bangsa dirundung duka dengan bencana yang menimpa mereka? Sekali lagi, akankah kita bisa tenang berbahagia di saat anak-anak bangsa sendiri menderita?

Coba kita pikirkan, kalau seadainya dana tersebut dikumpulkan, anggaplah satu desa bisa mengumpulkan satu juta, berapa ribu desa yang ada ditanah air dari Sabang sampai Merauke? Niscaya, akan terkumpul uang milyaran bahkan triliyunan rupiah, coba kalau uang itu dialokasikan ke anak bangsa yang dirundung musibah, tentunya akan sangat membantu dan menyenangkan hati mereka, pikirkanlah hal ini baik – baik wahai anak bangsa !!!.

III. Pemasangan bendera merah putih untuk hari-hari besar nasional terkhusus HUT RI.

Perlu dipahami, bahwa kita tidak mengingkari keberadaan bendera di sebuah Negara, karena hal itu ada pada masa Rasulullah j , demikian pula masalah warna bendera, pada dasarnya tidak mengapa selama tidak ada padanya hal-hal yang melanggar syar'i seperti gambar bernyawa, simbol-simbol khusus orang kafir dan sebagainya.
Di zaman Rasulullah j bendera Beliau ada yang berwarna putih adapula yang berwarna hitam, dari Ibnu Abbas a Beliau berkata : "Dahulu bendera Rasulullah j berwarna hitam." (HR. Ahmad, Tirmidzi dengan sanad hasan.)
Dalam riwayat At Tirmidzi disebutkan "Bendera Beliau Shalallahu 'alaihi wa salam berwarna putih."
Dengan dasar ini, maka kami mengakui keberadaan bendera merah putih untuk negeri kita yang tercinta NKRI.
Namun, kita perlu menengok sunnah Rasulullah Shalallahu 'alaihi wa salam dalam masalah bendera ini, apa fungsi dan kegunaannya?
Dalam banyak riwayat di sebutkan bahwa bendera ini difungsikan oleh Rasulullah Shalallahu 'alaihi wa salam untuk berjihad fisabilillah melawan orang-orang kafir, orang yang menelaah sejarah beliau akan dapat memastikan hal ini, bahkan kalau kita melihat dalam sejarah, mereka (para shahabat) mempertahankan bendera itu sampai titik darah penghabisan, sedikitpun tidak membiarkan bendera itu jatuh ketanah walaupun harus mengorbankan jiwa raga mereka.
Berikut ini saya bawakan beberapa riwayat yang menjelaskan masalah ini.
Dari Sahl bin Sa'id a, bahwasanya Rasulullah j pada waktu perang khoibar bersabda :
َلأُعْطِيَنَّ الرَّايَةَ غَدًا رَجُلاً يُحِبُّ الله َوَرَسُوْلَهُ وَيُحِبُّهُ الله ُوَرَسُوْلُهُ يَفْتَحُ الله ُعَلَى يَدَيْهِ
"Sungguh besok aku akan berikan bendera ini kepada seorang yang cinta kepada Allah dan Rasul-Nya dan dicintai Allahkdan rasul-Nya, Allahkakan menangkan melalui kedua tanganya" (muttafaq 'alaih)
Dalam lanjutan riwayat di atas disebutkan bahwa para Shahabat sampai begadang malam membicarakan, siapakah gerangan yang bakal diserahi bendera? Bahkan mereka semua berkeinginan untuk mendapatkannya, dan ternyata yang mendapatkannya adalah Ali bin Ali Tholib a
Riwayat ini jelas menunjukkan bahwa bendera tersebut untuk kepentingan Jihad Fisabilillah.
Juga dalam riwayat Imam Ahmad dalam Musnadnya dari Abdullah bin Ja'far a disebutkan, bahwa Rasulullah Shalallahu 'alaihi wa salam mengutus pasukan perang dan menunjuk Zaid bin Harits sebagai panglima, beliau bersabda :
"Bila Zaid terbunuh maka panglima kalian adalah Ja'far, bia dia terbunuh maka panglima kalian adalah Abdullah bin Rawahah."
Pasukan pun berhadapan dengan musuh, panglima Zaid pun memegang bendera, beliau berperang hingga terbunuh, kemudian bendera perang diambil oleh Ja'far, beliau berperang hingga terbunuh, kemudian bendera diambil oleh Abdullah bin Rawahah, beliau berperang hingga terbunuh, lalu bendera dipegang oleh Kholid bin Walid, maka Allah k menangkan melalui tangannya. (lihat: ' Jami'us Shahih ' 3/246-247, karya Syaikh Muqbil dan beliau menshahihkan riwayat ini.)
Lihatlah! Bagaimana para panglima tadi mempertahankan bendera, tidak dia lepas sedikitpun hingga dia terbunuh.
Inilah fungsi bendera di masa itu, dan inilah yang kita baca dalam sejarah perjuangan NKRI, para pejuang-pejuang kita dengan gigihnya mempertahankan bendera merah putih sampai titik darah penghabisan, itu semua mereka lakukan untuk melawan kebringasan para penjajah kafir di masa itu, maka fungsikanlah bendera ini sebagaimana mestinya!!!
Adapun pemasangan bendera dalam rangka peringatan hari besar nasional, maka tidak pernah kita lihat dilakukan di zaman Rasulullah j, karena tidak ada dalam bimbingan beliau peringatan-peringatan seperti itu sebagaimana yang kita uraikan dalam pembahasan sebelumnya.
وخير الهدي هدي محمد j
"Sebaik-baik petunjuk adalah petunjuk Rasulullah j."

Demikianlah apa yang bisa kami tulis, sebenarnya masih banyak perkara yang tidak bisa ditaati karena adanya larangan dalam agama islam seperti PEMILU, dan lainnya, Insya' Allah bila ada kesempatan kami akan berusaha melanjutkannya. Semoga Allah k memberi hidayah kita semua ke jalan yang diridloiNya. Amin …..


Sidayu, 20 Agustus 2006

Penulis





Al Ustadz Muhammad Afifudin

Sunday, August 20, 2006

Fatwa Syaikh Abdul Aziz Bin Abdullah Aalus Syaikh Tentang Libanon

atwa Mufti Kerajaan Arab Saudi: Abdul Aziz Bin Abdullah Aalus Syekh Hafidzahullah

Beliau ditanya dari Perancis dengan pertanyaan berikut: “Apakah di Libanon ada jihad melawan orang-orang kafir ,jazakumullahu khairan?”

Jawaban:
“Demi Allah wahai saudaraku,aku memohon kepada Allah agar memberi petunjuk kepada kaum muslimin untuk beramal shalih.Wahai saudaraku,satu hal (yang harus diperhatikan) yaitu bahwa Islam menjadikan jihad di jalan Allah dengan tujuan yang satu:
من قاتل لتكون كلمة الله هي العليا فهو في سبيل الله، الرسول - صلى الله عليه وسلم - سُئل: الرجل يقاتل شجاعة، الرجل يقاتل حمية أي ذلك في سبيل الله ؟ قال -صلى الله عليه وسلم - :" من قاتل لتكون كلمة الله هي العليا فهو في سبيل الله
“Barangsiapa yang berperang untuk meninggikan kalimat Allah, maka itulah fi sabilillah.” Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wassalam ditanya: “Ada seseorang berperang karena keberanian,ada seseorang berperang karena semangat,yang manakah di jalan Allah ?”, maka Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wassalam menjawab: “Barangsiapa yang berperang untuk meninggikan kalimat Allah, maka itulah fi sabilillah”.

Tidaklah dikatakan fi sabilillah, kecuali apabila memiliki tujuan yang satu dalam berperang yaitu meninggikan kalimat Allah dengan mentauhidkan-Nya,berhukum dengan syari’atnya,dan tegak dengan apa-apa yang diwajibkan-Nya. Adapun selain itu maka bukan fisabilillah, fanatisme, semangat jahiliyyah tidaklah mengarah kepada tujuan.

Sesungguhnya hanya yang mengarah kepada tujuan adalah jihad tersebut dibangun untuk menolong agama Allah dan meninggikan syari’at-Nya, mengajak untuk memurnikan agama hanya untuk-Nya dan berhukum dengan Kitabullah dan sunnah Rasul-Nya Shallallahu ‘alaihi wassalam. Dan mereka yang berperang senantiasa berpegang teguh dengan Al-Kitab dan Sunnah.

Adapun bila komitmen terhadap Islam telah lenyap, sehingga Islam hanya menjadi nama yang tidak ada hakekatnya. Maka jadilah peperangan karena maksud dan tujuan tertentu dan bukan untuk meninggikan kalimat Allah, bukan pula untuk menolong kebenaran serta untuk menegakkan ibadah hanya kepada Allah sebagaimana yang diridhaiNya.

Maka (jihad semacam, red) ini bukan jihad. Islam itu hakekatnya adalah meyakini dalam hati, mengucapkan dengan lisan dan mengamalkan dengan anggota tubuh. Maka orang-orang yang berperang, jikalau mereka di atas tauhid dan memurnikan ibadah hanya untuk Allah, istiqomah di atas syari’at Allah dan mengimani syari’at ini baik secara Aqidah, Manhaj, Akhlaq dan perilaku, maka itu sungguh sangat mulia. Iya…

Transkrip asli dalam bahasa Arab :
----------------------------------------------------------------------------------------------------

- وقال شيخنا العلامة سماحة مفتي عام بلاد التوحيد المملكة العربية السعودية عبد العزيز بن عبد الله آل الشيخ - حفظه الله – في محاضرته بعنوان ( مفهوم الجهاد في الإسلام ) بجامع الأمير تركي بن عبدالله بتاريخ 24-6-1427 هـ
- فسئل -حفظه الله - من فرنسا السؤال التالي: هل هنالك جهاد في لبنان ضد الكفار وجزاكم الله خيرا ؟
( الجواب ):
والله يا إخواني أسأل الله أن يرزق المسلمين العمل الصالح، يا أخواني أمر هو أن الإسلام جعل الجهاد في سبيل الله غايته واحدة : من قاتل لتكون كلمة الله هي العليا فهو في سبيل الله، الرسول - صلى الله عليه وسلم - سُئل: الرجل يقاتل شجاعة، الرجل يقاتل حمية أي ذلك في سبيل الله ؟ قال -صلى الله عليه وسلم - :" من قاتل لتكون كلمة الله هي العليا فهو في سبيل الله " لايكون في سبيل الله إلاّ إذا كان الهدف من ذلك القتال أن تكونَ كلمة الله هي العليا لتوحيده وتحكيم شريعته والقيام بما أوجب، ما سوى ذلك فليس في سبيل الله، العصبية والحمية الجاهلية لا تخدم هدفا، إنما يخدم الهدف إن سبق هذا الجهاد لأجل نُصرة دين الله وإعلاء شريعته والدعوة إلى إخلاص الدين له وتحكيم كتابه وسنة رسوله -صلى الله عليه وسلم- وكان هؤلاء المقاتلين على جانب من التمسك بالكتاب والسنة، أما إذا عُدم التمسك بالإسلام وصار الإسلام اسمًا لا حقيقة له، وصار القتال لأهدافٍ وأغراض وليس لأجل إعلاء كلمة الله، وليس لأجل نُصر الحق، وليس لأجل إقامة عبادة الله على ما يرضيه فليس هذا بجهاد، الإسلام حقيقته اعتقاد القلب ونطق اللسان وعمل الجوارح، فالذين يقاتلون إن كانوا على توحيد وإخلاص لله واستقامة على شرع الله وإيمان بهذه الشريعة عقيدةً ومنهجًا، أخلاقًا وسلوكا، فنِعم. نعم
إهـ كلامه حفظه الله.
( نقلاً عن الأخ المفضال ابن سالم من شبكة سحاب ).
----------------------------------------------------------------------------------------------------

(Fatwa ini diambil dari ceramah beliau yang berjudul “Pemahaman jihad dalam Islam,di Jami’ Al-Amir Turki bin Abdullah tanggal 24-6-1427 H. Diambil dari situs www.sahab.net, ditranskrip oleh Al-Akh Ibnu Salim dan diterjemahkan oleh Al Ustadz Abu Karimah Askari bin Jamal Al-Bugisi

Fatwa Syaikh Shalih bin Fauzan Tentang Libanon

Fatwa Al-'Allamah Shalih bin Fauzan Al-Fauzan hafidzahullah terkait krisis Libanon:
“Pada masa ini telah banyak berbagai kejadian yang mengerikan yang menimpa kaum muslimin, disebabkan karena serangan dari musuh-musuh Allah dari segala arah. Perang di Afghanistan, perang di Irak, perang di Palestina, perang di Libanon. Namun yang kita dengar dan yang kita baca dari para penulis berita, yakni semua hujatan ditumpahkan kepada musuh-musuh Allah tersebut. Yakni dengan menyatakan kekejian perbuatan mereka dan mengecam apa yang mereka perbuat.

Tentu hal ini adalah perkara yang tidak diragukan lagi. Namun apakah musuh yang kafir tersebut akan menahan diri dari perbuatannya dengan berbagai kecaman tersebut? Orang-orang kafir, sejak dulu kala selalu menghendaki agar Islam dihapuskan dari permukaan (bumi). Sebagaimana firman Allah:
وَلاَ يَزَالُونَ يُقَاتِلُونَكُمْ حَتَّىَ يَرُدُّوكُمْ عَن دِينِكُمْ إِنِ اسْتَطَاعُواْ

(Yang artinya ) : “Mereka tidak henti-hentinya memerangi kamu sampai mereka (dapat) mengembalikan kamu dari agamamu (kepada kekafiran), seandainya mereka sanggup. (QS Al-Baqarah:217)

Akan tetapi permasalahannya adalah apa yang telah disiapkan oleh kaum muslimin untuk menghadapi mereka dan mencegah sikap brutal mereka? Sesungguhnya yang wajib atas mereka (diantaranya) :
- Pertama: melihat kenyataan kaum muslimin dalam pengamalan agamanya. Sesungguhnya apa yang menimpa mereka hanyalah disebabkan karena mereka melalaikan agamanya. Dalam sebuah atsar: “Jika orang yang mengenal-Ku berbuat maksiat kepada-Ku, maka Aku akan menjadikan orang yang tidak mengenal-Ku untuk menguasainya.” Apa yang telah menimpa Bani Israil disaat mereka meninggalkan agama mereka dan membuat kerusakan di muka bumi ? Maka Allah menjadikan orang-orang kafir Majusi menguasai mereka sehingga merekapun memporak-porandakan isi kampung-kampung mereka - sebagaimana yang Allah sebutkan di awal surat Al-Isra’. Dan Allah mengancam mereka apabila mereka kembali tetap dalam keadaan demikian, maka Allah akan mengembalikan kesengsaraan tersebut kepada mereka. Maka kita harus mengoreksi kondisi kita, lantas mengkoreksi apakah ada kekeliruan dalam menjalankan agama kita. Sebab ketetapan dari Allah (Sunnatullah) tidaklah berubah. Sungguh Allah Ta’ala berfirman:
إِنَّ اللّهَ لاَ يُغَيِّرُ مَا بِقَوْمٍ حَتَّى يُغَيِّرُواْ مَا بِأَنْفُسِهِمْ وَإِذَا أَرَادَ اللّهُ بِقَوْمٍ سُوءًا فَلاَ مَرَدَّ لَهُ وَمَا لَهُم مِّن دُونِهِ مِن وَالٍ
(Yang artinya ) : “Sesungguhnya Allah tidak merubah keadaan sesuatu kaum sehingga mereka merubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri. Dan apabila Allah menghendaki keburukan terhadap sesuatu kaum, maka tak ada yang dapat menolaknya; dan sekali-kali tak ada pelindung bagi mereka selain Dia.” (QS Ar-Ra’d: 11)
- Kedua: hendaklah kita melakukan persiapan untuk menghadapi musuh kita, sebagaimana firman Allah Ta’ala:
وَأَعِدُّواْ لَهُم مَّا اسْتَطَعْتُم مِّن قُوَّةٍ وَمِن رِّبَاطِ الْخَيْلِ تُرْهِبُونَ بِهِ عَدْوَّ اللّهِ وَعَدُوَّكُمْ وَآخَرِينَ مِن دُونِهِمْ لاَ تَعْلَمُونَهُمُ اللّهُ يَعْلَمُهُمْ
(Yang artinya ) : “Dan siapkanlah untuk menghadapi mereka kekuatan yang kamu mampu dan dari kuda-kuda yang ditambat untuk berperang (yang dengan persiapan itu) kamu menggentarkan musuh Allah dan musuhmu dan orang orang selain mereka yang kamu tidak mengetahuinya; sedang Allah mengetahuinya. (QS Al-Anfal:60)
Yaitu dengan cara pembentukan pasukan dan persenjataan yang layak dan kekuatan yang dapat menaklukkan mereka.
- Ketiga: menyatukan kalimat kaum muslimin diatas aqidah, Tauhid dan menegakkan hukum Syari’at, serta komitmen dengan Islam dalam setiap perkara kita, baik dalam perkara mu’amalah, akhlaq, berhukum dengan Kitabullah (Al Qur'an), melakukan amar ma’ruf dan nahi mungkar disertai mengajak kepada jalan Allah dengan ilmu dan penjelasan serta ikhlas. Allah Ta’ala berfirman:

وَاعْتَصِمُواْ بِحَبْلِ اللّهِ جَمِيعًا وَلاَ تَفَرَّقُواْ

(Yang artinya ) : “Dan berpeganglah kamu semuanya kepada tali (agama) Allah dan janganlah kamu bercerai berai.” (QS Ali Imran: 103)

Dan firman-Nya:

وَلاَ تَنَازَعُواْ فَتَفْشَلُواْ وَتَذْهَبَ رِيحُكُمْ وَاصْبِرُواْ إِنَّ اللّهَ مَعَ الصَّابِرِينَ

(Yang artinya ) : “Janganlah kamu berselisih, yang menyebabkan kamu menjadi gentar dan hilang kekuatanmu dan bersabarlah. Sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang sabar. (QS Al-Anfal :46)

Dan tidaklah mungkin terjadi persatuan bila berbeda dalam hal aqidah dan berbeda pula dalam maksud dan tujuan. Sampai aqidahnya benar dan tujuan disatukan yaitu untuk menolong kebenaran dan untuk meninggikan kalimat Allah. Alangkah baiknya jika para khatib, para pemberi nasehat mengkonsentrasikan khutbah dan nasehat mereka dalam perkara-perkara ini. Disamping mengecam perbuatan musuh yang melampaui batas, menjelaskan tujuan-tujuan busuk mereka.

Sesungguhnya musuh Allah tersebut tidaklah memaksudkan untuk melemahkan kaum muslimin dan merampas kekayaan mereka (muslimin) saja. Namun maksud utama mereka adalah merusak aqidah kaum muslimin dan memalingkannya dari agama mereka, sampai mereka berhasil mengikis habis hingga ke akar-akarnya. Ini yang ingin aku peringatkan berkenaan tentang menyikapi krisis yang menimpa ini.

Allah senantiasa mengatakan kebenaran dan membimbing ke jalan yang lurus. Shalawat serta salam Allah kepada Nabi kita Muhammad, keluarganya dan para shahabatnya.”

Transkrip asli dalam bahasa Arab :
----------------------------------------------------------------------------------

(( تلم بالمسلمين في الوقت الحاضر أحداث مروعة من تسلط الأعداء عليهم من كل جانب حرب في أفغانستان حرب في العراق حرب في فلسطين حرب في لبنان والذي نسمعه ونقرؤه من خطبائنا وكتابنا كله صب للوم على الأعداء وتجريم أفعالهم وشكاية لهم.
وهذه الأمور لاشك فيها. ولكن هل يرتدع العدو الكافر بهذه الصيحات. الكفار من قديم الزمان يريدون محو الإسلام من الوجود كما قال تعالى ( وَلاَ يَزَالُونَ يُقَاتِلُونَكُمْ حَتَّىَ يَرُدُّوكُمْ عَن دِينِكُمْ إِنِ اسْتَطَاعُواْ) ولكن الشأن ماذا أعد المسلمون لمقابلتهم وصد عدوانهم إنه يجب عليهم:
أولاً: النظر في واقعهم نحو دينهم وتمسكهم به فإن ما أصابهم إنما هو بسبب تفريطهم في دينهم. وفي الأثر: إذا عصاني من يعرفني سلطت عليه من لا يعرفني. وماذا حصل لبني إسرائيل عندما تخلو عن دينهم وأفسدوا في الأرض سلط الله عليهم كفار المجوس فجاسوا خلال الديار كما ذكر الله ذلك في أول سورة الإسراء. وتوعدهم الله أنهم إن عادوا لحالتهم أعاد الله عليهم النقمة. فلابدّ أن نراجع واقعنا ونصلح ما فسد من أمرنا نحو ديننا فسنة الله لا تتغير وقد قال تعالى :( إِنَّ اللّهَ لاَ يُغَيِّرُ مَا بِقَوْمٍ حَتَّى يُغَيِّرُواْ مَا بِأَنْفُسِهِمْ وَإِذَا أَرَادَ اللّهُ بِقَوْمٍ سُوءاً فَلاَ مَرَدَّ لَهُ وَمَا لَهُم مِّن دُونِهِ مِن وَالٍ ).
ثانياً: علينا أن نعد العدة التي نواجه بها عدونا كما قال تعالى: ( َأَعِدُّواْ لَهُم مَّا اسْتَطَعْتُم مِّن قُوَّةٍ وَمِن رِّبَاطِ الْخَيْلِ تُرْهِبُونَ بِهِ عَدْوَّ اللّهِ وَعَدُوَّكُمْ وَآخَرِينَ مِن دُونِهِمْ لاَ تَعْلَمُونَهُمُ اللّهُ يَعْلَمُهُمْ ).
وذلك بتكوين الجيوش والأسلحة المناسبة والقوة الرادعة.
ثالثاً: اجتماع كلمة المسلمين على عقيدة التوحيد وتحكيم الشريعة والالتزام بالإسلام في كل أمورنا من معاملات وأخلاق وتحكيم لكتاب الله وأمر بالمعروف ونهى عن المنكر ودعوة إلى الله بعلم وبصيرة وإخلاص قال تعالى :( وقال تعالى:( وَلاَ(وَاعْتَصِمُواْ بِحَبْلِ اللّهِ جَمِيعاً وَلاَ تَفَرَّقُواْ تَنَازَعُواْ فَتَفْشَلُواْ وَتَذْهَبَ رِيحُكُمْ وَاصْبِرُواْ إِنَّ اللّهَ مَعَ الصَّابِرِينَ ) ولا يمكن الاجتماع مع الاختلاف في العقيدة.
والاختلاف في المقاصد والأهداف حتى تكون العقيدة سليمة والأهداف موحدة لنصرة الحق وإعلاء كلمة الله وليت الخطباء والوعاظ يركزون في خطبهم ومواعظهم على هذه المعاني مع التنديد بالعدو المعتدي وبيان مقاصده الخبيثة وأنه لا يقصد إضعاف المسلمين ونزع ثرواتهم فقط وإنما يقصد بالدرجة الأولى إفساد عقيدتهم وصرفهم عن دينهم حتى يتسنى له تقطيع أوصالهم. هذا ما أحببت التنبيه عليه حيال هذه النوازل المروعة.
والله يقول الحق وهو يهدي السبيل. وصلى الله وسلم على نبينا محمد وآله وصحبه.))
----------------------------------------------------------------------------------

(Ditranskrip oleh Al-Akh Ahmad Diwani dalam situs Sahab. Url sumber situs http://www.sahab.net/forums/showthread.php?t=337224 dan diterjemahkan oleh Al Ustadz Abu Karimah Askari bin Jamal Al-Bugisi).

(Dikutip dari http://www.darussalaf.or.id/index.php?name=News&file=article&sid=309)

Fatwa Syaikh Rabi' Tentang Libanon

Beliau ditanya: “Apa pendapat Anda wahai Syaikh yang mulia tentang berbagai keadaan genting (krisis) di Libanon, Irak, Palestina? Jazakumullah khairan.”

Jawaban:
“Demi Allah, kami berpandangan bahwa jihad tetap tegak sampai hari kiamat dan merupakan perkara yang wajib dilakukan oleh umat ini. Namun umat (Islam) ini telah melalaikan banyak perkara agama, diantaranya adalah jihad itu sendiri, sehingga Allah memberikan kekuatan kepada musuh-musuh untuk menguasai mereka.

إذا تبايعتم بالعينة وأخذتم أذناب البقر ورضيتم بالزرع وتركتم الجهاد في سبيل الله- ليس في سبيل الرفض والبدع والخرافات!- سلط الله عليكم ذلاً لا ينزعه حتى ترجعوا إلى دينكم
“Jika kalian berjual beli dengan cara ‘inah [1 ] dan kalian mengambil ekor-ekor sapi (beternak) serta kalian senang dengan bercocok tanam dan kalian meninggalkan jihad di jalan Allah Azza Wajalla –bukan di atas jalannya kaum Rafidhah, bid’ah dan khurafat- maka Allah akan mencampakkan kehinaan pada diri kalian. Dan Dia (Allah) tidak akan mencabut kehinaan itu sampai kalian kembali kepada agama kalian.”

Maka langkah yang paling pertama untuk menuju kemuliaan dan keluar dari kehinaan dan kerendahan adalah kembali kepada agama Allah. Ini langkah pertama dan bukan kembali kepada agamanya kaum Rafidhah yang ekstrim, yang mengkafirkan para shahabat lalu mengangkat bendera jihad!

Mereka tidak kembali kepada agama, namun justru memerangi agama dan orang-orang yang komitmen dengannya!
Bagaimana mungkin ini akan mendapatkan pertolongan!? Bagaimana mungkin ini dikatakan sebagai jihad di jalan Allah ?!
Jihad haruslah dilakukan untuk menegakkan kalimat Allah.Terkadang seseorang terbunuh dalam berjihad, namun dia masuk neraka disebabkan karena dia tidak melakukannya dengan niat untuk menegakkan kalimat Allah Tabaraka wa Ta’ala.
من قاتل لتكون كلمة الله هي العليا فهو في سبيل الله
“Barangsiapa yang berperang untuk meninggikan kalimat Allah, maka itulah fi sabilillah”.

الرجل يقاتل شجاعة ويقاتل حمية ويقاتل رياء فأي ذلك في سبيل الله قال من قاتل لتكون كلمة الله هي العليا فهو في سبيل الله
“Seseorang ada yang berperang karena modal keberanian semata, ada orang yang berperang karena semangat saja, ada yang berperang karena untuk mendapatkan pujian di mata manusia, yang manakah di jalan Allah? Maka beliau menjawab:
“Barangsiapa yang berperang untuk meninggikan kalimat Allah, maka itulah fi sabilillah (di jalan Allah) Ta’ala”.

Maka sebelum melakukan segala sesuatu, wajib bagi kaum muslimin untuk membenahi berbagai keadaan mereka dan kembali kepada agama yang telah dibawa oleh Muhammad Shallallahu alaihi wasallam. Serta kembali di atas petunjuk orang-orang yang telah bersungguh-sungguh dalam menyebarkan agama ini, yaitu para shahabat yang mulia, yang menyebarkan agama, berupa amalan-amalan yang shalih dan syi’ar-syi’ar Islam yang benar .Inilah yang dilakukan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wassalam dalam berjihad yaitu untuk meninggikan kalimat-Nya.

Sekarang saya bertanya kepada kalian : “Bendera yang ada di Libanon,yaitu bendera yang diangkat oleh Hizbullah, apakah bendera yang berhak dikatakan bahwa itu merupakan bendera di jalan Allah?! Apakah dikatakan bahwa itu jihad di jalan Allah ?! Sementara mereka (Hizbullah yang termasuk beragama Syi’ah Rafidlah, red) mengkafirkan para shahabat Muhammad - Shallallahu ‘alaihi wassalam - dan mempermainkan al-Qur’an dan merubahnya - dengan perubahan yang tidak pernah dilakukan oleh orang-orang Yahudi sekalipun - !?

Kalian belum pernah membaca tentang kaum Rafidhah ? Bagi siapa yang membaca tentangnya, dia akan mendapati bahwa mereka lebih parah dalam melakukan perubahan terhadap agama Allah Ta’ala dibanding kaum Yahudi dan Nashara.
Demi Allah, kami ingin berjihad namun dengan jihad yang benar. Maka wajib bagi umat ini untuk kembali kepada agamanya, kemudian setelah itu melakukan persiapan:

وَأَعِدُّواْ لَهُم مَّا اسْتَطَعْتُم مِّن قُوَّةٍ وَمِن رِّبَاطِ الْخَيْلِ تُرْهِبُونَ بِهِ عَدْوَّ اللّهِ وَعَدُوَّكُمْ
“Dan siapkanlah untuk menghadapi mereka kekuatan apa saja yang kamu sanggupi dan dari kuda-kuda yang ditambat untuk berperang (yang dengan persiapan itu) kamu menggentarkan musuh Allah dan musuhmu “ (QS Al Anfal:60).

Sekarang ini, kelompok Hizbullah berperang semenjak tiga pekan yang lalu, tidak ada yang terbunuh dari mereka melainkan hanya delapan orang. Sementara yang terbunuh dari rakyat Libanon hampir mencapai seribu! Dan yang terusir dari mereka berjumlah ribuan, fasilitas-fasilitas umum mereka dihancurkan! Apakah ini yang dikatakan jihad yang dikehendaki Allah?!

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wassalam berjihad di Badar, di Uhud, di Khandaq dan ditempat lainnya, tidak satupun anak kecil yang terbunuh! Dan tidak satupun wanita yang terbunuh! Namun mereka ini (Hizbullah, red) menyusup dalam barisan para wanita dan anak-anak kecil, lalu datanglah berbagai serangan yang diarahkan (oleh Yahudi kafir, red) kepada mereka yang patut dikasihani. Apakah ini jihad?!

Sekarang ini Yahudi telah menguasai daerah yang luas dan besar, ada dua puluh kampung di Libanon. Apakah ini jihad? Apakah ini yang dimaksudkan?
Apakah kita berjihad agar wanita dan anak-anak kaum muslimin dibunuh, yayasan-yayasan mereka dihancurkan! Lalu ini yang dikatakan hasil dari jihad itu!
Inilah jihad ‘akrobatik’. Inilah adalah jihad model Rafidhah! Maka wajib bagi kaum muslimin untuk berfikir dan kembali kepada agama mereka, sebelum melakukan segala sesuatu. Lalu setelah itu, mereka berjihad dengan tujuan meninggikan kalimat Allah.

Sesungguhnya kita lebih mengimani tentang syari’at jihad dibanding mereka ini yang merupakan para pendusta yang hanya mengaku saja! Kami mengimaninya akan tetapi kami mengatakan kepada kaum muslimin : “Kembalilah kepada agama ini, bekali diri kalian untuk persiapan jihad dan mendapat pertolongan dari Allah Ta’ala. Sebab kalian tidak mungkin mendapatkan pertolongan dari Allah Ta’ala, kecuali jika kalian berperang dengan tujuan untuk meninggikan kalimat Allah dan kalian berada di atas agama yang benar.

Namun apa yang terjadi di Iraq? Berapa banyak kaum muslimin yang telah dibunuh oleh kaum Rafidhah!? Lebih dari seratus ribu jiwa atau lebih yang mereka sembelih dari kalangan para wanita, anak-anak, mereka usir, mereka merusak rumah-rumah, masjid-masjid dan menginjak-injak mushaf-mushaf! Dan berbagai kelakuan lainnya yang –demi Allah- tidak dilakukan oleh orang-orang Yahudi! Dan tatkala mereka melakukan berbagai tindakan kekejian ini semua, lalu mereka pun membuka front (di Libanon), mereka menertawai Ahlus Sunnah dan bergembira atas apa yang menimpa mereka.

Apakah kalian menangisi Ahlus Sunnah dari penduduk Irak - dalam keadaan mereka disembelih, diusir, ratusan masjid-masjid mereka dirusak ?! Mungkin mencapai seratus ribu jiwa atau lebih yang terbunuh dari mereka!
Apakah mereka (kaum Rafidhah) menangisi kematian kalian?! Apakah mereka mengangkat suara buat kalian?! Sama sekali tidak, sama sekali tidak!

Maka tatkala si Rafidhi - yang beraliran kebatinan ini dating - banyak yang berpandangan bahwa dia mengangkat bendera jihad dan yang akan memimpin umat menuju kemuliaan dan pertolongan. Ini merupakan keberuntungan besar - diantara keberuntungan kaum Rafidhah- ! Sekarang ini umat Islam bersorak dan bertepuk tangan untuk mereka!!! Dan inilah yang diinginkan oleh kaum Rafidhah. Dimana dia (pimpinan Hizbullah) ini sekarang? Sekarang dimana panglima ini berada?!
(Ketauhilah) Dia ada di tempat persembunyian, dia dan kelompoknya ada di tempat persembunyiannya! Sementara kehancuran dan kebinasaan menimpa rakyat jelata Libanon ! Penyembelihan (terhadap kaum muslimin Ahlus Sunnah) masih saja berlanjut di Irak! Darah kaum muslimin di Irak sangatlah murah, tidak sepantasnya disebut-sebut (dianggap berharga) menurut mereka!

Bahkan darah seluruh kaum muslimin dan harta mereka adalah halal menurut kaum Rafidhah, sebab mereka menganggapnya kafir! Inilah hukum yang mereka terapkan!.
Lalu dimana kita meletakkan akal kita? Sekarang ini kebanyakan yang membimbing kaum muslimin adalah orang-orang yang jahil dan bodoh! Tokoh-tokoh yang jahil sebagaimana yang dikatakan oleh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wassalam ! Orang jahil (bodoh) yang berpenampilan sebagai ‘alim (pandai) dan tidak mengetahui hakekat Islam! Tidak mengetahui kekufuran, penyimpangan dan perbuatan zindiq yang dimiliki kaum Rafidhah.

Telitilah kitab tafsir - dari kitab-kitab tafsir yang dimiliki Rafidhah- , mulai dari surah Al-Fatihah, perhatikan perubahan yang mereka lakukan, dimana orang Yahudi pun merasa malu darinya!
((الصراط المستقيم)) “Jalan yang lurus”, maknanya Ali radhiallahu anhu!
((غير المغضوب)) “Bukan jalan orang-orang yang dimurkai”, maknanya adalah jalan Abu Bakar, Umar dan Utsman –radhiallahu anhum-!
((ألم. ذلك الكتاب لا ريب فيه هدى للمتقين)) “Alif Laam Mim. Itulah kitab yang tidak ada keraguan didalamnya sebagai petunjuk bagi orang-orang yang bertaqwa”, makna orang-orang yang bertaqwa dalah pengikut Ali radhiallahu anhu (maksudnya kaum Rafidhah)!

Dunia, Akhirat, Surga, semuanya milik Ali radhiallahu anhu dan para pengikutnya (maksudnya Rafidhah)!.
(( إن الله لا يستحيي لأن يضرب مثلا ما بعوضة فما فوقها)) “Sesungguhnya Allah tiada segan membuat perumpamaan berupa nyamuk atau yang lebih rendah dari itu”, mereka mengatakan: yang dimaksud nyamuk adalah Ali radhiallahu anhu, sedangkan yang lebih rendah adalah Muhammad Shallallahu ‘alaihi wassalam. Yaitu Ali radhiallahu anhu kadang-kadang dianggap seperti nyamuk oleh mereka. Ini termasuk perbuatan zindiq dan cercaan mereka terhadap Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wassalam.

Kadang-kadang mereka menganggap Ali radhiallahu anhu sebagai binatang melata, yang melata di muka bumi. Dan dia sebagai bintang, dia sebagai matahari, dia adalah langit sedangkan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wassalam sebagai buah Tin dan Ali radhiallahu anhu sebagai buah Zaitun, para Imam (mereka) sebagai bukit Sinai. Ayat-ayat Al-Qur’an dan tanda-tanda kekuasaan alam seluruhnya yang dimaksud adalah para Imam mereka! Sedangkan tanda-tanda kemunafikan, kekufuran, siksaan, ayat-ayat celaan dan ancaman semuanya diterapkan kepada para shahabat .Abu Bakar –radhiallahu anhu- disiksa dengan siksaan yang paling keras, seperti Iblis. Dan Umar adalah setan di tempat manapun disebutkan dalam Al-Qur’an.

Ayat-ayat tentang hari Kebangkitan dan hari Pembalasan, menurut mereka yang dimaksud adalah keluarnya sang penegak hukum (Imam Mahdi, pen)! Berbagai macam penyelewengan yang tak terhitung banyaknya dalam kitab Allah dan berbagai kedustaan terhadap Ali radhiallahu anhu dan Ahlul Bait yang tak terhitung banyaknya!

Semua yang menjelaskan tanda kekuasaan maksudnya adalah Ahlul Bait, engkau tidak membaca satu ayat pun dalam Al-Qur’an, baik ayat Kauniyyah maupun ayat Syar’iyyah melainkan mereka menyelewengkannya. Ayat-ayat tentang Tauhid mereka rubah menuju kepada kesesatan mereka!.
(( وقال الله لا تتخذوا إلهين اثنين)) “ِAllah berfirman: Janganlah kalian menjadikan dua sesembahan.” Ayat ini (sebenarnya) mengajak kepada Tauhid dan memberi peringatan dari kesyirikan. (Namun) mereka mengatakan: “Janganlah kalian mengangkat dua Imam!”
Ayat-ayat Tauhid mereka tidak jelaskan, bahkan menghindar darinya! Kalaupun jika mereka menjelaskannya, maka mereka merubahnya. Mereka tidak menyisakan sesuatu dari ayat tersebut melainkan mereka merubahnya!

Mereka adalah musuh-musuh Islam, cukuplah bagi mereka sejarah hitam mereka yang selalu bersama Yahudi dan Nashara. Merekalah yang membawa pasukan Tartar dan menyembelih puluhan ribu, bahkan mungkin sejuta atau bahkan lebih!
Merekalah yang meruntuhkan khilafah Abbasiyyah! Dalam perang di Afghanistan, sebagai negara tetangga mereka, mereka (kaum Syiah Rafidlah Iran) tidak ikut serta bersama kaum muslimin sedikitpun!!! Tidak di dalam Afghanistan dan tidak pula di luarnya.

Tatkala Amerika datang ke Afghanistan untuk menjatuhkan kekuasaan Taliban, maka mereka menjadi tameng terkuat bersama Amerika dalam memerangi kaum muslimin. Merekalah yang turut mendatangkan Amerika dan sekutunya ke Irak. Mereka menambah kekuatan bersamanya untuk menyembelih kaum muslimin. Apakah ini Islam yang kita berjihad untuknya?

Kaum Rafidhah ini lebih berbahaya dari Yahudi dan Nashara, dan apa yang menimpa kaum muslimin melalui tangan Rafidhah lebih berbahaya dari apa yang menimpa kaum muslimin melalui tangan Yahudi dan Nashara. Pahamilah perkara ini, adapun mereka yang (tertipu). Apakah mereka disesatkan ataukah mereka orang-orang yang tidak mengetahui ?!.

Apakah ini pertolongan Allah? Apa yang telah dilakukan terhadap Ahlus Sunnah di Irak?! Apakah pernah engkau membimbing dengan satu ucapan untuk menasehati keluarga dan kaummu tentang kaum Rafidhah Bathiniyyah untuk menyeru agar mereka menahan diri (dari menyiksa) kaum muslimin?!

Demi Allah, saya yakin bahwa mereka tidaklah melakukan ini melainkan untuk mempermainkan kaum muslimin dan menertawai mereka. Allah Maha mengetahui apa tujuan mereka di belakang semua ini!

Jangan kalian membenarkan perselisihan mereka dengan Amerika! Ini semua dusta. Berapa banyak pembicaraan seputar pembuatan sel (instalasi) nuklir yang ada di Iran? Apakah tujuan mereka dengan menyimpan bahan nuklir tersebut, apakah untuk memerangi kaum Yahudi? Mereka pendusta!

Iran selalu mengumumkan hal ini semenjak 70 tahun yang lalu, sementara kaum muslimin memerangi Yahudi dalam berbagai peperangan. Sudah berapa banyak mereka (kaum muslimin) mengikuti peperangan, menyumbangkan harta, turut berperan serta. Sementara Iran menghilang (tidak turun serta) ! Sekarang mereka bersorak dan menghendaki kaum muslimin memasuki pertempuran sedangkan mereka menghilang. Belum berhenti satu peperangan hingga dibuka kembali peperangan yang baru.

Perencanaan pembuatan sel (instalasi) nuklir tersebut tidaklah dipersiapkan melainkan untuk negara-negara Teluk! Kaum muslimin harus memahami hal ini. Perhatikanlah perkara-perkara ini. Apakah dengan seperti ini lalu aku menganggapnya sebagai jihad di jalan Allah? Sama sekali tidak! (dengan sebab):
Pertama: Aqidah mereka jelas, sebagaimana yang telah kami sebutkan sebagiannya.
Kedua: Jihad merekapun jelas, dimana mereka bersembunyi di gua-gua, menyusup di rumah-rumah dan gedung-gedung! Allah Ta’ala lebih mengetahui, mungkin saja mereka mengutus Yahudi untuk menyerang tempat tersebut! Saya tidak menganggap mustahil hal tersebut! Sadarlah kalian terhadap makar dan tipu daya kaum Rafidhah.

Demi Allah mereka menertawai Ahlus Sunnah, mereka memiliki orang-orang, di negeri Arab dan negeri-negeri Islam yang bekerja untuk mereka, guna menjembatani tersebarnya keyakinan Rafidhah di seluruh dunia Islam.

Sekarang dakwah mereka tersebar di dunia Islam, di bagian Asia Timur mereka memiliki Ma’had, sekolah, para da’i di negara-negara Afrika. Telah berlalu waktu dimana mereka tidak pernah bermimpi untuk mendapatkan ini semua. Hingga datangnya sebagian kelompok yang berkhianat, lalu membukakan jalan bagi mereka dan memberi kesempatan kepada mereka untuk menyebarkannya di dunia Islam.

Sekarang merekapun menertawakan kaum muslimin. Tangan mereka masih berlumuran darah kaum Muslimin di Iraq, lalu bersamaan dengan itu mereka ingin agar kita membantu mereka?!

Sementara musibahnya menimpa rakyat Libanon dan rakyat Palestina. Lalu apa kerugian yang dialami kaum Rafidhah dalam semua peperangan ini?! (Tidak ada!!-pen)

Baik di Palestina, di Afghanistan dan selainnya dari semenjak 70 tahun yang lalu hingga sekarang? Apa yang telah diperbuat oleh para pendusta ini?!”

Transkrip asli dalam bahasa Arab :
------------------------------------------------------------------------------------------------------------
كلام الشيخ ربيع المدخلي– حفظه الله- حول الأوضاع الراهنة في لبنان والعراق وفلسطين.
..........................................................
سؤال: ما رأي فضيلتكم في الأوضاع الراهنة في لبنان والعراق وفلسطين وجزاكم الله خيراً؟
الجواب: والله نحن نرى أن الجهاد قائم إلى يوم القيامة، وواجب على هذه الأمة ولكن هذه الأمة ضيعت أموراً كثيرة، ومنها الجهاد فسلط الله عليهم الأعداء!
(إذا تبايعتم بالعينة وأخذتم أذناب البقر ورضيتم بالزرع وتركتم الجهاد في سبيل الله- ليس في سبيل الرفض والبدع والخرافات!- سلط الله عليكم ذلاً لا ينزعه حتى ترجعوا إلى دينكم).
أول خطوة إلى العزة والخروج من الذل والهوان هو الرجوع إلى دين الله.
هذه الخطوة الأولى، وليس الرجوع إلى الدين الرافضي الغالي المكفِّر للصحابة يرفع راية الجهاد! هو لم يرجع إلى الدين! بل يحارب الدين ويحارب أهله!
كيف ينتصر هذا؟! كيف يكون هذا جهادا في سبيل الله ؟!
فالجهاد لابد أن يكون لإعلاء كلمة الله، قد يقتل في الجهاد ويدخل النار لإنه ما يريد إعلاء كلمة الله -تبارك وتعالى-.
من قاتل لتكون كلمة الله هي العليا فهو في سبيل الله (الرجل يقاتل شجاعة ويقاتل حمية ويقاتل رياء فأي ذلك في سبيل الله قال من قاتل لتكون كلمة الله هي العليا فهو في سبيل الله).
فعلى المسلمين قبل كل شيء أن يصححوا أوضاعهم، ويرجعوا إلى الدين الذي كان عليه محمد عليه الصلاة والسلام، والذي جاهد في نشره هو وأصحابه الكرام هذا الدين من التوحيد ومن الأعمال الصالحة وشعائر الإسلام الصحيحة هذا الذي جاهد رسول الله لإعلائه .
أنا أسألكم الآن : هذه الراية التي في لبنان راية والتي يرفعها حزب الله هل هي راية تستحق أن يطلق عليها أنها راية في سبيل الله ؟!
ويطلق عليها أنها جهاد في سبيل الله! وهم يكفرون أصحاب محمد ويعبثون بالقرآن ويحرفونه تحريفاً لم يلحقهم فيه اليهود؟!
أنتم لم تقرؤا للرافضة! الذي يقرأ يجد أنهم أشد تحريفا لدين الله من اليهود والنصارى!.
والله نحن نريد الجهاد لكن الجهاد، الصحيح فعلى الأمة أن ترجع إلى الدين ثم تعد العدة {وَأَعِدُّواْ لَهُم مَّا اسْتَطَعْتُم مِّن قُوَّةٍ وَمِن رِّبَاطِ الْخَيْلِ تُرْهِبُونَ بِهِ عَدْوَّ اللّهِ وَعَدُوَّكُمْ }الأنفال:60
الآن حزب الله يقاتل من ثلاثة أسابيع ما قتل منهم إلا ثمانية وقتل من الشعب اللبناني قرابة الألف! وشرد منهم الألوف ودمرت مؤسساتهم! أهذا هو الجهاد الذي يريده الله؟!
الرسول صلى الله عليه وسلم جاهد في بدر، في أحد، في الخندق، في غيرها ما قتل طفل واحد ! ولا قتلت امرأة واحدة!
هؤلاء يندسون في صفوف النساء والأطفال وتجيء الضربات على هؤلاء المساكين أهذا جهاد بالجهاد؟!
الآن اليهود احتلوا مسافات كثيرة عشرين قرية من لبنان أهذا هو الجهاد؟! أهذا هو المقصود؟!
نجاهد ليقتل نساء المسلمين وأطفالهم وتدمَّر مؤسساتهم! وتكون هذه هي النتيجة !
هذا جهاد بهلواني! جهاد رافضي! يجب على المسلمين أن يتعقلوا وأن يرجعوا إلى دينهم قبل كل شيء، ثم بعد ذلك يجاهدون لإعلاء كلمة الله.
نحن نؤمن بالجهاد أكثر من هؤلاء الكذابين الأدعياء! نؤمن به لكن نقول للمسلمين ارجعوا أهّلوا أنفسكم للجهاد والنصر.
لأنكم لا تستحقون النصر من الله إلا إذا قاتلتم لإعلاء كلمة الله وكنتم على الدين الصحيح.
ثم ماذا جرى في العراق كم قتل الروافض من المسلمين أهل السنة؟!
أكثر من مائة ألف يذبحون النساء والأطفال ويشردونهم ويخربون بيوتهم ويخربون مساجدهم ويدوسون على مصاحفهم! ويفعلون أفاعيل والله لا يفعلها اليهود!
ولما ارتكبوا الجرائم هذه كلها فتحوا الجبهة هذه ، يضحكون على أهل السنة ثم يطبّلون لهم
هل بكيتم على أهل العراق أهل السنة وهم يذبحون ويشردون وتخرب المئات من مساجدهم ؟! يمكن مائة ألف أو أكثر قتل منهم!
هل قطرت لكم دمعة ؟!
هل ارتفع لكم صوت؟! لا شيء لا شيء!
ولما جاء هذا الرافضي الباطني تصور الكثير أنه رافع راية الجهاد وقائد الأمة إلى العزة والنصر .
هذا مكسب عظيم من مكاسب الروافض! أن الأمة تهتف وتصفق له الآن! هذا الذي يريده الروافض.
أين هو الآن؟ أين هذا القائد الآن ؟!
هو في مخبأ هو وجماعته في المخابئ!والدمار والهلاك ينزل بالشعب اللبناني المسكين!
والمذابح لا تزال مستمرة في العراق! فالمسلمون دمائهم رخيصة في العراق لا تستحق أن تذكر عند هؤلاء! بل دماء جميع المسلمين وأموالهم حلال عند الروافض لأنهم كفار فهذا حكمهم! أين العقول؟!
الآن الذي يقود الناس أكثرهم جهلاء وسفهاء!
رؤوس جهال كما قال الرسول الكريم عليه الصلاة والسلام!
متعالم جاهل لا يعرف حقيقة الإسلام! ولا يعرف ماذا عند الروافض من الكفر والإلحاد والزندقة!
اقرؤا: أي تفسير من تفاسير الروافض وابدؤا من الفاتحة وانظر إلى التحريف الذي يخجل منه اليهود!
(الصراط المستقيم) : على-رضي الله عنه-!
(المغضوب عليهم) : أبو بكر وعمر وعثمان –رضى الله عنهم-!
( ألم ذلك الكتاب لا ريب فيه): الكتاب على –رضي الله عنه-!
(هدى للمتقين) : المتقين هم شيعته!
الدنيا والآخرة والجنة كلها لعلي –رضي الله عنه- وشيعته!
يعني علي –رضي الله عنه - أحيانا عندهم بعوضة!
(إِنَّ اللَّهَ لاَ يَسْتَحْيِي أَن يَضْرِبَ مَثَلاً مَّا بَعُوضَةً فَمَا فَوْقَهَا): قالوا البعوضة : علي – رضي الله عنه - فما فوقها محمد صلى الله عليه وسلم وهذه من زندقتهم وطعنهم في على ورسول الله صلى الله عليه وسلم .
وعلي-رضي الله عنه- أحيانا الدابة :دابة الأرض وهو النجم وهو الشمس وهو السماء ورسول الله صلى الله عليه وسلم التين وعلى – رضي الله عنه الزيتون- والأئمة طور سينين والآيات القرآنية والكونية كلها المراد بها الأئمة وآيات النفاق والكفر والعذاب وآيات الذم والوعيد كلها تنزل على الصحابة وأبوبكر يعذب ضعف عذاب إبليس وعمر هو الشيطان أينما ورد في القرآن .
وآيات البعث والجزاء المراد بها عندهم خروج القائم! وتحريفات لا تحصى لكتاب الله، وأكاذيب على علي –رضي الله عنه- وأهل البيت لا تحصى!
والآيات أهل البيت ما تقرأ آية في القرآن؛ آية كونية أو آية شرعية إلا حرفوها
آيات التوحيد حرفوها لضلالهم!
(وَقَالَ اللّهُ لاَ تَتَّخِذُواْ إِلـهَيْنِ اثْنَيْنِ) هذه تدعو إلى التوحيد وتحذير من الشرك قالوا لا تتخذ إمامين!
آيات التوحيد لا يشرحونها بل يهربون منها! وإذا تناولوها حرفوها ما تركوا شيء إلا حرفوه!
هؤلاء أعداء الإسلام يكفيهم أنهم تأريخهم أسود دائما مع النصارى واليهود
والله أعلم أن هذه لعبة بينهم وبين واليهود والنصارى.
هم الذين جاؤا بالتتار وذبحوا الألوف المؤلفة ممكن مليون أو أكثر!
وأسقطوا الخلافة العباسية! وفي الحرب الأفغانية بجوارهم ما شاركوا المسلمين بشيء لا في داخل أفغانستان ولا في خارجه.
ولما جاء الأمريكان لإسقاط طالبان كانوا أقوى درع مع الأمريكان ضد المسلمين وهم الذين جاؤا بالأمريكان ودول التحالف للعراق.
وتقووا بهم وشرعوا في تذبيح المسلمين أهذا هو الإسلام الذي نجاهد من أجله؟!
هو الرفض الذي هو أخطر من اليهودية والنصرانية، والذي نزل بالمسلمين عن طريق الرفض أشد وأنكي مما نزل بالمسلمين عن طريق اليهود والنصارى.
افهموا هذه الأشياء وهؤلاء المضللون إما مضللون وأما أغبياء ؟!
هذا نصر الله ماذا عمل لأهل السنة في العراق؟! هل وجهت كلمة واحدة تنصح عشيرتك وقومك الروافض الباطنية أن يكفوا أيديهم عن المسلمين؟!
والله أنا أعتقد أنهم ما عملوا هذا إلا تلهيةً للمسلمين وضحكا عليهم والله أعلم ما عندهم من أهداف من وراء هذا!
لا تصدقوهم في خلافهم مع أمريكا! هذا كله كذب، كم الآن من الكلام حول الملف النووي الإيراني؟!
الملف النووي ما هو هذا البرنامج؟! هل سيحارب به اليهود؟! كذابون!.
إيران تدندن من سبعين سنة! المسلمون مع اليهود في معارك وكم دخلوا من الحروب، وكم قدموا من الأموال، وكم قدموا من الأعمال، وإيران تتفرج!
والآن تتطبّل وتريد من المسلمون أن يدخلوا في الحرب وهي تتفرج! وما أن تنتهي الحرب حتى تفتح عليهم حرب جديدة!.
هذا البرنامج النووي ما تعده إلا لدول الخليج! يجب أن يفهم الناس هذا.
فتنبهوا لهذه الأشياء !
هذا ما أعتبره جهاداً في سبيل الله أبدا؟!
أولا أهله عقائدهم معروفة ! كما ذكرنا لكم بعضها.
ثانيا: جهادهم معروف كيف يختبئون في الكهوف ويندسون في البيوت و العمارات! والله أعلم هم يرسلون لليهود لضرب المكان الفلاني! لا أستبعد هذا!
فتيقظوا لمكايد الروافض.
والله إنهم يضحكون على أهل السنة ولهم عملاء في البلاد العربية والإسلامية يطبّلون لهم! وهم جسور لمد الرفض في العالم الإسلامي كله.
والآن دعوتهم لها انتشار في العالم الإسلامي في شرق آسيا لها معاهد ولها مدارس ولها دعاة في دول أفريقيا، ومرت عليها قرون و ما كانوا يحلمون بهذه الأشياء! حتى جاءت بعض الأحزاب الخائنة ففتحت لهم الطريق والمجالات أمامهم للانتشار في العالم الإسلامي
والآن يضحكون على المسلمين.
أيديهم تقطر من دماء أهل العراق وفي نفس الوقت ويريدون منّا أن نساندهم والمصيبة على الشعب اللبناني والشعب الفلسطيني.
ثم ما هي خسائر الروافض في الحروب كلها؟!
في فلسطين وأفغانستان وغيرهما من سبعين سنة إلى الآن؟!
وماذا قدم الأفاكون ؟!.
انتهى كلام الشيخ حفظه الله ورعاه .
فرغ هذه الكلمة ثم عرضها على الشيخ ربيع – حفظه الله -
أخوكم: سلطان بن محمد الجهني
بتاريخ(12/7/1427هـ/ الموافق 6/8/2006م)
................................................
في محاضرة: (عوائق عن طلب العلم )
ضمن برنامج: دورة الإمام عبد العزيز بن باز –رحمه الله- بالطائف
بتاريخ(10/7/1427هـ/ الموافق 4/8/2006م)
(بمسجد الملك فهد – رحمه الله- الطائف)

Footnote :
1. Salah satu jenis praktek yang dilakukan dengan cara riba

(Dikutip dari ceramah Asy Syaikh Rabi’ Ibn Haadi al Madkhali yang berjudul “Penghalang-penghalang dalam menuntut ilmu” pada hari Jum’at. Dalam acara: Daurah Imam Abdul Aziz bin Baaz rahimahullah di Thaif, pada tanggal: 10-7-1427 H, bertepatan dengan tanggal 4-8-2006 M di Masjid Raja Fahd rahimahullah. Ditranskrip oleh Al-Akh Al-Fadhil Sulthan Al-Juhani dan diterjemahkan oleh Abu Karimah Askari bin Jamal Al-Bugisi. URL sumber http://www.sahab.net/forums/showthread.php?t=337298)

(Dikutip dari situs http://www.darussalaf.or.id/index.php?name=News&file=article&sid=310)

Surat Terbuka Untuk Pemerintah, Muslimin dan Yahudi

Kepada Umat yang dimurkai yang Allah Azza wa Jalla berfirman tentang mereka

فَبَآؤُواْ بِغَضَبٍ عَلَى غَضَبٍ وَلِلْكَافِرِينَ عَذَابٌ مُّهِينٌ

“Karena itu mereka mendapat murka sesudah (mendapat) kemurkaan. dan untuk orang-orang kafir siksaan yang menghinakan.” (QS.Al Baqarah: 90).

Kepada umat yang hina dan rendah, yang Allah telah mencampakkan atas mereka kerendahan dan kehinaan disebabkan kekufuran mereka dan pembunuhan terhadap nabi-nabi mereka:

ضُرِبَتْ عَلَيْهِمُ الذِّلَّةُ أَيْنَ مَا ثُقِفُواْ إِلاَّ بِحَبْلٍ مِّنْ اللّهِ وَحَبْلٍ مِّنَ النَّاسِ وَبَآؤُوا بِغَضَبٍ مِّنَ اللّهِ وَضُرِبَتْ عَلَيْهِمُ الْمَسْكَنَةُ ذَلِكَ بِأَنَّهُمْ كَانُواْ يَكْفُرُونَ بِآيَاتِ اللّهِ وَيَقْتُلُونَ الأَنبِيَاء بِغَيْرِ حَقٍّ ذَلِكَ بِمَا عَصَوا وَّكَانُواْ يَعْتَدُونَ

“Mereka diliputi kehinaan di mana saja mereka berada, kecuali jika mereka berpegang kepada tali (agama) Allah dan tali (perjanjian) dengan manusia, dan mereka kembali mendapat kemurkaan dari Allah dan mereka diliputi kerendahan. yang demikian itu Karena mereka kafir kepada ayat-ayat Allah dan membunuh para nabi tanpa alasan yang benar. yang demikian itu disebabkan mereka durhaka dan melampaui batas”. (QS.Ali Imran:112)

Ini adalah sebagian dari sifat-sifat kalian yang dengannya kalian berhak mendapatkan kehinaan, kerendahan dan kemurkaan dari Allah. Tidak ada yang dapat mengangkat derajat kalian kecuali dengan berpegang terhadap tali (agama) Allah dan menjaga perjanjian dengan kaum muslimin hingga hari ini, bahkan hingga hari kiamat.

Kalian tidak memiliki sandaran dalam keimanan dan beraqidah, kalian tidak memiliki sandaran dalam kejantanan dan keberanian. Kalian masih saja berperang dari belakang dinding, permusuhan diantara kalian sendiri sangatlah hebat.

Sesungguhnya sifat-sifat buruk kalian sangatlah banyak, diantara suka berkhianat, menipu, menebarkan fitnah, menyalakan api peperangan, berjalan di muka bumi dengan membawa kerusakan. Setiap kalian menyalakan api peperangan, maka Allah pun memadamkannya.

Sesungguhnya sejarah kalian kelam dan hal itu merupakan perkara yang telah diketahui oleh seluruh umat hal itu dari kalian.

Maka untuk umat ini, saya menyatakan –dan dinyatakan pula oleh setiap muslim yang jujur- (wahai Yahudi), jangan kalian sombong dan congkak, jangan kalian terpesona dengan apa yang kalian peroleh dari kemenangan palsu. Sesungguhnya kalian –demi Allah- tidak akan menang menghadapi tentara Muhammad Shallallahu 'Alaihi Wasallam dan yang berada di atas aqidah Muhammad Shallallahu 'Alaihi Wasallam, yaitu aqidah tauhid “LAA ILAAHA ILLALLAH”.

Kalian tidak pernah menang melawan pasukan yang dipimpin oleh orang semisal Khalid bin Al-Walid, Abu Ubaidah bin Al-Jarrah, Sa’ad bin Abi Waqqash, ’Amr bin Al-‘Ash, Nu’man bin Muqorrin, serta mereka yang terdidik di atas aqidah Muhammad Shallallahu 'Alaihi wa Sallam dan manhaj Muhammad Shallallahu 'Alaihi wa Sallam. Mereka mendidik pasukan mereka di atas perkara tersebut. Mereka menuntun pasukannya untuk menegakkan kalimat Allah, tidak ada yang mampu menghadapi mereka dari pasukan yang lebih kuat dari kalian, termasuk pasukannya kaum Persia dan Romawi.

Kalian (Yahudi) tidak akan menang melawan pasukan yang demikian keadaannya, ini aqidahnya, ini manhajnya dan tujuannya adalah menegakkan kalimat Allah. Kalian hanya dapat menang melawan pasukan yang terbelakang:

فَخَلَفَ مِن بَعْدِهِمْ خَلْفٌ أَضَاعُوا الصَّلَاةَ وَاتَّبَعُوا الشَّهَوَاتِ فَسَوْفَ يَلْقَوْنَ غَيًّا

59. Maka datanglah sesudah mereka, pengganti (yang jelek) yang menyia-nyiakan shalat dan memperturutkan hawa nafsunya, maka mereka kelak akan menemui kesesatan” (QS Maryam:59)

Kalian dapat menang melawan pasukan yang mayoritasnya tidak beraqidah seperti aqidahnya Muhammad, para shahabatnya, tidak pula berada di atas manhaj Muhammad dan bala tentaranya. Dan bukan pula dengan tujuan (untuk menegakkan kalimat-Nya) yang dengannya mereka berjihad.

Terhadap mereka - yang bagaikan buih - inilah kalian dapat menang. Disebabkan kelalaian dan kekalahan mereka, maka tegaklah negara kalian, lantas kalian menjadi congkak di muka bumi dan kalian menyebarkan kerusakan:

وَقَضَيْنَا إِلَى بَنِي إِسْرَائِيلَ فِي الْكِتَابِ لَتُفْسِدُنَّ فِي الأَرْضِ مَرَّتَيْنِ وَلَتَعْلُنَّ عُلُوًّا كَبِيرًافَإِذَا جَاء وَعْدُ أُولاهُمَا بَعَثْنَا عَلَيْكُمْ عِبَادًا لَّنَا أُوْلِي بَأْسٍ شَدِيدٍ فَجَاسُواْ خِلاَلَ الدِّيَارِ وَكَانَ وَعْدًا مَّفْعُولاًثُمَّ رَدَدْنَا لَكُمُ الْكَرَّةَ عَلَيْهِمْ وَأَمْدَدْنَاكُم بِأَمْوَالٍ وَبَنِينَ وَجَعَلْنَاكُمْ أَكْثَرَ نَفِيرًاإِنْ أَحْسَنتُمْ أَحْسَنتُمْ لِأَنفُسِكُمْ وَإِنْ أَسَأْتُمْ فَلَهَا فَإِذَا جَاء وَعْدُ الآخِرَةِ لِيَسُوؤُواْ وُجُوهَكُمْ وَلِيَدْخُلُواْ الْمَسْجِدَ كَمَا دَخَلُوهُ أَوَّلَ مَرَّةٍ وَلِيُتَبِّرُواْ مَا عَلَوْاْ تَتْبِيرًا

4. Dan telah Kami tetapkan terhadap Bani Israil dalam Kitab itu: "Sesungguhnya kamu akan membuat kerusakan di muka bumi ini dua kali dan pasti kamu akan menyombongkan diri dengan kesombongan yang besar".
5. Maka apabila datang saat hukuman bagi (kejahatan) pertama dari kedua (kejahatan) itu, Kami datangkan kepadamu hamba-hamba Kami yang mempunyai kekuatan yang besar, lalu mereka merajalela di kampung-kampung dan itulah ketetapan yang pasti terlaksana.
6. Kemudian Kami berikan kepadamu giliran untuk mengalahkan mereka kembali dan kami membantumu dengan harta kekayaan dan anak-anak dan kami jadikan kamu kelompok yang lebih besar.
7. Jika kamu berbuat baik (berarti) kamu berbuat baik bagi dirimu sendiri dan jika kamu berbuat jahat, maka (kejahatan) itu bagi dirimu sendiri, dan apabila datang saat hukuman bagi (kejahatan) yang kedua, (Kami datangkan orang-orang lain) untuk menyuramkan muka-muka kamu dan mereka masuk ke dalam mesjid, sebagaimana musuh-musuhmu memasukinya pada kali pertama dan untuk membinasakan sehabis-habisnya apa saja yang mereka kuasai. (QS. Al-Isra’:4-7).

Inilah sejarah kalian dan demikianlah Allah memperlakukan kalian. Dan jika kekalahan masa lalu kalian di tangan kaum Majusi.Maka Insya Allah kalian akan mendapatkan kekalahan yang lebih besar di tangan pasukan Muhammad Shallallahu alaihi wasallam, pasukan Islam. Sebagaimana yang Allah janjikan terhadap kalian tentang hal itu, disebabkan kehinaan dan kerendahan kalian di sisi-Nya.

وَإِنْ عُدتُّمْ عُدْنَا وَجَعَلْنَا جَهَنَّمَ لِلْكَافِرِينَ حَصِيرًا

“Dan sekiranya kamu kembali kepada (kedurhakaan) niscaya kami kembali (mengazabmu) dan kami jadikan neraka Jahannam penjara bagi orang-orang yang tidak beriman.” (QS.Al-Isra’:8).

Kini kalian kembali dan akan kembali menghadapi kalian - kekuatan Allah yang super Hebat - yang Dia tidak akan mengingkari janjinya. Yakni melalui tangan-tangan dari pasukan Muhammad Shallallahu 'alaihi wassalam, bukan melalui tangan antek-antek kalian, bukan pula dari antek Barat yang Nashara dan materialistis.

Jangan kalian terpesona, jangan kalian congkak, demi Allah kalian tidak akan menang melawan Islam, pasukan Muhammad Shallallahu 'alaihi wassalam, Al-Faruq (Umar bin Khattab, pen), Khalid (bin Al-Walid) dan saudara-saudara mereka dari tentara Allah, tentara Islam.

Dan kepada seluruh kaum muslimin, baik pemerintah maupun rakyatnya, berbagai kelompok, partai, ulama dan para pemikir. Sampai kapan kalian selalu condong kepada kehidupan yang hina ini? Sampai kapan kalian hidup bagaikan buih? Sampai kapan...sampai kapan...sampai kapan?

Dimana para cendekia kalian? Dimana para ulama kalian? Dimana para pemikir kalian? Mana panglima ketentaraan kalian? Sungguh kalian telah mendirikan berbagai sekolah dan perguruan tinggi, lalu apa hasilnya?

Demi Allah, kalaulah sekiranya dibangun seper sepuluh dari sekolah dan perguruan tinggi ini di atas metode kenabian, baik aqidahnya, akhlaknya, penerapan syari’atnya secara bijaksana, niscaya hal itu akan menerangi dunia dengan cahaya Iman dan Tauhid. Maka akan hancurlah kegelapan kejahilan, syirik, bid’ah, sehingga musuh-musuh tidak akan menguasai kalian seperti keadaan ini.

Jikalau sebagian perguruan tinggi tegak di atas manhaj yang benar, lalu ada yang menyusup kedalamnya orang yang tidak menyukainya, sehingga merubah keadaan orang itu dan merubah pandangan kebanyakan orang yang telah belajar darinya. Hanya kepada Allah kita mengadu.

Bukankah dengan kejadian yang pahit ini mengharuskan kalian untuk mengoreksi kembali metode - yang diterapkan di sekolah dan perguruan tinggi kalian – tentang proses dan cara mendidik? Apakah telah tiba saatnya untuk memikirkan dengan penuh kesungguhan dalam merubah berbagai kondisi ini, melakukan perubahan secara total? Kemudian menegakkan metode Islam yang benar, yang bersumber dari Kitabullah dan Sunnah Rasul-Nya Shallallahu alaihi wasallam dan manhaj salafus shalih.Demi Allah, tidak akan menjadi baik akhir dari umat ini, kecuali dengan cara merujuk kepada baiknya generasi terdahulu.

Hendaklah kalian merubah metode pendidikan yang secara umum tidak memberikan hasil baik bagi kalian kecuali hanya buih. Lalu tegakkan sebagai penggantinya metode Robbani - yang tidak ada kebaikan, kemenangan dan kesuksesan bagi kalian di dunia dan di akhirat kecuali dengannya-. Jika kalian menghendaki untuk diri dan umat kalian mendapatkan kemenangan, kebaikan, pertolongan atas musuh-musuhNya, terkhusus atas kaum yang Allah telah campakkan kepada mereka kehinaan dan kerendahan.

Khusus kepada pemerintah Muslimin :
Sesungguhnya kalian memiliki tanggung jawab yang sangat besar:
Pertama: Hendaklah kalian komitmen dengan Kitabullah, Sunnah Rasul-Nya, jalannya para Khulafa Ar-Rosyidin dalam beraqidah, beribadah, berpolitik. Serta membimbing rakyat, mendidik mereka di atas hal tersebut. Dan wajib atas kalian –kewajiban dari Allah sebagai Rabb kalian- untuk membuang undang-undang (selain hukum Allah) yang menyebabkan kekalahan –demi Allah-. Bimbinglah umat kalian dalam seluruh aspek kehidupannya, baik agama maupun dunianya dengan Kitabullah dan Sunnah Rasul-Nya dan Khulafa’ Ar-Rosyidin.

Sesungguhnya kalian adalah hamba-hamba Allah dan kalian hidup di atas bumi milik-Nya dan kalian makan, minum dan berpakaian dari rezqi pemberian-Nya. Maka diantara hak-Nya atas kalian, yaitu kalian harus menyembah-Nya, bersyukur kepada-Nya dan merasa mulia dengan berpegang kepada agama dan syari’at-Nya. Lantas kalian komitmen dengannya dan memerintahkan hal itu kepada rakyat kalian, sehingga manusia berpegang di atas agama penguasa-penguasa kalian. Sesungguhnya Allah mencegah kejahatan melalui perantaraan penguasa lebih dari mencegahnya dengan Al-Qur’an, sebagaimana yang diucapkan oleh Khalifah Utsman.

Kedua: Hendaklah kalian membentuk pasukan Islam yang terdidik di atas Kitabullah dan Sunnah dan menjadikannya sebagai pondasi bagi pasukan Islam dan untuk mencapai tujuan dan target dari pasukan yang tegak di atas manhaj Muhammad Shallallahu 'alaihi wassalam
Wajib bagi kalian mendidiknya diatas aqidah, manhaj Muhammad Shallallahu alaihi wasallam, metode Al-Faruq, Khalid (bin Al-Walid) dan mendidiknya di atas tujuan yang telah ditentukan oleh Allah kepada Muhammad Shallallahu alaihi wasallam dan para shahabatnya, agar mereka menjadi tentara Allah dengan sebenar-benarnya. Disaat itulah mereka tidak akan terkalahkan:

وَإِنَّ جُندَنَا لَهُمُ الْغَالِبُونَ
“Dan Sesungguhnya tentara Kami Itulah yang pasti menang”.
(QS As-Shoffat:173)

Bukanlah dengan tujuan duniawi dan dengan syi’ar jahiliyyah dari fanatisme suatu kaum atau negara atau daerah, atau bahkan yang lebih buruk dari itu. Sudah cukuplah bagi kalian –insya Allah- dan telah cukup pula bagi rakyat kalian apa yang telah menimpa kalian dan mereka dari penghinaan yang berasal dari umat yang paling hina dan rendah. Mereka menentang kalian, sombong dan congkak atas kalian. Demi Allah tidak ada yang mampu menolak berbagai tindak kejahatan dan kesombongan itu kecuali dengan berpegang teguh dengan Islam dan mendidik umat serta pasukan kalian di atas prinsip-prinsipnya, dasar-dasarnya, disertai dengan meninggalkan semua syi’ar, pemikiran dan aqidah yang menyebabkan umat merasakan kenyataan yang sangat pahit ini.

Kepada rakyat Palestina secara khusus:
Hendaklah rakyat ini mengetahui bahwa Palestina tidaklah dimenangkan kecuali dengan Islam, melalui tangan Al-Faruq milik Islam dan pasukan Islamnya di bawah bimbingan Al-Faruq. Tidaklah akan dapat dibebaskan (tanah Palestina) dari kotoran Yahudi kecuali dengan Islam yang benar pula, sebagaimana dimenangkannya melalui tangan Al-Faruq.

Kalian telah melakukan lemparan batu terhadap mereka dan aku tidak mengetahui ada rakyat yang memiliki kesabaran seperti kalian. Akan tetapi kebanyakan dari kalian tidak membawa aqidah yang dimiliki Al-Faruq, tidak pula manhajnya. Sekiranya jihad kalian ditegakkan di atas ini, maka akan terselesaikan problem kalian dan kalian akan mendapatkan pertolongan dan kemenangan.

Maka wajib atas kalian untuk menegakkan aqidah,manhaj dan jihad kalian di atas Kitabullah dan Sunnah Rasul-Nya dan berpegang teguh secara keseluruhan dengan tali Allah dan jangan kalian berpecah belah. Lakukan semua ini dengan kesungguhan dan ikhlas di masjid-masjid kalian, sekolah-sekolah, perguruan-perguruan tinggi. Bersikap jujurlah terhadap Allah dalam semua itu. Insya Allah pasti pertolongan akan datang untuk mengalahkan saudara-saudara monyet dan babi itu.

Sesungguhnya penduduk Syam yang muslim mendapatkan janji yang benar melalui lisan Hamba yang benar dan dibenarkan ,yaitu Rasulullah Shallallahu alaihi wasallam dimana mereka mendapatkan kemenangan melawan Yahudi dan Nashara. Maka singsingkanlah lengan kalian dengan penuh kesungguhan. Niscaya Allah akan mewujudkannya untuk kalian. Tanpa itu semua, kalian tidak akan mendapatkan hasil kecuali kegagalan dan kerugian. Dan tidak –demi Allah-, tidak akan bermanfaat bagi kalian adanya campur tangan Amerika dan tidak pula PBB ataupun fanatisme yang terkutuk terhadap suatu kaum,atau negara.

Maka bersegeralah menuju kepada sebab –sebab pertolongan yang hakiki. Cukuplah bagi kalian banyaknya pengalaman yang tidak membawa hasil dan tidak akan membawa hasil bagi kalian sedikitpun. Janganlah kalian seperti apa yang disebutkan dalam sebuah sya’ir:
“Bagaikan unta dipadang pasir yang mati kehausan
Sementara air dipikul diatas punggungnya”

“Ya ALLAH, kokohkanlah umat ini diatas petunjuk, sehingga mulia para penolong agamaMu dan menjadi hina musuh-musuhMu.
Ya allah, tinggikanlah kalimatMu dan agungkanlah agamaMu dan agungkanlah kaum muslimin.

Bimbinglah mereka menuju jalanMu. Sesungguhnya Engkau Maha Mendengarkan do’a.”

Ditulis oleh :
Rabi’ bin Hadi Umair Al-Madkhali
Pada tanggal 21-7-1421 H.

Berikut naskah asli dalam bahasa Arab:
-----------

بسم الله الرحمن الرحيم
إلى أمة الغضب الذين قال الله فيهم {فباءوا بغضب على غضب وللكافرين عذاب مهين } .
إلى أمة الذل والهوان الذين ضرب الله عليهم الذلة والمسكنة بكفرهم وقتلهم الأنبياء { ضربت عليهم الذلة أين ما ثقفوا إلا بحبل من الله وحبل من الناس وباؤا بغضب من الله وضربت عليهم المسكنة ذلك بأنهم كانوا يكفرون بآيات الله ويقتلون الأنبياء بغير حق ذلك بما عصوا وكانوا يعتدون }.
فهذه بعض صفاتكم التي استوجبتم بها الذلة والمسكنة والغضب من الله ولا تقوم لكم قائمة إلا بحبل من الله وحبل من الناس إلى يومنا هذا وإلى يوم القيامة .
فليس لكم سند من إيمان وعقيدة وليس لكم سند من رجولة وشجاعة فلا تزالون تقاتلون من وراء جدر بأسكم بينكم شديد ، إن أوصافكم الشنيعة لكثيرة جداً ومنها الخيانة والغدر وإثارة الفتن وتأجيج نار الحروب والسعي في الأرض بالفساد وكلما أوقدتم ناراً للحرب أطفأها الله ،وإن تأريخكم لأسود ومعروف ذلكم عنكم لدى الأمم جميعاً.
لهذه الأمة أقول ويقولها كل مسلم صادق لا تبطروا ولا تأشروا ولا تغتروا بما أحرزتموه من نصر مغشوش فإنكم والله ما انتصرتم على جيش محمد صلى الله عليه وسلم ولا على عقيدة محمد صلى الله عليه وسلم عقيدة التوحيد " لا إله إلا الله " ، لم تنتصروا على جيش يقوده أمثال خالد بن الوليد وأبي عبيدة بن الجراح وسعد بن أبي وقاص وعمرو بن العاص والنعمان بن مقرن ممن تربوا على عقيدة محمد صلى الله عليه وسلم ومنهج محمد صلى الله عليه وسلم ، وربوا جيوشهم على ذلك وقادوهم لإعلاء كلمة الله فلم يقف في وجههم من هم أشد منكم قوة وبأساً من جيوش الأكاسرة والقياصرة .
لم تنتصروا على جيش هذا حاله وهذه عقيدته وهذا منهجه وهذه غايته إعلاء كلمة الله . إنما انتصرتم على جيوش هي خلوف { فخلف من بعدهم خلف أضاعوا الصلاة واتبعوا الشهوات فسوف يلقون غياً } .
انتصرتم على جيش أكثرهم لا يعتقدون عقيدة محمد وأصحابه ولا منهج محمد وجنده ولا الغاية التي كانوا يجاهدون من أجلها.
على هؤلاء الغثاء انتصرتم وبسبب ضياعهم وفشلهم قامت دولتكم وعلوتم في الأرض وأشعتم بها الفساد } وقضينا إلى بني إسرائيل في الكتاب لتفسدن في الأرض مرتين ولتعلون علواً كبيراً* فإذا جاء وعد أولاهما بعثنا عليكم عباداً لنا أولي بأس شديد فجاسوا خلال الديار وكان وعداً مفعولا* ثم رددنا لكم الكرة عليهم وأمددناكم بأموال وبنين وجعلناكم أكثر نفيراً * إن أحسنتم أحسنتم لأنفسكم وإن أسأتم فلها فإذا جاء وعد الآخرة ليسوؤا وجوهكم وليدخلوا المسجد كما دخلوه أول مرة وليتبروا ما علوا تتبيراً {.
وهذا هو تأريخكم وهكذا يعاملكم الله ولئن كانت هذه قد مضت على أيدي المجوس فلكم إن شاء الله ما هو أشد منها على أيدي جيش محمد صلى الله عليه وسلم جيش الإسلام كما توعدكم الله بذلك لهوانكم عليه ولحقارتكم لديه {وإن عدتم عدنا وجعلنا جهنم للكافرين حصيراً }.
وهـأنتم عدتم وسيعود لكم بطش الله الشديد الذي لا يخلف الميعاد وعلى أيدي جيش محمد لا على أيدي أفراخكم وأفراخ الغرب النصراني والمادي .
لا تغتروا ولا تبطروا فوالله ما انتصرتم على الإسلام ولا على جيش محمد والفاروق وخالد وإخوانه من جنود الله وجنود الإسلام .
وإلى عموم المسلمين حكاماً ومحكومين طوائف وأحزاب وعلماء ومثقفين إلى متى تركنون إلى هذه الحياة الذليلة إلى متى تعيشون هذا الغثاء إلى متى وإلى متى وإلى متى فأين عقلاؤكم وأين علماؤكم وأين مثقفوكم وأين قاداتكم العسكريون .
لقد أنشأتم آلاف المدارس والجامعات فما هي ثمارها ؟ والله لو قام عشر معشار هذه المدارس والجامعات على منهاج النبوة عقيدة وأخلاقاً وتشريعا حكيماً لأضاءت الدنيا بنور الإيمان والتوحيد ولتبددت ظلمات الجهل والشرك والبدع ولما تسلط عليكم الأعداء هذا التسلط وإن قامت بعض الجامعات على المنهج الحق تسلل إليها من لا يحب هذا المنهج فأثر في مسارها وغير وجهة كثير من منسوبيها فإلى الله المشتكى
ألا يحتم عليكم هذا الواقع المرير إعادة النظر في مناهج مدارسكم وجامعاتكم وأساليب تربيتكم هل آن الآوان للتفكير الجاد في تغيير هذه الأوضاع وقلبها رأساً على عقب وإقامة المناهج الإسلامية الصحيحة المستمدة من كتاب الله وسنة رسوله صلى الله عليه وسلم ومنهج السلف الصالح والله لا يصلح آخر هذه الأمة إلا بما صلح به أولها .
غيروا هذه المناهج التي لا تنتج لكم في الغالب إلا الغثاء وأقيموا على أنقاضها المنهج الرباني الذي لا صلاح ولا فلاح ولا نجاح لكم في الدنيا والآخرة إلا به إن كنتم تريدون لأنفسكم وأمتكم الفلاح والصلاح والنصر على الأعداء وعلى رأسهم من ضرب الله عليهم الذلة والمسكنة .
وإلى حكام المسلمين خاصة إن عليكم لمسؤلية عظيمة جداً جداً :
أولها :- إلتزامكم بكتاب الله وسنة رسوله وسيرة الخلفاء الراشدين في عقائدكم وعباداتكم وسياستكم وفي حمل رعاياكم وتربيتهم على كل ذلك وعليكم حتماً من الله ربكم أن تنبذوا القوانين – والله – الرجعية المتخلفة وسياسة أمتكم في جميع شؤون حياتها الدينية والدنيوية بكتاب الله وسنة رسوله وخلفائه الراشدين .
فإنكم عباد الله وعلى أرضه تعيشون ومن رزقه تأكلون وتشربون وتلبسون فمن حقه عليكم أن تعبدوه وأن تشكروه وأن تعتزوا بدينه وشرعه فتلتزمونه وتلزمون به شعوبكم ، والناس على دين ملوكهم وإن الله ليزع بالسلطان مالا يزع بالقرآن كما قال الخليفة الراشد عثمان .
ثانياً :- أن تكوِّنوا جيوشاً إسلامية تتربى على الكتاب والسنة وعلى أسس الجيش الإسلامي ولتحقيق غايات وأهداف الجيش المحمدي .
يجب أن تربوه على عقيدة ومنهج محمد صلى الله عليه وسلم والفاروق وخالد وأن تربوه على الغايات التي رسمها الله لمحمد وصحبه ليكونوا جند الله حقاً وحينئذٍ فلن يغلبوا {وإن جندنا لهم الغالبون } لا على غايات دنيوية وشعارات جاهلية من قومية ووطنية وإقليمية وما هو أسوأ من ذلك فقد كفاكم إن شاء الله وكفى شعوبكم ما نزل بكم وبهم من استخفاف أحط الأمم وأذلها وتحديها لكم وغطرستها وكبريائها وطغيانها عليكم والله لا يدفع هذه الشرور والكبرياء إلا بالاعتصام بالإسلام وتربية أمتكم وجيوشكم على أصوله ومبادئه مع إسقاط كل الشعارات والأفكار والعقائد التي آلت بالأمة إلى هذا الواقع المرير .
وإلى الشعب الفلسطيني خاصةً يجب أن يعلم هذا الشعب أن فلسطين ما فتحت إلا بالإسلام على يد فاروق الإسلام وجيوشه الإسلامية الفاروقية ولن تحرر من دنس اليهود إلا بالإسلام الحق الذي فتحت به على يد الفاروق .
ولقد ناضلتم كثيراً وكثيراً ولا أعرف شعباً صبر مثل صبركم ولكن كثيراً منكم لا يحمل عقيدة الفاروق ولا منهجه ولو قام جهادكم على هذا لحلت مشكلتكم وأحرزتم النصر والظفر فعليكم أن تقيموا عقائدكم ومناهجكم وجهادكم على كتاب الله وسنة رسوله وأن تعتصموا جميعاً بحبل الله ولا تفرقوا افعلوا كل هذا بجد وإخلاص في مساجدكم ومدارسكم وجامعاتكم واصدقوا الله في كل ذلك إن شاء الله -تحقيقاً- النصر المؤزر على إخوان القردة والخنازير .
وإن لأهل الشام المسلمين وعداً صادقاً على لسان الصادق المصدوق صلى الله عليه وسلم بالنصر على اليهود والنصارى فشمروا عن ساعد الجد ينجز لكم وعده وبدون ذلك فلن تحصلوا إلا على الخيبة والخسران فلا والله لا ينفعكم تدخل أمريكا ولا الأمم المتحدة ولا القومية ولا الوطنية المقيتة فالبدار البدار إلى أسباب النصر الحقيقي المؤزر فلقد كفتكم التجارب الكثيرة التي لم تغني ولن تغني عنكم شيئاً ولا تكونوا كما قيل :
كالعيس في البيداء يقتله الظمأ والماء فوق ظهورها محمول
اللهم أبرم لهذه الأمة أمر رشد يعز فيه أولياؤك ويذل فيه أعداؤك .
اللهم أعل كلمتك وأعز دينك وأعز به المسلمين .
وخذ بنواصيهم إليك وإليه إنك سميع الدعاء .
كتبه
ربيع بن هادي عمير المدخلي

في 21/7/1421 هـ

(Ditulis oleh Syaikh Rabi Ibn Hadi al Madkhali pada tanggal 21-7-1421 H. Diterjemahkan oleh Al Ustadz Abu Karimah Askari bin Jamal Al-Bugisi. Diambil dari situs www.sahab.net)

Fatwa Syaikh Al Luhaidan Tentang Libanon

Fatwa Syaikh Shalih bin Muhammad Al Luhaidan
Ketua Majlis Qadha' A'la (Saudi Arabia)

Penanya: "Syaikh, kami memiliki beberapa pertanyaan. Kami minta izin kepada Anda untuk menyebarkannya."
Pertama ada pertanyaan yang berbunyi :
"Kami mendengar di sebagian media adanya celaan kepada negeri kita ini (Saudi ) dan pemerintahnya, khususnya di akhir-akhir ini. Hal ini terjadi setelah (kejadian) Israel menyerang Libanon. Beberapa komentar sangat kelewatan hingga mereka menjadikan negara Saudi, Israel dan Amerika adalah satu kelompok. Semuanya kafir dan saling berwala' (berloyalitas).
Maka apa komentar anda, sebab kami mengetahui bagaimana pemerintah kami mencintai Islam dan kaum Muslimin? (Pemerintah kami) juga mendakwahkan Islam yang benar lagi murni, bahkan diantara mereka (pemerintah) dan para ulama saling memberi nasihat dan musyawarah dalam agama.

Maka jawab beliau:
Tuduhan mereka tersebut merupakan kekufuran. Yang mereka ucapkan tidak lain adalah dusta. Tidak diragukan lagi bahwa kerajaan Saudi Arabia adalah yang menjadi target untuk diganggu oleh Amerika…
Bukankah mereka telah menekan lembaga-lembaga sosial dan berambisi untuk menghentikan dan membekukan bantuan (kaum muslimin untuk muslimin).

(Amerika) menghalangi usaha-usaha baik mereka (Arab Saudi) –semoga Allah melenyapkan kepongahannya (Amerika) dan menghancurkan kekuatannya-. Bukankah mereka menuduh para pembesar (negeri ini) bahwa mereka mendanai terorisme?! Yaitu apa yang mereka salurkan berupa sedekah untuk orang-orang fakir dari kaum muslimin dan yang mereka perbantukan kepada yayasan-yayasan sosial dalam mengajarkan ilmu.

Maka yang mengatakan bahwa Saudi bersama Yahudi dan Amerika, tidak lain hal itu diucapkan oleh orang yang di hatinya ada kedengkian terhadap aqidah ini dan para pembawa serta pembelanya. Kedengkian-kedengkian itu hanya akan menjerumuskan pelakunya ke lembah kehinaan dan kejelekan.

Tidak diragukan lagi… bahwa di dunia Islam tidak ada negara yang bisa memberikan bantuan melalui badan-badan dan lembaga-lembaga sosial seperti yang dilakukan oleh negara ini , baik atas nama pemerintah ataupun pribadi.

Saya tidak suka kalau disebut "Israil (yang membantai-pent)", sebab Israil adalah nama lain dari Nabi Allah, Ya'qub alaihissalam.
Adapun mereka, (yang membantai), adalah famili para babi dan monyet…
Tidak diragukan lagi bahwa mereka adalah Yahudi, bukan Israil. Tapi mereka menggunakan nama itu. Kemudian menjadi kesalahan dari ummat ini, baik itu negara Islam atau yang menjadikan Islam sebagai simbolnya menamakan mereka dengan nama Israil.
Negara Yahudi menamakan dirinya dengan Israil, yakni di atas dasar keyahudian.
Dan tidak diragukan lagi bahwa setiap orang yang berakal di dunia ini, apakah dari Nashrani di Barat ataupun orang kafir di Timur, melainkan dia tahu bahwa Amerika sangat gigih untuk melecehkan dunia Islam - diantaranya termasuk Arab Saudi-.

Namun – dengan pertolongan Allah sajalah - dikarenakan kita berpegang teguh kepada agama kita yang benar dan kita menggigitnya - dengan gigi geraham kita - secara jujur, serta kita mengikhlaskan amal kita untuk Allah. Maka Allah menolong hamba-hambanya yang beriman. Tidak ada penyebab terlambat datangnya pertolongan Allah melainkan karena kehinaan hamba-hamba-Nya tersebut, yakni disaat mereka menyia-nyiakan agamanya.

Maka kita mohon kepada Allah agar menampakkan kekuasaan-Nya -dengan segera tanpa ditunda- atas Amerika yang akan membahagiakan kaum mukminin…Iya."

Penanya: "Jazakallahu khairan, Syaikh."

Ada penanya berkata:
"Syaikh Shalih bin Muhammad Al Luhaidan yang mulia, semoga Allah menjaga Anda dan membimbing Anda. Tidak tersamarkan atas Anda berbagai kondisi yang dialami kaum muslimin di dunia Islam, terjadi berbagai fitnah dan peperangan. Khususnya peperangan yang terjadi antara Yahudi dan kelompok Hizbullah yang merupakan kelompok Syi'ah di Libanon. Maka apa sikap seorang muslim terhadap peperangan ini?
Sebab kita mendengar adanya ajakan untuk berjihad bersama mereka dan mendo'akan kemenangan untuk mereka ketika qunut.
Kaum muslimin menjadi bingung terhadap hal ini. Maka apa pengarahan dari Anda?"

Jawab:
"Tidak diragukan lagi bahwa kelompok yang menamakan dirinya dengan Hizbullah (kelompok Allah-pent) adalah Hizbur Rafidhah (kelompok rafidhah). Dan Rafidhah telah diketahui (kesesatannya-pent) dan telah diketahuinya (sesatnya) manhaj metode mereka. Hakikat mereka adalah mereka menganggap mayoritas Ahlus Sunnah…(bahwa-pent) semua Ahlus Sunnah adalah orang kafir. Inilah mereka dan perkara ini tidaklah samar bagi orang yang menelaah buku-buku mereka.

Maka kita berlindung kepada Allah, jika kebenaran menolong dan membela mereka serta membantu mereka, hal itu akan membuat mereka semakin kuat. (Ingatlah) mereka bagian dari Iran. Tidak ragu lagi (benarnya-pent). Hanya saja ucapan pemimpin Mesir, bahwa Syi'ah yang ada di negara itu berbeda dengan Iran. Sesungguhnya kecondongan dan Iman mereka bersama Iran.

Namun manusia jika mereka ditimpa musibah, hendaknya mereka berusaha untuk mengobatinya dengan apa yang tepat dijadikan sebagai obat berbagai kondisi tersebut.

Adapun apa yang menimpa Libanon secara umum, kalau tidak bisa dikatakan semua, dalangnya adalah kelompok ini. Mereka yang menamakan dirinya dengan kelompok Allah (Hizbullah), sebenarnya mereka adalah Hizbusy Syaithon (Kelompok/Partai Setan) ! Sekian.


Transkrip dalam bahasa Arab
----------------------------------------------------------------------------------كلام الشيخ حفظه الله ورعاه

يقول السائل : نسمع في بعض الوسائل الإعلامية حملة شرسة على هذه البلاد وحكومتها وخاصة في هذا الأيام وبعد هجوم إسرائيل على لبنان ، بلغ ببعض المتكلمين إلى أن جعل السعودية وإسرائيل وأمريكا شيء واحد كلهم كفرة يوالي بعضهم بعضا . فما قول سماحتكم ، لا سيما ونحن نعلم ما عليه حكومتنا من حب للإسلام والمسلمين ، وما هي عليه من دعوة للإسلام الصحيح الصافي وما بينهم وبين علمائنا من تناصح وتشاور في الدين ؟
فـأجاب حفظه الله :
الكفر كلمة تخرج من أفواههم إن يقولون إلا كذبا لاشك أن المملكة العربية السعودية مقصودة بالإيذاء من أمريكا ، ألم يحملوا على جمعيات الخير ويحرصوا على إيقاف مدد ومد الإحسان من المملكة ويتعرضوا في أروقتهم العالية نزل الله علوها وهدم أسوارها ، ألم يتكلمون على كبار .....بأنهم يدعمون الإرهاب ، يعني ما يبذلون من الصدقات لفقراء المسلمين وما يساعدون به الجمعيات الخيرية في التعليم .لا يقول هذا عن السعودية وأنها مع اليهود والكفار أيضا من الأمريكين إلا من في قلبه حقد على العقيدة وحامليها والمدافعين عنها ، والأحقاد تتبع أهلها للرذائل والقبائح . لاشك أن لا دولة في العالم تمد مراكز الخير وجمعيات الهداية والهدى كما تفعل المملكة من الحكومة ومن أفراد المملكة .
وأنا أكره أن يقال إسرائيل لأن إسرائيل نبي الله يعقوب ، أما هؤلاء فهم إخوان الخنازير والقردة , لاشك أنهم هم اليهود لكنهم ليسوا بإسرائيل وإنما سموا أنفسهم ثم إن هذه التسمية يعاب على الأمة الإسلامية أن تقول الدولة الإسلامية أو جعل علامتها أنها إسلامية ودولة اليهود يسمون إسرائيل يعني على أساس اليهودية ، لا يمكن في الدنيا كلها من عاقل لا من النصارى في الغرب ولا من الكفارأيضا في الشرق إلا ويعلم أن أمريكا تسعى جاهدة لإذلال العالم الإسلامي أجمع بما فيه السعودية ، ولكن بحول الله إن تمسكنا بديننا حقا وعضينا عليه بالنواجد صدقا وأخلصنا لربنا العمل فإن الله ناصر عباده المؤمنين ولا يتخلف نصره إلا بخذل العباد إذا فرطوا في دينهم .
فنسأل الله أن يرينا عاجل غير آجل في أمريكا ما يسر به المؤمنون . نعم .

السائل : جزاك الله خيرا فضيلة الشيخ يقول السائل فضيلة الشيخ صالح بن محمد اللحيدان حفظك الله ورعاك : لا يخفى على سماحتكم أوضاع المسلمين في العالم الإسلامي وما فيه من فتن وحروب وخاصة ما يدور بين اليهود وحزب الله المتمثل للفئة الشيعية في لبنان فما موقف المسلم من هذه الحرب ؟ نسمع من يدعو للجهاد معهم وآخر يدعو لهم في القنوت فأصبح المسلمون في حيرة من أمرهم ، فما رأي سماحتكم ؟
فأجاب حفظه الله :
لا شك أن ما يسمى بحزب الله هو حزب رافضي ، والرافضة معلومون ومعروف منهجهم ، حقيقتهم أنهم يرون عامة أهل السنة ، جميع أهل السنة كفار وهذا شيء غير خاف على من اطلع على كتبهم ، فمعاذ الله أن يكون الحق بشد أزرهم ومناصرتهم وإمدادهم بما يقوي شوكتهم ، هو جزء من إيران ولاشك ، إنما قولة رئيس مصر أن الشيعة في البلاد من غير إيران ، إنما هواهم وميلهم ، إنما إيمانهم مع إيران لكن الناس إذا ابتلوا يسعون إلى معالجة الوضع على وفق ما يمكن أن تعالج عليه الأوضاع ، جل أفراد لبنان إن لم يكن كلهم سببه هذا الحزب الذي يسمى حزب الله وهو حزب الشيطان
انتهى كلامه حفظه الله
----------------------------------------------------------------------------------

(Fatwa ini adalah kutipan fatwa suara syaikh Shalih Al Luhaidan ketika menjawab dua pertanyaan saat Daurah Imam Abdul Aziz bin Abdillah bin Baz rahimahullah. URL Sumber http://www.sahab.net/forums/showthread.php?t=337317. Fatwa ini diterjemahkan oleh Abu Mu’awiyah M.Ali bin Ismail al Medani)

Friday, August 04, 2006

Daurah Masyaikh

بسم الله الرحمن الرحيم

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته

الحمد لله، والصلاة والسلام على رسول الله وبعد


Kabar gembira, bagi ummat di Indonesia. Insya Allah, Panitia Pelaksana Daurah Ilmiyah Ahlus Sunnah wal Jama'ah se Indonesia di bawah naungan Yayasan Asy Syariah kembali mengadakan Daurah Ilmiyyah bersama masyayikh Jazirah Arab (Yaman dan Kuwait), diantaranya Asy Syaikh Abdullah ibn Umar al Mar'i (murid al 'Allamah Asy Syaikh Muqbil bin Hadi rahimahullah) dari Yaman, Dr. Abu Abdillah Khalid bin Dhohawi Adl Dlufairi dari Kuwait, yang dijadualkan pada bulan September 2006. Daurah dibuka untuk umum.


Tema :
- Sebab datangnya musibah
- Sikap Muslimin untuk menghadapi musibah
- Sikap Muslimin terhadap Pemerintah


Tempat : Masjid Agung Manunggal, Bantul


Waktu : Pukul 09.00 - selesai, tanggal 05-06 September 2006


Bahasa yang dipakai : Arab dan diterjemahkan ke bahasa Indonesia, Insya Allaah



Peserta : Umum / Laki-laki (Akhwat/Ummahat tele-link di Sewon, Sedan dan Veteran) *)



Klik disini untuk memperbesar





Penyelenggara Daurah :
Panitia Pelaksana Daurah Ilmiyah Ahlus Sunnah wal Jama'ah se Indonesia
Yayasan Asy Syariah
Alamat : Jl Godean Km 5, Gg Kenanga 26B, Patran RT 1/RW 1, Banyuraden, Gamping, Sleman DIY, Telp/Faks. (+62) (274) 626439. Email redaksi @ majalahsyariah.com, daurah @ salafy.or.id
Kontak Person : +62 274 626439, +62.274 7170587 +62 274 897733, +62 579 118 95, +62 328 098 074.


Insya Allah - daurah ini disiarkan langsung via Paltalk oleh account kami "salafiyyin" di Room Religious - Islam - salafiyyin. Petunjuk penggunaan Paltalk, simak di http://www.salafy.or.id/upload/paltalk.zip

Adapun donasi daurah dibuka kembali dengan rekening atas nama Hanafi, BCA KCP Muntilan 104 0274 291. Maka salafiyyin semuanya diharapkan ta'awun untuk mensukseskan daurah ini. Selengkapnya simak di http://www.salafy.or.id/modules/artikel2/artikel.php?id=1075. Demikian informasi yang dapat kami berikan.

والسلام عليكم ورحمة الله وبركاته


a/n Panitia Daurah
Redaksi Salafy.or.id
http://daurah.salafy.or.id

Keterangan : Panitia menyediakan tempat menginap, harap bawa perlengkapan tidur, akomodasi/konsumsi mandiri.

Petunjuk menuju lokasi :
1. Rute menuju lokasi dari Jakarta, Semarang, Surabaya, Solo via pesawat :
a. Menuju Bandara Adisutjipto, Jogjakarta b. Naik taksi/ojek/kendaraan ke terminal Giwangan, Jogjakarta c. Ikuti rute menuju lokasi Jogjakarta no 6
2. Rute menuju lokasi dari Jakarta, Surabaya, Solo via bus :
a. Turun di terminal Giwangan, Jogjakarta b. Ikuti rute menuju lokasi Jogjakarta no 6
3. Rute menuju lokasi dari Semarang via bus :
a. Turun di terminal Jombor, naik bus kota jurusan terminal Giwangan, Jogjakarta b. Ikuti rute menuju lokasi Jogjakarta no 6
4. Rute menuju lokasi dari Jakarta, Semarang, Surabaya, Solo via kereta api :
a. Menuju stasiun Tugu/Lempuyangan, Jogjakarta b. Naik bus kota menuju terminal Giwangan, Jogjakarta c. Ikuti rute menuju lokasi Jogjakarta no 6
5. Rute menuju lokasi dari Jakarta, Semarang, Surabaya, Solo via kendaraan pribadi :
a. Menuju ke kota Bantul sampai gapura kota Bantul b. Ikuti jalan sampai perempatan pertama (Klodran) c. Lokasi masjid Agung Manunggal, Bantul dari utara di sebelah kanan
6. Rute menuju lokasi dari Jogjakarta :
a. Dari terminal Jombor, ke terminal Giwangan Jogjakarta, naik bus Koperasi Abadi jurusan Bantul turun di perempatan Klodran (Masjid Agung Bantul) b. Dari terminal Giwangan Jogjakarta, naik bus Koperasi Abadi jurusan Bantul turun di perempatan Klodran (Masjid Agung Bantul) c. Dari arah Semarang turun di perempatan Dongkelan, naik bus Koperasi Abadi turun di perempatan Klodran (Masjid Agung Bantul)
*). Sewon, Alamat : Pondok Pesantren Ar-Ridho Al-Islami,
Jalan Parang Tritis Km 6, RT 6, RW 46, Dn Dagaran, Kel Bangunrejo, Kec. Sewon, Bantul. Telpon +62 274 7406120
Sedan, Alamat : Tarbiyatul Aulad Ibnu Taimiyyah, Jl. Palagan Tentara Pelajar, Sedan, alamat no 99 C RT 06/34, Dn Sedan, Ds. Sariharjo, Kec. Ngaglik, Sleman 55581. +62 815 681 3048, +62.274.7170587
Veteran, Alamat : Perum Veteran Tumbal Negoro, Dn Kencuran, Ds Sukoharjo, Kec. Ngaglik, Kab Sleman. +62 274 897733, +62 579 118 95, +62 328 098 074.